Namaku Ani. Usiaku 32 tahun. Dan hari ini, untuk keseratus kalinya, aku menangis di depan lukisan anakku.
Kusut. Kotor. Tapi lebih indah dari apa pun yang pernah kulihat.
Bima, anakku, baru berusia 8 tahun. Ia didiagnosis autis saat berumur 3 tahun. Dokter bilang ia termasuk dalam kategori nonverbal — artinya, ia tidak bisa berbicara seperti anak-anak seusianya. Ia hanya bisa mengeluarkan suara-suara aneh, kadang berteriak, kadang menangis tanpa sebab yang jelas.
Suamiku — Mas Doni — meninggalkan kami saat Bima berusia 4 tahun. "Aku capek, An. Anak itu nggak bakal normal. Biaya terapinya mahal. Aku nggak kuat." Itu kata-kata terakhirnya sebelum ia pergi. Ia tidak pernah kembali. Tidak pernah menelepon. Tidak pernah mengirim uang. Aku dan Bima, sendirian.
Aku ingat, malam itu aku duduk di lantai kamar kos, memeluk Bima yang sedang tertidur, dan berjanji dalam hati: "Nak, Ibu tidak akan pernah meninggalkan kamu. Ibu akan berjuang untuk kamu."
Sejak saat itu, aku bekerja sebagai penjahit lepas. Setiap hari, aku duduk di depan mesin jahit Singer tua warisan ibuku, dari pagi sampai malam. Jariku sering tertusuk jarum. Punggungku sering pegal. Tapi setiap kali aku melihat Bima tersenyum, semua lelah hilang.
Tantangan terbesar adalah saat Bima mulai sekolah. Tiga SD negeri menolaknya. "Maaf, Bu. Kami tidak punya guru pendamping khusus," kata kepala SD pertama. "Fasilitas kami belum memadai," kata yang kedua. Aku hampir menyerah. Tapi suatu hari, seorang guru muda bernama Bu Rina menemui kami. Ia guru di sebuah SD kecil di pinggir kota. "Bu, saya dengar cerita Bima. Saya mau menerimanya di sekolah saya," katanya.
Aku menangis di depannya. Untuk pertama kalinya, ada orang yang mau menerima anakku.
Hari-hari pertama Bima di sekolah tidak mudah. Ia sering tantrum. Beberapa orang tua murid protes. Tapi Bu Rina tetap bertahan. "Bima butuh waktu. Jangan menyerah," katanya setiap kali aku putus asa.
Dan kemudian, sesuatu yang ajaib terjadi.
Suatu sore, Bu Rina meneleponku. "Bu Ani... cepat ke sekolah. Bima... Bima menggambar." Aku berlari ke sekolah. Di kelas, kulihat Bima duduk di lantai, memegang krayon usang yang dipinjam Bu Rina. Di depannya, selembar kertas HVS penuh dengan warna-warna cerah. Aku terpaku. Di atas kertas itu, tergambar seorang ibu dan seorang anak kecil yang berpegangan tangan. Di sudut kanan, ada tulisan cakar ayam: "Ibu... Aku... Sayang."
Itu adalah pertama kalinya Bima berkomunikasi melalui gambar. Ia mungkin tidak bisa bicara. Tapi ia bisa menggambar. Dan gambarnya luar biasa.
Sejak hari itu, Bima tidak pernah berhenti menggambar. Setiap sepulang sekolah, ia akan duduk di teras kontrakan, mengambil kertas dan krayon, dan menggambar apa pun yang ia lihat. Dan selalu — selalu ada figur seorang ibu di setiap gambarnya.
Tapi hidup tidak pernah mudah. Suatu malam, Bima demam tinggi. Infeksi paru-paru. Harus dirawat. Biaya 2 juta. Aku tidak punya uang. Aku duduk di kursi kayu di lorong puskesmas, menangis diam-diam, menggenggam tangan mungil Bima. "Ya Allah... jangan ambil anakku."
Esoknya, Bu Rina datang membawa amplop. Hasil kumpulan para guru. 2,5 juta rupiah. Aku tidak bisa berkata apa-apa selain memeluknya.
Tiga hari kemudian, Bima sembuh. Saat aku menjemputnya pulang, ia meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Di dalam tasnya, ada gambar baru. Dua figur — aku dan dia. Di antara mereka, banyak tangan yang saling terhubung. Tangan-tangan para penolong. Di atasnya, Bima menulis: "Ibu... Kita Tidak Sendiri."
Aku menangis di depan semua orang. Bima memelukku. Ia tidak bicara. Tapi pelukannya cukup.
Kini, Bima duduk di kelas 3 SD. Ia masih belum bisa bicara lancar. Tapi ia telah menemukan bahasanya sendiri: lukisan. Tiga bulan lalu, seorang pemilik galeri melihat koleksi gambar Bima dan menawarkan pameran tunggal. Dua puluh lukisan Bima dipajang. Beberapa terjual. Hasilnya 15 juta rupiah.
Aku tidak percaya. Anakku — yang dulu ditolak tiga SD — kini lukisannya dibeli orang.
Di hari terakhir pameran, Bima naik ke panggung. Bu Rina membisikkan sesuatu di telinganya. Lalu, dengan suara tersendat, Bima berkata di depan puluhan orang: "Ibu... aku sayang... Ibu... jangan... nangis... lagi."
Enam kata. Cukup untuk membuat semua orang menangis.
Sekarang, setiap malam sebelum tidur, Bima selalu memberiku satu gambar baru. Ia menyembunyikannya di balik bantal. Malam ini, lukisan Bima bergambar seorang ibu dan anak yang berdiri di bawah pelangi. Di bawahnya, ia menulis: "Untuk Ibu. Pahlawanku."
Aku memeluk kertas itu erat-erat. Perjuangan ini — semua air mata, semua malam tanpa tidur — semuanya terbayar lunas. Karena aku tidak pernah membesarkan anak yang "tidak normal". Aku membesarkan seorang seniman. Seorang anak yang mengajarkanku bahwa cinta tidak membutuhkan kata-kata. Ia cukup digambarkan — dan dunia akan mengerti.
🌾 Tamat 🌾