Cincin Nikah di Laci Meja

Image source : AI Generated

Maya (32 tahun) duduk di tepi ranjang, memandangi kotak cincin di tangannya. Kotak beludru merah itu sudah usang, pinggirannya mulai terkelupas. Namun isinya masih sama — sepasang cincin nikah polos, tanpa permata, tanpa ukiran. Cincin yang 7 tahun lalu dipasangkan oleh penghulu di sebuah masjid kecil di pinggiran Jakarta.

Maya ingat betul hari itu. Ia dan Rama menikah dengan sederhana. Tidak ada resepsi mewah, tidak ada gedung megah. Yang ada hanya doa dari kedua orang tua dan sepiring nasi kuning buatan Ibu. Tapi Maya bahagia. Saat itu, ia yakin Rama adalah cinta sejatinya.

Tapi 7 tahun kemudian, Maya mulai meragukan keyakinan itu.

Belakangan ini, Rama pulang larut malam hampir setiap hari. Dulu ia selalu pulang maksimal jam setengah tujuh. Sekarang, jam sembilan, sepuluh, kadang bahkan lewat tengah malam. Badannya selalu kotor, pakaiannya lusuh, dan matanya — matanya tidak lagi menatap Maya seperti dulu.

"Bang, kok pulang telat lagi?" tanya Maya suatu malam.

Rama hanya menghela napas. "Lembur. Ada proyek." Jawaban singkat yang sudah menjadi rutinitas.

Lalu Maya mulai melihat tanda-tanda lain. Tabungan mereka yang dulu lumayan, kini menipis. Rekening bersama yang biasanya ia pegang, tiba-tiba berkurang drastis. Ketika Maya bertanya, Rama menjawab dengan nada kesal, "Ada kebutuhan. Jangan nanya melulu."

Yang paling menyakitkan, suatu Minggu sore, Maya tidak sengaja melihat Rama sedang berbincang dengan seorang wanita di sebuah kafe dekat kantornya. Wanita itu muda, berjilbab, dan tersenyum manis pada Rama. Rama terlihat serius, membuka map dan menunjukkan dokumen-dokumen. Wajahnya tidak bahagia — tapi ia tersenyum pada wanita itu.

Maya pulang dengan hati hancur. Ia tidak memberontak. Ia tidak bertanya. Ia hanya diam, memendam luka yang semakin hari semakin menganga. Setiap malam, ia berbaring di ranjang dengan punggung membelakangi Rama. Setiap pagi, ia bangun dengan perasaan hampa.

Maya bukan perempuan cengeng. Ia pernah bekerja sebagai staf administrasi di perusahaan swasta sebelum menikah. Namun setelah menikah, Rama memintanya berhenti. "Kita atur rumah tangga sama-sama. Kamu di rumah, Bang cari nafkah." Saat itu Maya setuju. Ia percaya pada Rama.

Kini, kepercayaan itu mulai goyah.

Maya ingin bekerja lagi. Tapi siapa yang mau mempekerjakan ibu rumah tangga 32 tahun dengan pengalaman kerja yang sudah 7 tahun usang? Ia sudah melamar ke beberapa tempat, tidak ada panggilan. Ia merasa terperangkap di rumahnya sendiri.

Setiap malam, ketika Rama pulang dan langsung tidur tanpa bicara, Maya duduk di ruang tamu yang gelap, menatap dinding kosong, dan bertanya pada dirinya sendiri: apakah ini yang namanya pernikahan?

Hingga suatu sore, Maya membereskan lemari kamar.

Di antara tumpukan kemeja Rama yang sudah lusuh, tangannya menyentuh sesuatu yang keras. Sebuah laci kecil — laci yang selalu terkunci, dan kuncinya selalu dibawa Rama ke mana-mana.

Tapi hari itu, secara kebetulan, laci itu tidak terkunci. Mungkin Rama lupa. Atau mungkin — entah — takdir ingin Maya tahu.

Maya membuka laci itu perlahan. Tangannya gemetar. Isinya tidak seperti yang ia kira. Bukan foto wanita lain. Bukan surat cinta dari orang ketiga. Bukan bukti perselingkuhan.

Isinya adalah setumpuk kertas. Struk pengeluaran, kwitansi, dan surat-surat rumah sakit.

Maya mengambil satu per satu. Matanya melebar saat membaca baris pertama sebuah kwitansi:

"Rumah Sakit Harapan Keluarga — Biaya Operasi Katarak — An. Supriyanto (62 tahun) — Total: Rp 8.500.000 — Lunas."

Supriyanto. Ayah Maya.

Tangannya gemetar. Ia meraih kwitansi lain:

"RS Harapan Keluarga — Biaya Rawat Inap — An. Supriyanto — 14 hari — Rp 6.200.000."

Maya duduk di lantai. Kakinya lemas. Ia teringat bahwa ayahnya memang sempat dirawat karena katarak dan tekanan darah tinggi enam bulan lalu. Tapi saat itu Rama bilang, "Biayanya sudah ditanggung BPJS. Santai aja."

Maya percaya. Ia tidak pernah mengecek. Ayahnya sembuh total setelah operasi.

Ternyata... BPJS hanya menanggung sebagian. Kekurangannya — lebih dari 15 juta rupiah — ditanggung Rama diam-diam.

Di bawah tumpukan kwitansi, Maya menemukan sebuah amplop coklat.

Isinya: surat jual beli. Motor Yamaha Vixion — tahun 2018 — milik Rama — dijual seharga Rp 12.000.000.

Maya ingat. Motor itu adalah motor kesayangan Rama. Motor pertama yang ia beli dengan gaji pertamanya 10 tahun lalu. Setiap akhir pekan, Rama mengajak Maya jalan-jalan naik motor itu. Mereka berdua, tanpa helm cadangan karena hanya punya satu, berboncengan ke Puncak, ke Anyer, ke tempat-tempat sederhana yang menjadi kenangan terindah bagi Maya.

Setiap kali Maya bertanya, "Bang, motornya mana? Kok nggak kelihatan?" Rama selalu menjawab, "Ada di bengkel. Service."

Sudah 6 bulan motor itu tidak pernah kembali dari "bengkel".

Maya menjatuhkan diri di lantai. Rama menjual motor kesayangannya untuk membiayai operasi ayah mertua. Tanpa bilang. Tanpa mengeluh. Tanpa meminta imbalan.

Dan Maya — istrinya — selama 6 bulan ini mengira Rama berselingkuh. Selama 6 bulan ia memendam curiga dan dendam. Selama 6 bulan ia tidur membelakangi suaminya, sementara suaminya diam-diam berkorban lebih dari yang pernah ia bayangkan.

Maya mengambil ponselnya. Ia menelepon ibunya di kampung.

"Bu... operasi Bapak dulu, bayarnya pakai apa?"

Ibunya terdiam. Lalu menjawab dengan suara bergetar, "Kamu tidak tahu, Nak? Rama yang bayar. Ia datang ke sini, bawa amplop, bilang, 'Bu, ini untuk biaya operasi Bapak. Jangan bilang Maya. Biar saya saja yang tanggung.' Ibu pikir kamu tahu."

Maya menangis. "Bu, kenapa kalian diam saja? Kenapa tidak bilang?"

"Rama minta kami diam, Nak. Ia bilang kamu sedang stres karena belum juga punya momongan. Ia tidak ingin kamu tambah pusing mikirin biaya."

Maya terisak. Belum punya momongan. Ya, 7 tahun menikah, mereka belum dikaruniai anak. Maya sudah cek ke dokter. Tidak ada masalah berarti, hanya perlu waktu. Tapi setiap bulan, saat tamu bulanan datang, Maya selalu merasa gagal. Dan Rama — yang tidak pernah menuntut — selalu berkata, "Santai, kita nikmati dulu hidup berdua."

Malam itu, Maya menunggu Rama pulang. Bukan dengan hati kesal atau curiga. Tapi dengan hati yang hancur oleh rasa bersalah.

Rama pulang pukul setengah sepuluh. Wajahnya letih. Bajunya basah oleh keringat. Ia melepas sepatu tanpa suara, seperti biasa, berusaha tidak membangunkan Maya.

Tapi Maya sudah duduk di ruang tamu. Lampu temaram. Di tangannya, amplop-amplop bertebaran di meja.

Rama membeku.

Ia melihat surat jual beli motor. Ia melihat kwitansi rumah sakit. Ia melihat mata istrinya yang sembab.

"Ma... Maya... dengar, Bang bisa jelasin—"

Maya berlari dan memeluknya erat. "Bang... maafin Maya. Maya pikir... Maya pikir Bang selingkuh. Maya pikir Bang tidak sayang lagi. Tapi Bang malah... Bang jual motor kesayangan Bang buat Bapak..."

Rama terdiam. Ia membalas pelukan Maya. Keduanya menangis di ruang tamu apartemen kecil mereka. Tangis yang sudah lama tertahan, kini meledak tanpa bisa dibendung.

"Kenapa Bang tidak bilang? Kenapa Bang diam saja?" isak Maya.

Rama mengusap air mata istrinya. Tangannya kasar oleh kapalan — tangan yang selama ini bekerja lembur di bengkel tambahan, menjadi montir di akhir pekan, dan mengantar barang di malam hari — semuanya tanpa sepengetahuan Maya.

"Bang tidak ingin kamu khawatir, Sayang. Kamu sudah cukup stres dengan urusan kerja dan... dan urusan kita yang belum punya anak. Bang tidak ingin menambah bebanmu."

"Tapi motor itu... motor kesayangan Bang..."

Rama tersenyum getir. "Motor bisa dibeli lagi nanti. Tapi Bapak cuma satu. Dan Bang cuma punya satu ayah mertua yang sudah Bang anggap ayah Bang sendiri."

Malam itu, Maya dan Rama duduk di lantai ruang tamu, berbicara untuk pertama kalinya dalam hitungan bulan.

Rama bercerita tentang pekerjaannya yang sebenarnya. Ia sudah dipecat dari kantor 8 bulan lalu — perusahaannya bangkrut. Sejak itu, ia bekerja serabutan: montir di bengkel teman, kurir paket di malam hari, dan kadang jadi tukang bangunan kalau ada proyek. Ia tidak pernah bilang pada Maya karena malu. Karena ia adalah kepala keluarga yang seharusnya bisa memberi nafkah, tapi malah kehilangan pekerjaan.

Wanita yang Maya lihat di kafe itu adalah perawat dari rumah sakit — yang membantu Rama mengurus administrasi biaya operasi ayah Maya. Ia tersenyum pada Rama karena Rama adalah suami yang rela menjual motor untuk mertuanya. Bukan karena ada hubungan terlarang.

"Bang, Maya minta maaf. Maya sudah berpikir yang tidak-tidak. Maya sudah curiga sama Bang. Maya tidak percaya sama Bang."

Rama memegang tangan Maya. Tangannya yang kasar menggenggam jemari istrinya. "Bang juga minta maaf. Bang tidak jujur. Bang pilih diam. Bang pikir itu yang terbaik. Tapi Bang salah. Suami istri harusnya berdua. Susah senang bersama."

Maya menatap cincin di jari manisnya. Cincin polos yang dulu dipasang 7 tahun lalu. Cincin yang tidak pernah ia lepas. Cincin yang hari ini hampir ia lepas karena putus asa.

"Bang, kita mulai lagi dari awal, ya?" bisik Maya. "Maya janji: Maya tidak akan diam lagi kalau ada masalah. Maya akan percaya sama Bang. Dan Maya—"

Rama mengecup keningnya. "Bang juga janji. Bang tidak akan sembunyi-sembunyi lagi. Kita hadapi semua bersama."

Seminggu kemudian, Maya mendapat pekerjaan baru. Sebagai penjaga stan di sebuah toko buku — gajinya tidak besar, tapi cukup. Ia tidak ingin hanya diam di rumah. Ia ingin membantu Rama. Bersama-sama, mereka mulai menabung lagi.

Tiga bulan berselang, mereka berhasil membeli motor bekas — tidak sebagus Vixion, tapi cukup untuk transportasi. Setiap Minggu pagi, mereka berboncengan, berkeliling Jakarta dengan helm pinjaman, tertawa seperti 7 tahun lalu.

Hubungan mereka seperti tanaman yang baru disiram setelah musim kemarau panjang. Lambat tapi pasti, mulai berbunga lagi.

Suatu malam, saat Maya sedang membereskan kamar, ia membuka laci meja Rama. Bukan untuk mencari sesuatu. Hanya untuk memastikan bahwa tidak ada lagi rahasia di antara mereka.

Laci itu kosong. Hanya ada satu benda: kotak cincin beludru merah yang dulu menjadi saksi bahagia pernikahan mereka. Di dalamnya, selembar kertas kecil. Tulisan tangan Rama:

"Ma, ini cincin kita. Cincin yang 7 tahun lalu Bang pasang di jarimu. Cincin ini tidak mahal. Tapi Bang janji: cincin ini akan tetap melingkar di jarimu, dan cinta Bang akan tetap di hatimu, sampai kapan pun.

Makasih sudah bertahan, Ma. Makasih sudah memilih untuk percaya lagi.

— Bang yang tidak sempurna, tapi selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu."

Maya memeluk kertas itu. Ia tidak menangis. Ia hanya tersenyum. Karena untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir, ia yakin bahwa cinta sejati tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya butuh keberanian untuk dibicarakan, dan kepercayaan untuk dipulihkan.

Di luar, hujan turun membasahi Jakarta. Tapi di dalam apartemen kecil mereka, ada kehangatan yang tidak bisa dibasahi air hujan mana pun. Kehangatan dua insan yang baru saja menemukan kembali bahwa pernikahan bukan tentang siapa yang paling benar — tapi tentang siapa yang paling mau berjuang.

Cincin nikah di laci meja itu kini tidak lagi menjadi simbol keraguan. Ia kembali menjadi apa yang sejak awal ia simbolkan: janji suci dua hati yang saling mencinta, hingga maut memisahkan.

🌾 Tamat 🌾

Pesan dari cerita ini:

Jangan pernah menilai pasanganmu hanya dari apa yang terlihat di permukaan. Di balik diamnya, mungkin ada perjuangan yang tidak pernah ia ceritakan. Di balik lelahnya, mungkin ada pengorbanan yang tidak pernah ia ungkapkan. Dan di balik setiap kesalahpahaman, selalu ada cinta yang menunggu untuk ditemukan kembali.

We use cookies to improve your experience. By continuing to visit this site you agree to our use of cookies.

× Full Preview