Namaku Adi. Usiaku 40 tahun sekarang. Aku anak tunggal dari seorang ibu yang sudah sepuluh tahun lalu meninggal dunia. Dan baru sekarang, di usiaku yang keempat puluh ini, aku benar-benar tahu siapa ibuku sebenarnya.
Aku lahir di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Ayahku meninggal saat aku masih berumur tiga tahun. Sejak itu, aku hanya hidup berdua dengan ibu. Ibu bekerja sebagai buruh cuci di rumah-rumah tetangga. Setiap pagi, pukul empat, aku sudah mendengar suara ibu mengucek baju di sumur belakang. Suara itu akrab sekali di telingaku. Gesekan kain, cipratan air, dan sesekali suara ibu mendesah lelah.
Aku tumbuh besar tanpa pernah merasa kekurangan. Mungkin karena ibu pandai menyembunyikan semuanya. Ia selalu tersenyum saat menyajikan nasi di meja. Kadang hanya nasi dengan garam dan minyak goreng. Tapi ibu selalu bilang, "Ini enak, Di. Makan yang banyak."
Aku percaya saja.
Waktu aku kelas enam SD, aku ingat ibu pernah menjual satu-satunya kain batik peninggalan nenek. Batik itu satu-satunya barang berharga yang ibu miliki. Ia menjualnya ke tetangga sebelah dengan harga murah. Padahal aku tahu, batik itu sangat ia sayangi.
"Buat apa dijual, Bu?" tanyaku waktu itu. "Buat beli seragam baru kamu. Yang lama sudah sempit, " jawab ibu sambil tersenyum.
Setiap hari ibu bangun lebih pagi dari siapa pun di desa. Kadang ia tidak tidur sama sekali. Ia menjahit baju tetangga di malam hari. Tangannya kasar dan penuh kapalan. Kalau kusentuh, terasa seperti amplas. Tapi sentuhan ibu tetap yang paling lembut di dunia.
Aku berhasil masuk SMP dan SMA berkat kerja keras ibu. Ia menyisihkan uang untuk membelikanku sepatu baru meskipun ia sendiri tidak punya sandal yang layak. Ia memakai sandal jepit yang solnya sudah bolong.
Aku lulus SMA dan ingin kuliah. Tapi tidak ada biaya. Ibu duduk diam di dapur semalaman. Esoknya, ia pergi ke rumah Pak Lurah. Ternyata ibu meminjam uang dengan jaminan surat tanah rumah kami. Satu-satunya warisan yang ibu miliki.
"Aku rela kehilangan rumah asal kamu sekolah tinggi, Di," katanya waktu itu.
Aku lulus kuliah. Dapat kerja di Jakarta. Mulai hidup mapan. Menikah. Punya anak. Setiap minggu aku menelepon ibu. Ia selalu bilang baik-baik saja. Tidak pernah mengeluh. Tidak pernah minta apa-apa.
Sepuluh tahun lalu, ibu sakit. Kata tetangga, ibu sudah lama batuk-batuk tapi tidak pernah mau periksa. Sampai suatu hari ia jatuh pingsan di sumur. Di rumah sakit, kata dokter, kanker paru-paru stadium akhir.
Tiga hari sebelum ibu meninggal, ia memanggilku. "Di, di lemari kamar ibu, ada satu bantal putih. Di dalam sarungnya ada sesuatu. Ambil kalau ibu sudah pergi."
Ibu meninggal seminggu kemudian. Penyesalan itu masih membekas hingga sekarang. Aku tidak sempat melihatnya untuk terakhir kali.
Setelah pemakaman, aku menemukan bantal yang ibu maksud. Di dalam kapuk, ada amplop coklat tua. Di dalamnya ada sepucuk surat dan sebuah buku tabungan kecil. Surat itu ditulis tangan ibu. Dan yang tertulis di dalamnya... membuatku tak sanggup berdiri.
Ibu bukan ibu kandungku.
Ia menulis bahwa aku adalah anak titipan. Bayi berusia seminggu yang dititipkan seorang perempuan muda. Ibu tidak pernah mencari tahu siapa orang tua kandungku. Ia tidak peduli. Sejak pertama menggendongku, aku sudah anak kandungnya.
Ibu tidak pernah menikah lagi karena menolak semua lamaran. Ia takut aku akan disakiti. Jadi ia memilih sendiri. Ia memilih aku.
Buku tabungan itu berisi lebih dari dua puluh juta rupiah. Hasil keringatnya selama puluhan tahun. Untuk cucu-cucuku. Padahal aku bukan darah dagingnya.
Surat itu basah oleh air mataku. Aku berlutut di lantai kamar ibu yang sudah kosong. Menangis seperti anak kecil. Ibu rela tidak menikah, rela miskin, rela bekerja keras — semua demi aku yang bukan darah dagingnya.
Sekarang aku paham. Kenapa ibu selalu menangis saat aku memeluknya setiap mudik. Kenapa ia sering diam memandangiku dari jauh. Karena aku memang yang ia punya. Satu-satunya.
Aku tidak mengambil uang itu. Kujadikan kenang-kenangan. Setiap malam, sebelum tidur, aku duduk di balkon dan memandang langit. Mencoba membayangkan ibu tersenyum di sana.
Dan aku berbisik pada angin malam, "Ibu, terima kasih. Kamu adalah ibuku satu-satunya. Sampai kapan pun."