Andi membuka kotak kardus itu dengan tangan gemetar. Seminggu sudah sejak pemakaman Ibu Sari — ibunya — karena kanker stadium akhir. Ibu pergi begitu cepat. Satu bulan setelah didiagnosis, beliau sudah tiada.
Andi tidak sempat pulang. Ketika Ibu dirawat, ia sedang berada di Singapura untuk negosiasi kontrak. Manajernya bilang deal ini sangat penting. Nilai kontrak 50 miliar. Ibunya sendiri yang memintanya tidak pulang lewat sambungan telepon.
"Ibu baik-baik aja, Nak. Kamu selesaikan urusanmu dulu."
Itu adalah kalimat terakhir yang Andi dengar dari ibunya. Seminggu kemudian, Ibu Sari menghembuskan napas terakhir di rumah sakit daerah Cilacap. Sendirian. Tanpa didampingi anak satu-satunya.
Pak RT yang menemukan. Saat datang menjenguk, Ibu Sari sudah pergi. Wajahnya tenang, dengan senyum tipis di bibir. Di genggaman tangannya, ada foto Andi saat diwisuda — foto yang selalu ia simpan di bawah bantal.
Pak RT kemudian mengirimkan barang-barang Ibu Sari ke Jakarta. Satu kardus kecil. Isinya tidak banyak — beberapa potong baju yang sudah lusuh, sebuah Al-Quran tua, dan satu kotak lagi di dalamnya.
Kotak itulah yang kini ada di hadapan Andi.
Kotak kayu sederhana berukuran 30x20 sentimeter. Catnya sudah mengelupas. Tutupnya diikat tali rafia. Di atasnya ada secarik kertas dengan tulisan tangan Ibu yang sudah tidak rapi karena sakit:
"Untuk Andi. Bacalah satu per satu. Ibu tidak akan kemana-mana."
Andi membuka kotak itu. Di dalamnya, ada tumpukan amplop. Dari yang paling baru hingga yang paling lama. Semuanya bernomor. 1 sampai 365. Ia mengambil satu di antaranya — yang bertuliskan: "Jumat, 17 Maret — Hari ke-76"
Ia membuka amplop itu dan membaca. Tangannya mulai gemetar.
"Nak Andi...
Selamat hari Jumat. Ibu sedang menjalani kemoterapi ketiga hari ini. Badan Ibu rasanya remuk. Tapi Ibu tidak mau menyerah. Ibu harus menyelesaikan surat-surat ini.
Ibu ingat, dulu waktu kamu kecil, setiap hari Jumat Ibu masak opor ayam. Kamu suka sekali sampai nambah tiga kali. Bapakmu sering marah karena jatah lauknya habis.
Malam Jumat, kita sekeluarga selalu baca Yasin bersama. Kamu duduk di pangkuan Ibu, mengulangi ayat-ayat yang Ibu baca dengan lirih. Kadang kamu tidur di pangkuan Ibu sebelum surat Yasin selesai.
Ibu rindu saat-saat itu, Nak. Rindu banget.
Sejak kamu merantau ke Jakarta, rumah ini terasa hampa. Meja makan yang dulu penuh canda tawa, kini hanya Ibu sendiri. Kadang Ibu masak opor ayam, duduk di meja, dan membayangkan kamu masih kecil, duduk di kursi hijau di hadapan Ibu, dan bilang: 'Enak banget, Bu! Ibu jago masak!'
Lalu Ibu tersadar. Kamu tidak di sini. Sudah bertahun-tahun kamu tidak di sini.
Maaf, Nak, Ibu jadi curhat. Ibu hanya ingin kamu tahu: tidak ada satu hari pun yang berlalu tanpa Ibu memikirkanmu. Doa Ibu setiap malam hanya satu: semoga Allah menjaga anakku di mana pun ia berada.
Ibu sayang kamu, Nak. Sampai kapan pun.
- Ibu yang selalu rindu"
Andi baru membaca satu surat. Tapi air matanya sudah tidak terbendung.
Ia mengambil surat lain secara acak. "Rabu, 5 Januari — Hari ke-5"
"Nak, hari ini dokter bilang kanker Ibu sudah masuk tahap tiga. Ibu tidak takut mati. Ibu hanya takut tidak sempat melihat kamu menikah. Ibu hanya takut tidak sempat menggendong cucu Ibu."
Surat lain. "Minggu, 27 Februari — Hari ke-58"
"Nak, rambut Ibu mulai rontok habis. Kepala Ibu botak sekarang. Ibu lihat diri Ibu di cermin, dan Ibu tidak mengenali diri sendiri. Tapi Ibu ingat kata-katamu dulu waktu kamu kecil, 'Ibu itu paling cantik sedunia.' Ibu pegang kata-kata itu erat-erat, Nak. Itu yang membuat Ibu tersenyum setiap hari."
Ada 365 surat. Untuk setiap hari dalam setahun.
Andi duduk di lantai kamarnya, dikelilingi amplop-amplop yang berserakan, dan mulai membaca satu per satu dari awal. Ia membaca tanpa henti. Lupa makan. Lupa tidur. Lupa rapat yang sudah dijadwalkan.
Yang ia temukan di dalam surat-surat itu adalah kehidupan yang selama ini tidak ia ketahui.
Ia tidak tahu bahwa ketika ia sibuk presentasi di kantor, Ibu Sari menjalani kemo sendirian di rumah sakit daerah yang penuh sesak. Ia tidak tahu bahwa ibunya pingsan dua kali di kamar mandi dan tidak ada yang menolong. Ia tidak tahu bahwa tetangga yang baik hati — Bu RT — setiap hari datang membawakan makanan karena Ibu sudah terlalu lemah untuk bangun.
Ia tidak tahu bahwa di menit-menit terakhir hidupnya, Ibu Sari masih menulis.
Surat terakhir — nomor 365 — bertanggal 31 Desember:
"Nak Andi...
Ini surat terakhir Ibu. Ibu sudah menyelesaikan 364 surat sebelumnya. Kalau kamu membaca ini, berarti sudah setahun Ibu pergi. Atau mungkin kamu baru membaca sekarang? Tidak apa-apa, Nak. Ibu tidak pernah marah.
Ibu hanya ingin kamu tahu satu hal: Ibu tidak pernah menyesal menjadi ibumu.
Ibu bangga menjadi ibumu. Ibu akan selalu bangga, selalu mendoakanmu, dan selalu mencintaimu — dari mana pun Ibu berada.
Maaf Ibu pergi tanpa pamit. Maaf Ibu tidak sempat melihat kamu sukses. Tapi Ibu tahu kamu akan baik-baik saja, karena kamu anak yang kuat.
Kalau suatu hari kamu merasa lelah, bacalah surat-surat Ibu. Di sana ada cinta Ibu yang tidak pernah habis.
Sampai jumpa di surga, Nak.
- Ibu yang selalu menunggumu pulang"
Andi memeluk tumpukan surat itu erat-erat. Ia menangis seperti tidak pernah menangis sebelumnya. Tangis seorang anak yang baru sadar bahwa ia telah menyia-nyiakan waktu bersama ibunya. Tangis penyesalan yang tidak bisa diulang.
Ia mengangkat telepon dan menelepon manajernya. "Hancurkan kontrak yang di Singapura itu. Saya tidak peduli dengan penaltinya. Saya mau cuti. Tidak, saya mau berhenti."
Manajernya terkejut. "Pak Andi, itu 50 miliar—"
"Uang bisa dicari lagi. Ibu saya tidak akan pernah kembali."
Keesokan harinya, Andi terbang ke Cilacap.
Ia duduk di samping makam Ibu Sari di pemakaman desa. Makam itu sederhana — nisan kayu dengan tulisan tangan Pak RT. Andi menangis lagi. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa sangat kesepian.
"Ma... ini Andi. Andi sudah baca semua surat Ibu," katanya dengan suara bergetar. "Andi minta maaf. Andi minta maaf enggak pernah pulang. Andi minta maaf enggak ada waktu Ibu sakit. Andi minta maaf enggak sempat antar Ibu ke dokter. Andi minta maaf..."
Suaranya pecah. Ia tidak bisa melanjutkan.
Angin berhembus pelan, menerpa daun-daun pohon mangga di samping makam. Andi merasa seolah ibunya sedang membelai rambutnya — seperti dulu saat ia masih kecil dan tidur di pangkuan ibunya setiap malam Jumat.
Enam bulan kemudian.
Andi memutuskan pindah ke Cilacap. Ia membuka usaha kecil-kecilan — kafe sederhana di dekat rumah ibunya. Di dinding kafe, ia memajang 365 surat Ibu Sari dalam pigura-pigura kecil. Setiap pengunjung bisa membaca satu surat setiap kali datang.
Kafe itu menjadi ramai. Bukan karena kopinya yang enak — meskipun enak — tapi karena surat-surat Ibu Sari. Banyak pengunjung yang menangis membacanya. Banyak yang pulang lalu menelepon ibu mereka masing-masing.
Seorang ibu-ibu paruh baya pernah berkata pada Andi, "Nak, terima kasih. Ibu jadi ingat anak Ibu di perantauan. Ibu pulang nanti akan menelepon dia."
Andi tersenyum. Ia tidak bisa mengembalikan waktu bersama ibunya. Tapi ia bisa membantu orang lain untuk tidak membuat kesalahan yang sama.
Pada malam Jumat, Andi duduk di teras rumah ibunya. Seperti dulu. Ia membawa sepiring opor ayam — buatannya sendiri. Hasil belajar dari resep Ibu yang ia temukan di sela-sela surat.
Ia memandangi langit malam. Bulan sabit menggantung rendah. Bintang-bintang berkelap-kelip seperti senyum ibunya.
"Ma, Andi sudah bisa masak opor ayam. Rasanya hampir seperti buatan Ibu. Tapi belum seenak buatan Ibu. Mungkin besok-besok Andi coba lagi."
Angin berhembus lagi. Daun pohon mangga berdesir.
Andi tersenyum. Ia tahu ibunya ada di sana. Di setiap hembusan angin. Di setiap helai daun yang jatuh. Di setiap butiran nasi yang ia masak.
"Besok Jumat lagi, Ma. Andi akan masak opor ayam. Satu porsi untuk Ibu. Satu porsi untuk Andi. Seperti dulu."
Ia menatap langit dan berbisik lirih, "Terima kasih sudah menulis 365 surat, Ma. Andi akan menjaganya seumur hidup. Dan Andi janji: Andi tidak akan pernah melewatkan Jumat tanpa mengingat Ibu."
Di kejauhan, suara azan Isya berkumandang dari masjid desa. Andi meneguk kopinya yang mulai dingin. Lalu ia membuka surat nomor 76 lagi — yang bertuliskan "Jumat, 17 Maret" — dan membacanya sekali lagi. Sambil menangis. Sambil tersenyum.
Karena cinta seorang ibu, tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menuliskan dirinya dalam 365 surat, dan berharap suatu hari nanti anaknya akan membacanya.
🌾 Tamat 🌾
Pesan dari cerita ini:
Ibumu mungkin tidak menulis 365 surat untukmu. Tapi percayalah, setiap hari ia mendoakanmu. Setiap malam ia merindukanmu. Jangan menunggu sampai semuanya terlambat untuk pulang.
Telepon ibumu sekarang. Katakan bahwa kamu sayang padanya. Karena suatu hari nanti, yang tersisa hanyalah surat — dan penyesalan yang tidak pernah bisa diulang.