Pak Harto (52 tahun) membuka lemari tua di kamar belakang. Sudah setahun lebih sejak Ibu pergi untuk selama-lamanya, tapi barang-barangnya masih utuh seperti dulu. Tidak ada yang berani memindahkan.
Di dalam lemari itu, ada sebuah kotak kayu kecil berwarna cokelat tua, sudah kusam dimakan usia. Dengan tangan gemetar, ia membukanya. Di dalamnya ada setumpuk surat, diikat dengan karet gelang yang sudah getas.
Pak Harto mengambil satu per satu. Semua surat itu adalah surat-surat yang ia kirim untuk Ibu selama ia merantau di Jakarta, 25 tahun yang lalu.
Ya, 25 tahun lalu Pak Harto pergi merantau ke Jakarta. Waktu itu ia baru lulus SMA, penuh mimpi dan semangat. Ibu menangis di pintu stasiun, tetapi tetap tersenyum sambil berkata, "Pergilah, Nak. Kejarlah mimpimu. Ibu di sini akan selalu mendoakanmu."
Pak Harto ingat, tiga tahun pertama ia rajin mengirim surat. Bercerita tentang kerasnya hidup di ibu kota, tentang teman-teman barunya, tentang bos yang galak, dan tentang makan mie instan setiap hari.
Ibu selalu membalasnya. Setiap surat Ibu selalu diakhiri dengan kalimat yang sama: "Jaga kesehatan, Nak. Ibu bangga padamu."
Lalu waktu berjalan. Pak Harto mulai sibuk. Ia dapat pekerjaan tetap, lalu naik jabatan, lalu menikah, lalu punya anak. Surat-suratnya mulai jarang. Lalu berhenti sama sekali.
Telepon pun hanya sebulan sekali, itupun sering terputus karena sinyal atau karena "ada rapat", "ada meeting", "lagi sibuk banget, Ma."
—
Pak Harto tersentak ketika melihat satu amplop di bagian paling bawah.
Amplop itu tidak dikirimkan lewat pos. Tidak ada perangko.
Di atasnya, tulisan tangan Ibu yang sudah tidak terlalu rapi karena usianya yang sudah renta:
"UNTUK HARTONO — JIKA SUAT HARI NANTI IBU TIADA"
Pak Harto merasa dadanya sesak.
Ia membuka amplop itu perlahan, seolah-olah amplop itu terbuat dari kaca yang paling rapuh di dunia. Di dalamnya ada selembar kertas folio bergaris, sudah menguning. Tinta biru yang sudah mulai pudar.
*"Nak Hartono...*
*Kalau Ibu sudah tiada nanti, Ibu ingin kamu tahu satu hal:*
*Ibu tidak pernah menyesal menjadi ibumu.*
*Ibu tidak pernah menyesal menjual kambing satu-satunya untuk membayar uang pendaftaran SMA-mu.*
*Ibu tidak pernah menyesal begadang semalaman menjahit baju tetangga hanya untuk mengirimimu uang saku.*
*Ibu tidak pernah menyesal makan nasi garam setiap hari, asal kamu bisa makan enak di rantau.*
*Ibu hanya menyesali satu hal, Nak...*
*Bahwa Ibu tidak bisa melihatmu lebih lama lagi di dunia ini.*
*Ibu ingin melihat cucu-cucu Ibu tumbuh besar.*
*Ibu ingin melihat kamu tersenyum tanpa beban.*
*Ibu ingin memasak sayur asem kesukaanmu satu kali lagi.*
*Ibu ingin memelukmu, memelukmu erat, dan tidak melepaskanmu.*
*Tapi mungkin ini sudah yang terbaik. Ibu sudah lelah, Nak.*
*Doa Ibu setiap malam hanya satu: Semoga kamu bahagia di dunia dan akhirat.*
*Jangan menangis untuk Ibu. Ibu sudah tenang di sisi Allah.*
*Yang Ibu minta hanya satu hal:*
*Jangan pernah merasa terlambat untuk pulang.*
*Jangan seperti Ibu... yang sudah terlambat untuk menunggumu pulang.*
*— Ibu tercinta, yang selalu menunggumu di pintu*"
—
Pak Harto tidak bisa menahan air matanya.
Ia terjatuh berlutut di samping lemari tua itu. Tangannya menggenggam erat surat Ibu, seolah-olah ia sedang memegang tangan Ibu untuk yang terakhir kalinya.
Ia ingat terakhir kali ia pulang, setahun sebelum Ibu meninggal. Ibu sudah terbaring lemah di rumah sakit. Pak Harto hanya bisa diam di samping ranjang, sambil memegang tangan Ibu yang kurus dan keriput.
Maaf, Bu. Maaf, Harto jarang pulang.
Maaf, Harto sibuk mengejar dunia yang ternyata tidak kemana-mana.
Maaf, Harto tidak ada saat Ibu pergi.
Maaf, Harto tidak sempat mengucapkan sayang.
—
Teman-teman...
Pesan dari cerita ini:
Kita selalu berpikir akan ada "nanti". Nanti pulang. Nanti telepon. Nanti minta maaf. Nanti bilang sayang.
Tapi hidup tidak memberi kita jaminan "nanti".
Jika ibu atau ayahmu masih ada di dunia ini, teleponlah mereka sekarang. Tidak perlu menunggu hari Minggu, tidak perlu menunggu gajian, tidak perlu menunggu momen spesial. Cukup dengar suara mereka, tanyakan kabar mereka, dan katakan bahwa kamu sayang mereka.
Karena satu hari nanti, satu-satunya yang tersisa hanyalah surat di dalam lemari, dan penyesalan yang tidak pernah bisa diulang.
Jangan sampai itu terjadi padamu.
—
"Jangan seperti Ibu... yang sudah terlambat untuk menunggumu pulang."
Pergilah. Telepon ibumu sekarang. Jangan nanti. ![]()
![]()