Teman Imajiner untuk Ibu

Image source : AI Generated

Bintang (12 tahun) duduk di lantai ruang tamu, memegang buku gambar yang sudah usang. Di hadapannya, Ibu Rina (37 tahun) duduk di kursi kayu dengan tatapan kosong. Matanya sayu, rambutnya acak-acakan, dan tubuhnya kurus kering — seperti orang yang sudah lama tidak makan dengan layak. Sudah dua tahun sejak ayah pergi meninggalkan mereka. Dua tahun sejak Ibu berubah menjadi seperti ini.

Bintang masih ingat betul hari itu. Ayah pulang larut malam, mengambil koper, dan berkata singkat: "Ma, Bapak pergi. Jangan cari Bapak." Tidak ada pertengkaran. Tidak ada teriakan. Hanya pintu yang dibanting, dan suara mesin mobil yang menjauh. Sejak malam itu, Ibu tidak pernah lagi menjadi Ibu yang dulu.

Dulu, Ibu adalah pemandu wisata. Ia tahu seribu cerita tentang tempat-tempat indah di Indonesia. Setiap malam, sebelum tidur, Ibu bercerita tentang Raja Ampat yang airnya sebening kristal. Tentang Danau Toba yang dikelilingi bukit hijau. Tentang bunyi ombak di Pantai Parangtritis. Bintang kecil akan terpejam sambil membayangkan tempat-tempat itu, dan ia selalu bermimpi indah.

Tapi kini, Ibu hanya duduk diam. Kadang ia tidak mau makan selama dua hari. Kadang ia menangis tanpa suara di kamar mandi. Pernah Bu RT datang menawarkan bantuan, tapi Ibu hanya menggeleng dan menutup pintu. Bintang kecil, yang baru duduk di kelas 6 SD, harus belajar menjadi orang dewasa dalam semalam.

Setiap pagi, Bintang bangun lebih dulu sebelum alarm berbunyi. Ia memasak nasi — meskipun kadang terlalu lembek atau terlalu keras. Ia menggoreng telur atau tempe, lalu menyajikannya di atas meja. Ibu biasanya hanya duduk, menatap makanan itu tanpa menyentuhnya. "Bu, makan ya. Biar kuat," kata Bintang dengan suara ceria yang dipaksakan. Ibu tidak menjawab. Tapi kadang, ia mengambil sesendok nasi dan mengunyah perlahan. Itu sudah cukup bagi Bintang.

Sepulang sekolah, Bintang langsung pulang. Ia tidak pernah bermain bersama teman-temannya. Bukan karena tidak mau, tapi karena ia khawatir. Khawatir Ibu melakukan sesuatu yang buruk sendirian di rumah. Setiap kali ia membuka pintu, jantungnya berdegup kencang — takut menemukan Ibu dalam keadaan yang lebih buruk.

Suatu sore, saat Bintang pulang, ia mendapati Ibu duduk di lantai kamar, memeluk album foto lama. Album itu berisi foto-foto saat mereka bertiga masih utuh — Ibu tersenyum lebar, Ayah memeluk Ibu dari belakang, dan Bintang kecil duduk di pangkuan Ayah. Ibu menangis diam-diam, air matanya jatuh di atas foto yang sudah mulai menguning.

"Bu... jangan nangis, ya," bisik Bintang, duduk di samping Ibu. Ia memeluk ibunya yang kurus. "Bintang di sini. Bintang nggak akan pergi."

Ibu tidak menjawab. Tapi tangannya — yang kurus dan dingin — meraih tangan Bintang dan menggenggamnya erat.

Malam itu, Bintang tidak bisa tidur. Ia memikirkan Ibu. Ia memikirkan bagaimana cara membuat Ibu tersenyum lagi. Dulu, Ibu suka bercerita tentang tempat-tempat wisata. Tapi Bintang tidak punya uang untuk mengajak Ibu jalan-jalan. Uang tabungan peninggalan Ayah sudah hampir habis untuk biaya hidup sehari-hari.

Lalu Bintang melihat buku gambar dan krayon 12 warna pemberian Bu Guru di laci mejanya. Sebuah ide muncul di kepalanya. Ide yang mungkin terdengar konyol, tapi tidak ada salahnya dicoba.

Keesokan paginya, sepulang sekolah, Bintang duduk di lantai ruang tamu. Ia membuka buku gambar dan mulai menggambar. Dengan krayon warna-warni, ia menggambar pantai dengan pasir putih, air biru jernih, dan pohon kelapa yang melambai ditiup angin. Gambarnya tidak bagus — masih kaku, seperti gambar anak SD pada umumnya. Tapi Bintang tidak peduli. Ia menyelesaikan gambarnya dengan penuh semangat.

Lalu ia berlari ke kamar Ibu. "Bu... Bu, lihat! Bintang ajak Ibu jalan-jalan!"

Ibu menatapnya dengan tatapan kosong. Bintang tidak menyerah. Ia meraih tangan Ibu dan membawanya ke ruang tamu. Di sana, di lantai, ia meletakkan gambar pantai buatannya. "Ini, Bu. Ini Pantai Parangtritis, kan? Yang dulu Ibu ceritain. Bintang gambar biar Ibu ingat. Ayo, Bu, kita jalan-jalan ke sini!"

Ibu menatap gambar itu. Matanya — yang biasanya kosong — mulai berkedip. Ia menunduk, menatap gambar buatan Bintang lebih lama. Lalu, sesuatu yang ajaib terjadi. Sudut bibir Ibu naik. Hanya sedikit. Tapi itu adalah senyum pertama yang Bintang lihat dalam dua tahun terakhir.

Sejak hari itu, Bintang menggambar setiap hari. Setiap selesai mengerjakan PR, ia akan membuka buku gambarnya dan membuat tempat baru. Hari ini Danau Toba. Besok Raja Ampat. Lusa Candi Borobudur. Ia mencari referensi dari buku pelajaran dan dari perpustakaan sekolah. Gambarnya memang tidak bagus — kadang pohonnya miring, kadang ombaknya seperti gunung. Tapi Bintang tidak pernah menyerah.

Setiap selesai menggambar, ia akan mengajak Ibu duduk di lantai dan "berwisata" ke tempat-tempat dalam gambar itu. Ia akan bercerita — persis seperti yang dulu Ibu lakukan padanya. "Bu, ini Raja Ampat. Kata guru Bintang, airnya jernih banget, bisa lihat ikan-ikan warna-warni. Suatu hari nanti, Bintang ajak Ibu beneran ke sini. Bintang janji."

Ibu akan mendengarkan. Kadang ia tersenyum. Kadang ia mengangguk. Kadang — yang paling membuat Bintang bahagia — ia berkata, "Ibu ingat... tempat itu."

Perlahan, perubahan mulai terlihat. Ibu mulai mau makan lebih banyak. Ia mulai mandi tanpa harus diingatkan. Kadang ia bahkan menyisir rambutnya sendiri. Bintang tidak pernah berhenti menggambar. Setiap malam, ia membuat gambar baru, dan setiap malam, Ibu dan Bintang "bepergian" bersama.

Suatu Minggu pagi, Bu RT datang berkunjung. Ia terkejut melihat perubahan yang terjadi pada Ibu Rina. "Rina, kamu kelihatan lebih sehat. Ada apa?" tanya Bu RT.

Ibu menatap Bintang yang sedang asyik menggambar di sudut ruangan. "Bintang... Bintang yang sembuhin Ibu," jawab Ibu lirih. "Dia ajak Ibu ke tempat-tempat yang indah. Lewat gambar-gambarnya."

Bu RT menatap Bintang. Matanya berkaca-kaca. "Bintang, kamu anak yang hebat, Nak."

Bintang tersenyum malu-malu. "Bintang cuma mau Ibu senang lagi, Bu."

Bu RT keluar dari rumah itu dengan perasaan haru. Ia menceritakan kisah Bintang pada tetangga-tetangganya. Kabar tentang Bintang menyebar. Seorang psikolog dari puskesmas — yang kebetulan adalah kenalan Bu RT — mendengar cerita itu dan datang menawarkan bantuan. "Ibu Rina butuh terapi profesional. Tapi yang sudah Bintang lakukan... itu luar biasa. Bintang sudah menjadi 'obat' pertama yang paling penting untuk ibunya," kata psikolog itu.

Ibu Rina mulai menjalani terapi rutin di puskesmas. Dua kali seminggu. Bintang selalu menemani. Setelah sesi terapi, pulang ke rumah, Bintang akan menggambar lagi. Kini ia tidak hanya menggambar tempat-tempat wisata. Ia juga menggambar Ibu yang tersenyum. Menggambar mereka berdua yang sedang makan bersama. Menggambar masa depan yang cerah.

Suatu malam, saat Bintang sedang asyik menggambar, Ibu duduk di sampingnya. Ibu memegang tangan Bintang yang sedang memegang krayon. "Nak... Ibu mau minta maaf," bisik Ibu. Suaranya bergetar. "Maaf Ibu jadi beban buat kamu. Maaf Ibu lemah. Maaf Ibu lupa bahwa Ibu masih punya kamu."

Bintang memeluk Ibu. "Ibu bukan beban. Ibu Ibu Bintang. Dan Bintang sayang Ibu."

Ibu menangis di pelukan Bintang. Tapi tangis ini berbeda. Bukan tangis putus asa. Tapi tangis syukur. Tangis kesembuhan. Karena perlahan, setelah dua tahun terpuruk dalam kegelapan, Ibu mulai melihat cahaya lagi. Dan cahaya itu datang dari seorang anak laki-laki berusia 12 tahun, yang tidak punya apa-apa selain buku gambar dan krayon 12 warna.

Setahun kemudian.

Ibu Rina sudah kembali bekerja. Ia tidak lagi menjadi pemandu wisata — fisiknya masih terlalu lemah untuk itu. Tapi ia menjadi penulis lepas untuk sebuah blog perjalanan. Setiap artikel yang ia tulis, ia selalu menyertakan ilustrasi — gambar-gambar buatan Bintang yang kini sudah jauh lebih bagus dari setahun lalu.

Bintang duduk di kelas 1 SMP. Ia tetap rajin menggambar. Tapi kini ia tidak perlu menggambar untuk menghibur Ibu. Ibu sudah tersenyum setiap hari. Saat Bintang pulang sekolah, Ibu sudah menunggu di pintu dengan senyum dan masakan hangat. Rumah yang dulu sunyi dan dingin, kini penuh dengan tawa dan aroma makanan.

Suatu hari, Bu RT datang dengan sebuah kotak besar. "Ini untuk Bintang. Dari tetangga-tetangga yang terharu dengan kisahmu," katanya.

Bintang membuka kotak itu. Di dalamnya, ada satu set peralatan menggambar profesional — cat air, kuas, buku gambar ukuran besar, dan pensil warna 48 warna. Bintang memeluk kotak itu erat-erat. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menunduk dan menangis.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Bintang menggambar dengan peralatan barunya. Ia menggambar seorang ibu dan anak laki-laki yang sedang duduk di bawah pohon beringin besar, memandangi lautan yang biru. Di bawah gambar itu, ia menulis: "Untuk Ibu, yang tidak pernah berhenti Bintang cintai."

Pertemuan orang tua murid di sekolah Bintang. Ibu Rina datang dengan pakaian rapi — untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Wali kelas Bintang — Bu Dewi — menyambutnya dengan hangat. "Bu Rina, Bintang adalah murid yang luar biasa. Ia tidak hanya pintar, tapi juga memiliki empati yang tinggi. Teman-temannya sangat menyukainya."

Ibu Rina tersenyum. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Bu. Bintang... Bintang memang anak yang luar biasa."

Setelah pertemuan, Ibu dan Bintang berjalan pulang berdua. Di bawah lampu jalan yang temaram, Ibu memegang tangan Bintang. "Nak, Ibu bangga sama kamu. Ibu bangga sekali."

Bintang tersenyum. "Bintang juga bangga sama Ibu. Ibu sudah kuat banget."

Mereka berjalan bersama di malam yang dingin. Tidak ada mobil mewah. Tidak ada rumah megah. Tapi ada kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun. Kehangatan dua insan yang saling menyembuhkan. Seorang ibu yang jatuh, dan seorang anak yang mengangkatnya kembali — dengan buku gambar dan krayon 12 warna.

Terkadang, obat yang paling ampuh untuk luka terdalam bukanlah obat dari apotek. Bukan terapi dari psikolog. Tapi cinta sederhana dari seseorang yang tidak pernah menyerah pada kita. Bagi Ibu Rina, obat itu bernama Bintang — seorang anak kecil yang percaya bahwa menggambar pantai bisa membawa ibunya kembali ke dunia yang nyata.

Karena cinta seorang anak tidak mengenal lelah. Ia tidak menghitung. Ia tidak meminta balasan. Ia hanya terus menggambar — meskipun tangannya lelah, meskipun krayonnya hampir habis — karena ia percaya bahwa suatu hari nanti, ibunya akan tersenyum lagi. Dan ketika senyum itu akhirnya datang, semua gambar, semua air mata, semua perjuangan — semuanya terbayar lunas.

🌾 Tamat 🌾

We use cookies to improve your experience. By continuing to visit this site you agree to our use of cookies.

× Full Preview