Wina (29 tahun) mengencangkan jaketnya saat angin malam Jakarta berhembus kencang. Ia berjalan cepat meninggalkan kantornya di kawasan Kuningan menuju halte bus Transjakarta. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Lembur lagi. Seperti biasa.
Ponselnya berdering. Sebuah pesan dari ibunya: "Nak, kapan pulang? Ibu kangen."
Wina membaca pesan itu, lalu menyimpan ponselnya tanpa membalas. Ia tidak ingin pulang ke kampung. Karena di kampung, selalu ada pertanyaan yang membuat dadanya sesak: "Kapan nikah?" atau "Kapan punya pacar?" atau yang paling menyakitkan, "Jangan terlalu pilih-pilih, nanti keburu tua."
Bukan karena Wina tidak ingin menikah. Bukan karena ia terlalu pilih-pilih. Tapi karena sejak kecil, Wina telah belajar satu hal: cinta itu menyakitkan.
Ayahnya pergi saat Wina berusia 7 tahun. Pergi tanpa pamit. Meninggalkan ibu dan Wina sendirian. Ibu bertahan dengan menjahit baju tetangga, sementara Wina tumbuh dengan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Sejak saat itu, ia menutup hatinya. Tidak ada pacar. Tidak ada gebetan. Tidak ada janji cinta. Karena menurut Wina, lebih baik sendiri daripada ditinggalkan lagi.
—
Malam itu, di halte bus yang sepi, Wina melihat sesuatu yang tidak biasa.
Seorang anak kecil — perempuan, sekitar 7 tahun — duduk di bangku halte sendirian. Bajunya kotor, rambutnya acak-acakan. Di pangkuannya, ia memegang sebuah boneka kain yang sudah lusuh, hampir robek di beberapa bagian. Matanya sayu, menatap kosong ke arah jalan raya yang mulai sepi.
Wina melihat sekeliling. Tidak ada orang dewasa yang mengawasi. Ia mendekat perlahan.
"Dek... kamu sendirian? Mamamu mana?"
Anak itu menatap Wina. Matanya — bulat, hitam, dan dalam — seperti menyimpan lautan kesedihan. "Mama Lala di surga," jawabnya lirih. "Lala mau nyusul Mama. Tapi kata Bibi, Lala tidak boleh mati."
Jantung Wina serasa berhenti. Ia duduk di samping anak itu, tidak peduli dengan jas mahal yang ia kenakan. "Lala... kamu dari mana? Rumahmu di mana?"
Lala menggeleng. "Lala lari. Bibi marah-marah terus. Bilang Lala beban."
Wina menelan ludah. Ia harus melakukan sesuatu. Ia menggandeng tangan Lala — tangan kecil yang dingin dan kurus — dan berkata, "Ayo, ikut Tante Wina. Tante antar kamu ke tempat yang aman."
—
Wina membawa Lala ke kantor polisi terdekat. Tapi Lala menangis histeris saat melihat seragam polisi. "Lala tidak mau! Lala tidak mau dimasukin panti! Bibi bilang panti itu jahat!"
Wina bingung. Polisi menyarankan untuk dibawa ke Dinas Sosial besok pagi. Tapi malam itu, Lala harus dititipkan di suatu tempat. Wina memandangi Lala yang menggenggam erat jaketnya, seperti takut ditinggalkan lagi.
"Dek... mau ikut Tante? Tante antar ke kos Tante dulu. Besok pagi kita urus semuanya," katanya, tanpa benar-benar yakin dengan keputusannya.
Lala mengangguk. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tersenyum. Senyum kecil yang membuat hati Wina mencair.
Sesampainya di kos, Wina memandikan Lala. Ia meminjamkan kaos oblongnya yang kebesaran untuk Lala. Ia memasak mi instan — satu-satunya makanan yang ada di dapur. Lala makan dengan lahap, seperti tidak makan berhari-hari.
"Tante... Lala boleh tinggal di sini? Lala janji enggak akan rewel," tanya Lala setelah selesai makan.
Wina terdiam. Ia ingin berkata tidak. Ia tidak punya tanggung jawab terhadap anak ini. Tapi ada sesuatu di mata Lala yang membuat kata "tidak" terasa mustahil diucapkan.
"Untuk sementara, iya. Tapi besok kita lihat, ya," jawab Wina akhirnya.
Malam itu, Wina tidak bisa tidur. Ia mendengar napas Lala yang teratur di sampingnya. Anak kecil yang baru ia kenal beberapa jam, kini tidur di sampingnya dengan damai. Untuk pertama kalinya dalam 22 tahun, Wina merasa ada yang membutuhkannya.
—
Keesokan harinya, Wina tidak jadi melapor ke Dinas Sosial.
Ia telepon kantor, bilang sakit. Lalu ia menghabiskan hari itu bersama Lala. Mereka sarapan bubur ayam di pinggir jalan. Mereka jalan-jalan ke taman. Lala bercerita tentang mamanya yang meninggal setahun lalu karena sakit, tentang bibinya yang selalu marah, dan tentang satu-satunya teman yang ia miliki: boneka kain lusuh bernama MoMo.
"Sejak Mama pergi, cuma MoMo yang nemenin Lala," kata Lala sambil memeluk bonekanya. "Tapi sekarang Lala punya Tante Wina juga."
Wina menelan ludah. Kata-kata Lala menusuk hatinya. Anak ini — yang kehilangan ibu, yang diperlakukan seperti beban — masih bisa percaya pada kebaikan orang lain. Sementara Wina, yang tidak kehilangan siapa pun kecuali kepercayaannya pada cinta, telah menutup hati selama 22 tahun.
Hari itu, Wina mengambil keputusan. Ia menghubungi Dinas Sosial bukan untuk menitipkan Lala, tapi untuk mengurus surat-surat yang diperlukan. Ia ingin menjadi wali sementara untuk Lala. Ia ingin — untuk pertama kalinya — membuka hatinya pada cinta. Cinta yang tidak harus romantis. Cinta yang sederhana: antara dua insan yang sama-sama kehilangan, dan saling menemukan di halte bus yang sepi.
—
Tiga bulan kemudian. Wina sedang duduk di ruang tamu kosnya yang kini telah berubah. Dindingnya dihiasi gambar-gambar Lala — rumah, pelangi, ibu, dan seorang perempuan dengan tulisan "Tante Wina" di bawahnya. Di sudut ruangan, boneka MoMo duduk di kursi kecil, sudah dijahit dan dibersihkan — hasil kerja keras Wina di malam hari.
Wina telah resmi menjadi wali Lala. Prosesnya tidak mudah — banyak birokrasi, banyak pertanyaan, banyak keraguan. Tapi Wina bertekad. Ia bahkan pindah ke kos yang lebih besar agar Lala punya kamar sendiri.
"Tante, Lala kangen Mama," kata Lala suatu malam, sambil memeluk MoMo. Tangisnya pecah. Wina memeluknya erat. Tidak ada kata-kata yang bisa menghapus kesedihan Lala. Tapi setidaknya, ia bisa ada di sana.
"Lala, Tante tidak bisa jadi Mama Lala. Tapi Tante... Tante sayang Lala. Tante akan jaga Lala. Tante tidak akan pergi," bisik Wina, air matanya ikut mengalir.
Untuk pertama kalinya dalam 22 tahun, Wina mengucapkan kata "sayang" pada seseorang di luar dirinya. Rasanya... hangat.
—
Suatu Minggu pagi, Wina sedang memasak sarapan ketika Lala berlari ke dapur dengan mata berbinar. Ia memegang sebuah amplop hasil karya seni — gambar seorang perempuan dan seorang anak kecil berpegangan tangan.
"Tante, ini buat Tante! Selamat Hari Ibu!" teriak Lala.
Wina membeku. Tangannya gemetar menerima gambar itu. Di bawah gambar, Lala menulis dengan ejaan yang salah: "Bu Wina — Makasih udah jadi Mamaku yg baru."
"La... Lala panggil Tante... Mama?\" suara Wina bergetar.
"Iya. Soalnya Tante kayak Mama. Lala sayang Tante."
Wina berlutut, memeluk Lala, dan menangis. Tangis yang sudah 22 tahun tertahan. Tangis seorang perempuan yang takut cinta, kini dipeluk erat oleh seorang anak kecil yang mengajarkannya bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan kepergian. Kadang, cinta datang dalam bentuk paling sederhana — dari halte bus yang sepi, dari mi instan yang dimakan bersama, dari boneka kain yang diperbaiki, dan dari seorang anak kecil yang memanggilnya "Mama".
—
Sekarang, setiap malam Wina pulang kerja, Lala selalu menunggu di pintu kos dengan senyum lebar dan pelukan hangat. Boneka MoMo — yang kini sudah dijahit rapi dan memakai baju baru — selalu duduk di kursi dekat pintu, ikut menyambut.
Kadang, Wina masih diingatkan pada luka masa lalunya. Kadang, ia masih takut. Tapi setiap kali rasa takut itu datang, ia melihat Lala. Ia ingat bahwa cinta tidak selalu menyakitkan. Cinta yang tulus — seperti yang ia berikan pada Lala dan yang ia terima darinya — adalah penyembuh luka terdalam sekalipun.
Wina tidak lagi kabur dari pertanyaan "kapan nikah" saat pulang kampung. Ia kini punya jawaban: "Aku sudah punya anak. Namanya Lala."
Ibu Wina menangis saat pertama kali mendengar cerita lengkapnya. "Nak... Ibu bangga. Kamu lebih berani dari Ibu," kata ibunya.
—
Wina (29 tahun) kini memiliki hidup yang tidak pernah ia rencanakan. Bukan karir yang lebih tinggi. Bukan gaji yang lebih besar. Tapi kehidupan yang lebih berarti. Seorang anak kecil yang tidak memiliki siapa pun, kini memiliki seorang ibu baru. Dan seorang perempuan yang takut cinta, kini belajar bahwa cinta — dalam bentuk apa pun — selalu layak diperjuangkan.
Di halte bus yang sama tempat mereka bertemu, Wina dan Lala duduk bersama setiap Minggu pagi. Mereka membawa bekal — nasi goreng buatan Wina dan segelas susu untuk Lala. Mereka memandangi bus yang lalu-lalang, sama seperti malam pertama mereka bertemu. Tapi kini, tidak ada lagi kesendirian. Tidak ada lagi luka yang menganga. Yang ada hanyalah dua insan yang saling menemukan, di halte bus yang sepi, di tengah kota Jakarta yang tak pernah tidur.
Kadang, jawaban dari doa yang tak pernah kita panjatkan, datang dalam bentuk yang paling tak terduga. Bagi Wina, jawaban itu bernama Lala — seorang anak kecil berusia 7 tahun dengan boneka kain lusuh, yang mengajarkannya bahwa cinta tidak perlu ditakuti. Cinta hanya perlu diterima, dipeluk erat, dan dibiarkan tumbuh.
🌾 Tamat 🌾