Koin-Koin di Celengan Kaleng

Image source : AI Generated

Bima mengeluarkan celengan kaleng bekas biskuit dari bawah tempat tidurnya. Dengan hati-hati, ia membuka tutupnya dan menuangkan isinya ke atas tikar pandan. Koin-koin berhamburan — Rp 500, Rp 200, Rp 1.000. Beberapa lembar uang kertas lusuh ikut berhamburan.

Ia menghitung satu per satu. Matanya berbinar saat mencapai angka terakhir.

"Rp 825.500," bisiknya. Senyumnya melebar.

Sudah 11 bulan ia menabung. Setiap hari, ia menyisihkan uang jajannya. Kadang Rp 1.000, kadang Rp 2.000. Ia rela tidak jajan cilok di sekolah, rela tidak membeli mainan, rela menahan lapar saat jam istirahat — semua demi satu tujuan.

Membelikan kursi roda baru untuk sahabatnya, Aldo.

Aldo adalah teman sebangku Bima. Usia mereka sama — 10 tahun. Tapi Aldo tidak pernah bisa berlari seperti Bima. Sejak lahir, kakinya lumpuh. Kedua tungkainya tidak bisa digerakkan. Ia hanya bisa duduk di kursi roda tua peninggalan kakeknya — kursi roda besi yang sudah berkarat di sana-sini, rodanya sudah tidak seimbang, dan bantal duduknya sudah kempes.

Setiap pagi, ayah Aldo mendorong kursi roda itu ke sekolah. Setiap pulang, ia menjemputnya lagi. Jalannya berat karena roda kiri kursi itu selalu miring ke kanan. Aldo sering terjatuh saat melewati jalan berbatu.

Suatu hari, saat jam istirahat, Bima melihat Aldo duduk sendiri di kelas. Teman-teman yang lain bermain di halaman.

"Do, kok nggak ke kantin?" tanya Bima.

Aldo tersenyum getir. "Malas. Capek dorong kursi rodanya. Rodanya seret."

Bima melihat kursi roda Aldo. Besinya berkarat. Bannya sudah gundul. Salah satu jari-jari rodanya patah.

"Harganya berapa, Do, kursi roda baru?" tanya Bima tiba-tiba.

Aldo mengangkat bahu. "Nggak tahu. Pasti mahal. Ayah bilang nanti kalau sudah punya uang. Tapi kayaknya nggak bakalan."

Bima tidak bertanya lebih lanjut. Tapi malam itu, ia tidak bisa tidur. Ia memikirkan Aldo. Ia memikirkan kursi roda tua yang selalu membuat sahabatnya kesulitan.

Keesokan harinya, sepulang sekolah, Bima mencari-cari di gudang. Ia menemukan kaleng bekas biskuit ukuran besar. Kaleng itu ia cuci bersih, lalu ia buat lubang di tutupnya menggunakan paku dan palu.

"Adek, Bima mau jadi kaya raya," katanya pada kaleng itu sambil tersenyum.

Sejak hari itu, Bima mulai menabung. Setiap pagi, Ibu memberikan uang jajan Rp 5.000. Cukup untuk membeli nasi bungkus dan segelas es teh. Tapi Bima mulai menyisihkan. Pagi-pagi ia sarapan di rumah — nasi dan sayur seadanya — agar tidak perlu jajan banyak di sekolah.

Teman-temannya heran. "Bim, kok nggak jajan? Pelit amat."

Bima hanya tersenyum. "Lagi hemat."

Ia tidak pernah bilang pada siapa pun tentang rencananya. Bukan karena takut rahasianya bocor. Tapi karena ia ingin memberikan kejutan untuk Aldo. Ia membayangkan ekspresi Aldo saat melihat kursi roda baru. Pasti bahagia sekali.

Hari demi hari berlalu. Celengan Bima semakin berat. Setiap malam, ia mengocoknya dan mendengar gemerincing koin. Baginya, suara itu adalah musik paling indah di dunia.

Bulan keenam, celengannya sudah setengah penuh. Bima memperkirakan sudah ada sekitar Rp 400.000. Ia bertanya pada Pak RT — tetangganya yang memiliki kursi roda — berapa harga kursi roda baru.

"Kursi roda standar Rp 800.000 sampai Rp 1.000.000, Nak. Tergantung kualitasnya," kata Pak RT.

Rp 800.000. Bima menarik napas. Masih jauh. Tapi ia tidak menyerah. Ia menambah jam menabungnya. Setiap pulang sekolah, ia membantu Bu RT membersihkan halaman. Upahnya Rp 5.000 per hari. Semua ia masukkan ke celengan.

Bulan ke-11, celengannya hampir penuh. Bima menghitung dan mendapati totalnya Rp 825.500. Cukup untuk membeli kursi roda standar.

Ia melompat kegirangan di kamarnya. "YES! AKHIRNYA!"

Malam itu, ia bermimpi tentang Aldo yang tersenyum lebar di atas kursi roda baru. Ia bermimpi mereka bermain bersama di lapangan. Ia bermimpi Aldo tertawa — tawa yang jarang sekali ia dengar selama ini.

Tapi keesokan paginya, mimpi itu berubah menjadi mimpi buruk.

Bima bangun pukul setengah enam. Seperti biasa, ia langsung meraih celengannya di bawah tempat tidur. Tapi tangannya hanya meraba udara kosong.

Ia meraba lebih jauh. Tidak ada.

Bima merangkak, mencari di seluruh sudut kamarnya. Tidak ada. Ia membuka lemari. Tidak ada. Ia mencari di dapur, di ruang tamu, di belakang pintu. Tidak ada. Celengan kalengnya hilang.

"BU! CELENGAN BIMA HILANG!" teriaknya panik.

Ibu berlari dari dapur. "Hilang gimana?"

"Tadi malam masih ada. Sekarang nggak ada!" Bima mulai menangis. Ia memeriksa jendela kamarnya. Terbuka. Seseorang masuk semalam.

Bima jatuh terduduk di lantai. Rp 825.500. 11 bulan menabung. Rencana indah untuk Aldo. Semua lenyap dalam satu malam.

Ia tidak pergi ke sekolah hari itu. Ia hanya duduk di kamar, memeluk lututnya, dan menangis. Ibu duduk di sampingnya, tidak tahu harus berkata apa. Keluarga mereka terlalu miskin untuk mengganti uang sebanyak itu. Ayah Bima tukang becak. Penghasilannya pas-pasan.

Aldo datang ke rumah Bima sore harinya. Seorang tetangga memberi tahu bahwa Bima tidak masuk sekolah. Aldo memaksa ayahnya mengantarnya.

"Bim, kenapa lo nggak masuk?" tanya Aldo dari balik kursi rodanya yang berderit.

Bima tidak menjawab. Ia hanya menunduk.

Bima akhirnya bercerita. Tentang celengan yang ia simpan selama 11 bulan. Tentang rencananya membelikan kursi roda baru untuk Aldo. Tentang maling yang mengambil semuanya.

"Maaf, Do. Maaf," isak Bima. "Gue udah gagal. Gue nggak bisa beliin lo kursi roda."

Aldo tidak berkata apa-apa. Ia hanya memeluk Bima. Keduanya menangis bersama di kamar kontrakan sempit itu.

Keesokan harinya, Aldo diam-diam memberi tahu ibunya tentang cerita Bima. Ibu Aldo — seorang penjual nasi uduk — langsung menangis mendengarnya. Ia tidak tahu bahwa selama ini Bima menabung untuk anaknya.

Ibu Aldo kemudian bercerita pada Bu RT. Bu RT bercerita pada Pak RT. Dan dalam hitungan hari, seluruh kampung tahu tentang Bima — anak kecil yang menabung 11 bulan untuk sahabatnya.

Maka terjadilah sesuatu yang tidak pernah Bima duga.

Pak RT datang ke rumah Bima dengan sebuah kotak. Di dalamnya, hasil sumbangan warga. Terkumpul uang sebesar Rp 600.000.

"Kami dengar cerita kamu, Nak. Ini dari kami," kata Pak RT. "Jumlahnya belum cukup untuk beli kursi roda baru. Tapi setidaknya bisa membantu."

Bima tidak tahu harus berkata apa. Ia memeluk Pak RT. Hanya itu yang bisa ia lakukan.

Esoknya, Aldo datang dengan ibunya. Ibu Aldo membawa amplop.

"Ini, Nak. Dari kami," katanya pada Bima. "Tambahan untuk kursi roda."

Tapi Bima menggeleng. "Nggak usah, Bu. Uang buat Aldo saja."

Ibu Aldo tersenyum. "Tidak, Nak. Ini khusus untuk kamu. Dari Aldo. Ia tidak bisa menabung seperti kamu. Tapi ia menyisihkan uang lebaran yang ia simpan selama ini. Hanya Rp 100.000. Tapi itu semua yang ia punya."

Bima menatap Aldo. Sahabatnya itu tersenyum malu-malu.

"Makasih, Bim," kata Aldo pelan. "Lo rela nggak jajan, lo rela nabung 11 bulan. Buat gue. Sekarang, biar gue yang bantu lo."

Hari itu, Bima, Aldo, Pak RT, dan beberapa warga pergi ke toko alat kesehatan di kecamatan. Dengan uang Rp 1.425.500 — hasil tabungan Bima yang hilang, sumbangan warga Rp 600.000, uang Aldo Rp 100.000, dan tambahan dari Pak RT yang ikut menyumbang — mereka membeli sebuah kursi roda baru.

Bukan kursi roda biasa. Kursi roda lipat dengan rangka alumunium ringan, ban karet yang kokoh, sandaran punggung yang empuk, dan bantalan duduk yang tebal. Warna biru — warna favorit Aldo.

Saat kursi roda itu diantar ke rumah Aldo, seluruh kampung berkumpul. Bima yang mendorong kursi roda itu ke teras rumah Aldo. Ia meletakkannya di samping kursi roda tua yang sudah berkarat.

"Do... ini buat lo," kata Bima. Suaranya bergetar.

Aldo duduk di kursi rodanya yang lama. Ia memandangi kursi roda baru di sampingnya. Biru. Bersih. Bagus.

Ia tidak bisa berkata-kata. Air matanya mengalir deras.

Bima membantu Aldo pindah ke kursi roda baru. Tubuh Aldo terasa ringan saat didudukkan di kursi itu.

"Gimana rasanya?" tanya Bima.

Aldo tersenyum. Senyum yang tidak pernah Bima lihat selama ini. Senyum yang tulus. Senyum yang bahagia.

"Ini nyaman banget, Bim," bisiknya. "Kayak... kayak lagi di sofa."

Semua tertawa. Tapi tawa itu berubah menjadi haru saat Aldo meraih tangan Bima dan berkata, "Makasih, Bim. Lo sahabat terbaik yang pernah gue punya."

Keesokan harinya, Bima dan Aldo berangkat ke sekolah bersama. Bima mendorong kursi roda Aldo — yang kini ringan dan tidak seret. Mereka melewati jalan berbatu yang dulu selalu membuat Aldo jatuh. Kali ini, roda kursi rodanya melaju mulus.

Aldo menengok ke belakang, ke arah Bima yang bersemangat mendorongnya. "Bim, lo jago banget dorong kursi roda," katanya sambil tertawa.

"Ya iyalah. Lo kan ringan sekarang. Enggak kayak kursi roda lo yang dulu, seberat gerobak sampah," balas Bima.

Mereka berdua tertawa. Tawa anak-anak yang tidak lagi dibebani kekurangan. Tawa anak-anak yang telah membuktikan bahwa persahabatan sejati tidak pernah menghitung.

Dua tahun kemudian.

Bima dan Aldo kini duduk di bangku kelas 6 SD. Kursi roda biru itu masih setia menemani Aldo kemana pun. Sudah sedikit lusuh, bannya mulai aus, tapi masih jauh lebih baik dari kursi roda lamanya.

Suatu hari, seorang reporter dari koran daerah datang ke sekolah mereka. Ada yang melaporkan kisah Bima dan Aldo — tentang seorang anak yang menabung 11 bulan untuk sahabatnya.

"Bima, apa yang membuatmu rela menabung selama itu?" tanya reporter.

Bima tersenyum. Ia memandang Aldo yang duduk di kursi rodanya.

"Saya cuma mau lihat sahabat saya bahagia," jawabnya sederhana. "Karena dia juga selalu bikin saya bahagia."

Reporter itu menulis dengan cepat. Aldo — yang mendengar jawaban itu — menunduk, menyembunyikan air matanya.

Malam harinya, koran itu terbit. Judulnya: "Koin-Koin di Celengan Kaleng: Kisah Seorang Anak yang Mengajarkan Arti Persahabatan Sejati."

Tapi Bima tidak pernah membaca koran itu. Karena baginya, balasan yang paling indah sudah ia dapatkan: senyuman Aldo setiap hari.

Dan tidak ada kursi roda termahal di dunia yang bisa menggantikan arti sebuah persahabatan yang tulus.

🌾 Tamat 🌾

We use cookies to improve your experience. By continuing to visit this site you agree to our use of cookies.

× Full Preview