Sepotong Martabak untuk Ibu

Jakarta, jam setengah dua belas malam. Gilang (30 tahun) duduk di pinggir trotoar, memandangi ponselnya yang mati karena kehabisan baterai.

Di depannya, motor butut kesayangannya terparkir — satu-satunya alat mencari nafkah yang ia miliki. Sehari ini ia cuma dapat tiga order. Penghasilan hari ini: Rp 45.000. Belum dipotong bensin. Gilang menarik napas panjang. Dalam dompetnya, hanya tersisa Rp 5.000 dan selembar foto lusuh — foto Ibu saat ia masih muda, rambutnya hitam panjang, senyumnya merekah.

Kini, di usia 55 tahun, rambut Ibu sudah mulai memutih. Badannya mulai gampang sakit. Tapi Ibu tidak pernah mengeluh.

Bu Lastri, ibunya, bekerja sebagai pembantu rumah tangga di tiga rumah berbeda sejak Gilang masih SD. Pagi di rumah Bu RT di Kemanggisan, siang di rumah Pak RW di Slipi, dan sore di rumah seorang pengusaha di Kebon Jeruk. Gajinya tidak seberapa, tapi cukup untuk makan dan menyewa kamar kos sempit di pinggir rel kereta Palmerah.

Dulu, Gilang tidak pernah benar-benar menghargai perjuangan ibunya. Ia sibuk dengan teman-temannya, sibuk nongkrong di mal, sibuk bermain game online di warnet. Ia sering marah saat ibunya mengingatkan untuk pulang cepat. Ia sering malu mengakui bahwa ibunya adalah pembantu rumah tangga.

Tapi semua berubah ketika Gilang berusia 25 tahun dan mulai bekerja sebagai driver online.

Dua tahun lalu, Bu Lastri jatuh sakit. Awalnya hanya pusing-pusing. Lalu tensinya terus naik. Dokter di puskesmas bilang: hipertensi stadium satu. Harus minum obat rutin. Pantang makanan asin dan berlemak.

Tapi obat itu mahal. Bu Lastri tidak punya BPJS di saat itu. Gilang — yang penghasilannya pas-pasan — tidak sanggup membiayainya. Setiap bulan, ia hanya bisa membeli obat semampunya.

Suatu malam, pulang setelah mengantar penumpang ke Ciledug, Gilang menemukan ibunya pingsan di lantai kamar kos.

Tangannya gemetar saat membawa ibunya ke UGD. Dokter bilang tekanan darahnya 190/110. Hampir stroke. Harus rawat inap tiga hari. Biaya rumah sakit: Rp 3,5 juta. Gilang tidak punya uang sebanyak itu.

Ia menelepon semua kenalannya. Ada yang tidak angkat. Ada yang bilang nanti. Hanya satu orang yang benar-benar membantu — Pak RT di Kemanggisan, tempat ibunya bekerja. Beliau meminjamkan Rp 2 juta tanpa bunga.

"Kamu jaga ibumu baik-baik, Gil. Ibu kamu sudah seperti keluarga buat saya," kata Pak RT.

Gilang menangis. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ibunya lebih dihargai oleh orang lain daripada oleh dirinya sendiri.

Sejak malam itu, Gilang berubah.

Ia bangun lebih pagi. Jam setengah lima ia sudah keluar untuk mencari order. Ia tidak lagi nongkrong. Ia berhenti main game. Setiap rupiah yang ia dapatkan, ia sisihkan untuk ibunya.

Tapi penghasilan sebagai driver online tidak menentu. Kadang dapat 100 ribu sehari, kadang hanya 30 ribu. Dan motor bututnya mulai sering rewel. Gilang terjebak dalam lingkaran yang sulit.

Hingga suatu hari, kontrak kerjanya dengan perusahaan rental motor dihentikan. Motor yang selama ini ia pakai harus dikembalikan. Gilang kehilangan satu-satunya sumber penghasilan.

Ia menganggur selama dua bulan. Tabungan habis. Utang menumpuk di warung. Bu Lastri — yang baru sembuh — kembali bekerja membersihkan rumah orang, meskipun Gilang melarangnya.

"Ibu masih kuat, Nak. Kamu istirahat dulu. Cari kerja yang lebih baik," kata Bu Lastri setiap pagi sebelum berangkat.

Gilang menangis setiap malam. Tidurnya tidak nyenyak. Ia merasa gagal sebagai anak. Ia merasa durhaka.

Suatu pagi, saat Bu Lastri sudah berangkat kerja, Gilang membereskan kamar ibunya. Ia menemukan sebuah celengan plastik bekas yakult. Di dalamnya, ada uang receh — Rp 500, Rp 200, Rp 1000 — total mungkin hanya 15 ribu. Tapi di samping celengan itu, ada secarik kertas dengan tulisan tangan ibunya yang tidak rapi:

"Tabungan buat beli martabak. Gilang suka martabak. Sudah lama tidak makan."

Gilang memegang kertas itu. Jantungnya serasa diremas.

Martabak. Makanan kesukaannya sejak kecil. Dulu, setiap hari Sabtu, ibunya selalu membelikannya martabak dari abang langganan di ujung jalan. Satu potong martabak manis dengan topping wijen dan susu kental manis.

Tapi itu sudah bertahun-tahun lalu. Gilang tidak pernah lagi makan martabak. Dan ibunya — yang setiap hari bekerja membersihkan rumah orang lain — masih menyisihkan receh receh di celengan yakult. Untuk apa? Untuk membelikannya martabak.

Gilang duduk di lantai kamar kos itu, memeluk celengan yakult, dan menangis sejadi-jadinya.

Ia baru sadar. Ibunya mungkin sudah tua. Mungkin sudah lemah. Tapi cintanya — cintanya tidak pernah menua. Tidak pernah lemah. Bahkan di saat Gilang menganggur dan tidak punya uang, ibunya masih menyimpan receh demi receh untuk membahagiakannya.

Keesokan harinya, Gilang bangun dengan tekad baru.

Ia meminjam motor bekas pamannya di Ciputat. Motor itu sudah rusak, ban gundul, lampu mati. Tapi bisa jalan. Ia memperbaikinya sendiri. Lalu ia mulai mencari order lagi.

Tapi kali ini, ia tidak hanya jadi driver. Setiap malam, dari jam 6 sampai jam 11, ia berjualan martabak di depan rumah kosnya. Modal kecil — adonan sederhana, telur, gula, meses — semua ia pelajari dari video YouTube.

Bulan pertama, jualannya sepi. Kadang hanya laku 5 potong. Gilang hampir menyerah. Tapi setiap kali ia ingin berhenti, ia ingat celengan yakult ibunya. Ia ingat kertas lusuh bertuliskan: "Tabungan buat beli martabak."

Bulan kedua, mulai ada pelanggan tetap. Tetangga kos, tukang ojek, dan beberapa anak muda yang tinggal di sekitar Palmerah. Martabak Gilang mulai dikenal. Harganya murah, rasanya enak.

Bulan ketiga, omzetnya mencapai Rp 50.000 per malam. Ditambah penghasilan dari narik, ia bisa mengumpulkan sekitar Rp 80.000 sehari. Cukup untuk makan, bayar kos, dan — yang paling penting — membeli obat untuk ibunya.

Tiga bulan kemudian, Gilang memiliki kejutan untuk ibunya.

Hari itu, Sabtu — hari libur. Bu Lastri tidak bekerja. Ia duduk di bale-bale bambu di depan kos, menjahit baju yang sobek. Gilang datang dengan tangan di belakang.

"Bu, tutup mata, ya."

Bu Lastri tersenyum bingung. Ia memejamkan mata. Gilang meletakkan sesuatu di atas pangkuannya.

"Buka, Bu."

Bu Lastri membuka mata. Di pangkuannya, ada sebuah kotak karton cokelat. Ia membuka tutupnya. Di dalamnya, sepotong martabak manis — besar, tebal, dengan topping wijen dan susu kental manis yang melimpah. Masih hangat. Uapnya mengepul.

"Ini... ini martabak, Nak?" suara Bu Lastri bergetar.

"Iya, Bu. Martabak kesukaan Ibu. Yang Ibu suka. Gilang yang bikin sendiri."

Bu Lastri menatap martabak itu. Lalu menatap Gilang. Lalu menunduk, dan air matanya jatuh.

"Gilang... Ibu sudah bertahun-tahun tidak makan martabak," bisiknya.

"Ibu ingat, waktu Gilang kecil, Ibu selalu beli martabak untuk Gilang. Sekarang, Gilang yang beli untuk Ibu. Ini hasil jualan Gilang, Bu. Dari uang Gilang sendiri."

Bu Lastri tidak bisa menahan tangisnya. Ia memeluk Gilang erat-erat. Tangannya yang kasar dan penuh kapalan — tangan yang selama 30 tahun bekerja keras membesarkan Gilang — kini memeluk anaknya dengan sepenuh cinta yang tak pernah pudar.

"Gilang... terima kasih, Nak. Ibu... Ibu bangga banget sama kamu," katanya tersedu-sedu.

Gilang ikut menangis. Tapi tangisnya bukan tangis sedih. Ini tangis syukur. Karena ia telah berhasil — bukan menjadi kaya atau sukses di mata dunia — tapi berhasil membuat ibunya tersenyum.

Mereka duduk di bale-bale, di depan kamar kos sempit di pinggir rel kereta, dan memakan martabak itu bersama-sama. Martabak hangat yang dibuat dengan resep sederhana, dengan topping wijen yang melimpah, dengan susu kental manis yang manisnya pas. Rasanya mungkin tidak seenak martabak di hotel berbintang. Tapi bagi Bu Lastri, ini adalah martabak paling enak yang pernah ia rasakan.

Karena martabak ini bukan sekadar martabak. Ini adalah bukti bahwa anak yang ia besarkan dengan keringat dan air mata, kini telah tumbuh menjadi laki-laki yang bisa diandalkan.

Sejak malam itu, Gilang terus menjalankan dua pekerjaannya. Siang sebagai driver, malam sebagai penjual martabak. Setiap Sabtu, ia menyisihkan satu potong martabak khusus untuk ibunya. Dan setiap Sabtu, ibunya tersenyum, dan mereka makan bersama di bale-babe bambu, ditemani suara kereta api yang melintas di kejauhan.

Setahun kemudian, Gilang membuka gerobak martabak tetap di depan gang tempat kosnya. Ia mempekerjakan dua orang tetangga yang juga pengangguran. Bu Lastri — yang kini sudah pensiun dari pekerjaan membersihkan rumah — duduk di kursi dekat gerobak, membantu meracik adonan dan menerima uang dari pelanggan.

Suatu malam, seorang pelanggan bertanya pada Bu Lastri, "Bu, ini martabak siapa yang bikin? Enak banget."

Bu Lastri tersenyum, menunjuk ke arah Gilang yang sibuk menuangkan adonan di atas wajan. "Itu, anak Ibu. Dia yang bikin. Dia yang mulai semua ini. Karena dia ingin Ibu makan martabak."

Pelanggan itu bingung. Tapi Bu Lastri tidak perlu menjelaskan lebih panjang. Ia hanya tersenyum, memandangi anaknya yang bekerja keras di balik gerobak, dan dalam hati ia bersyukur — bersyukur karena telah diberi anak yang akhirnya mengerti arti cinta, pengorbanan, dan sebuah martabak hangat di malam Sabtu.

Tak perlu mansion untuk bahagia. Tak perlu mobil mewah untuk bersyukur. Kadang, sepotong martabak yang dimakan bersama orang yang kita cintai, sudah cukup untuk membuat hidup terasa sempurna.

🌾 Tamat 🌾

We use cookies to improve your experience. By continuing to visit this site you agree to our use of cookies.

× Full Preview