Rani (25 tahun) mengayuh sepeda motor bututnya di tengah kemacetan Jakarta. Jaket biru ekspedisi tempatnya bekerja sudah lusuh, tapi masih ia pakai dengan bangga. Di bagasi belakang, tiga paket menumpuk — hari ini ia sudah mengantar 17 paket sejak subuh. Perjalanan terakhir hari ini adalah ke sebuah alamat di kawasan Pondok Labu. Alamat yang membuat jantung Rani berdegup aneh sejak tadi.
Bukan karena alamat itu mewah atau menyeramkan. Tapi karena alamat itu adalah rumah lamanya. Rumah kontrakan tempat ia dan Ibu tinggal selama 18 tahun. Rumah yang sudah 5 tahun tidak ia kunjungi — sejak Ibu meninggal dunia dan Rani pindah ke kos di daerah lain.
Rani berhenti di depan gerbang rumah itu. Rumahnya masih sama. Pagar kayu yang mulai lapuk. Teras kecil dengan kursi bambu yang dulu menjadi tempat Ibu duduk setiap sore. Tanaman lidah mertua di pot pecah — masih ada, meskipun sudah tidak terurus.
Tangannya gemetar saat menekan bel. Seorang ibu-ibu paruh baya membuka pintu. Wajahnya ramah. Rani tidak mengenalnya — pasti penghuni baru. "Selamat siang, Mbak. Ada paket dari kurir," kata Rani, berusaha menjaga profesionalitasnya.
Ibu itu menerima paket, tersenyum, dan menandatangani ponsel Rani. Tidak ada percakapan lebih. Rani kembali ke motornya, duduk beberapa saat, menatap rumah itu. Rumah yang dulu penuh tawa, penuh aroma masakan Ibu, penuh pelukan hangat. Kini hanya menjadi kenangan yang membeku di dalam dada.
Rani adalah anak tunggal. Ayahnya meninggal saat ia masih berusia 3 tahun — kecelakaan di tempat kerja. Sejak itu, Ibu — Bu Tari — menjadi segalanya baginya. Seorang ibu yang bekerja sebagai buruh jahit di konveksi kecil, pulang larut malam, dan masih sempat membantu Rani mengerjakan PR sebelum tidur.
Ibu tidak pernah kaya. Tapi Ibu selalu punya cara untuk membuat Rani merasa menjadi anak paling beruntung di dunia. Setiap ulang tahun, meskipun tidak ada pesta besar, Ibu selalu memberikan sesuatu. Kadang hanya gorengan kesukaan Rani. Kadang buku tulis baru. Kadang seikat bunga kertas dari halaman belakang.
Rani ingat betul, saat ia diterima di Universitas Negeri Jakarta jurusan Manajemen, Ibu menangis sepanjang malam. Bukan karena sedih — tapi karena bahagia. "Ibu bangga, Nak. Ibu akan kerja keras biar kamu lulus," katanya sambil memeluk Rani.
Tapi takdir berkata lain. Di semester 6, Ibu jatuh sakit. Awalnya hanya batuk-batuk. Lalu demam yang tidak kunjung reda. Dokter di puskesmas merujuk ke rumah sakit. Diagnosis: kanker paru-paru stadium akhir. Sudah menyebar ke mana-mana.
Rani ingat, Ibu yang terbaring di ranjang rumah sakit, masih sempat berbisik, "Ibu minta maaf, Nak. Ibu tidak bisa lihat kamu lulus. Tapi Ibu sudah siapkan sesuatu buat kamu. Nanti... nanti kalau kamu lulus, kamu akan dapet."
Rani tidak mengerti maksud Ibu. Ia mengira itu hanya igauan orang sakit. Dua minggu kemudian, Ibu pergi untuk selama-lamanya. Rani menangis berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Ia hampir putus kuliah.
5 tahun kemudian. Rani berhasil lulus — meskipun terlambat satu tahun.
Ijazahnya kini tersimpan rapi di lemari kos. Tapi mimpi untuk kerja kantoran harus ia tunda. Tidak ada biaya, tidak ada koneksi. Ia memutuskan bekerja sebagai kurir ekspedisi — pekerjaan yang memungkinkannya bertahan hidup sambil terus melamar pekerjaan.
Setiap hari, ia mengendarai motor butut dari satu alamat ke alamat lain. Panas. Hujan. Macet. Ia sudah terbiasa. Yang tidak bisa ia biasakan adalah rasa kehilangan yang tiba-tiba menyerang tanpa aba-aba. Kadang saat melihat ibu-ibu mengantar anaknya sekolah. Kadang saat mendengar seseorang memanggil "Bu" di pasar. Kadang saat ia mengantar paket ke rumah orang, dan melihat seorang ibu memeluk anaknya di teras.
Tapi hari ini, rasa itu terasa lebih kuat. Karena ia baru saja mengantar paket ke rumah masa kecilnya. Paket yang entah kenapa, alamatnya membuat hatinya perih.
Malam itu, Rani tidak bisa tidur.
Ia duduk di lantai kosnya, memandangi langit-langit yang retak. Pikirannya melayang pada Ibu. Pada rumah kontrakan itu. Pada paket yang ia antar hari ini — sebuah kardus cokelat ukuran sedang, tidak terlalu berat, bertuliskan nama pengirim yang tidak ia kenal: "Toko Sepatu Bahagia, Pasar Minggu."
Lalu ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.
"Halo, Mbak Rani? Saya Bu Yanti, penghuni rumah di Pondok Labu. Maaf mengganggu malam-malam. Saya mau tanya... Mbak Rani dulu tinggal di sini, ya?"
Rani tertegun. "I-iya, Bu. Kok Ibu tahu?"
"Saya lihat nama Mbak di ID card waktu Mbak antar paket tadi. Saya ingat nama itu. Almarhumah Bu Tari — ibu Mbak — dulu sering cerita tentang Mbak Rani. Beliau bilang Mbak Rani kuliah di Jakarta. Saya... saya mau cerita sesuatu, Mbak. Paket yang Mbak antar tadi... itu bukan pesanan saya."
Rani mengerutkan dahi. "Maksud Ibu?"
"Paket itu sudah sampai di rumah ini sejak 5 tahun lalu. Waktu saya baru pindah, Pak RT menitipkan sebuah kardus. Katanya, titipan dari Bu Tari — ibu Mbak — untuk dikirimkan ke Mbak Rani kalau Mbak sudah lulus kuliah. Tapi Pak RT lupa alamat Mbak. Tidak ada yang tahu Mbak kost di mana. Paket itu tersimpan di lemari selama 5 tahun. Baru minggu lalu, saya menemukannya lagi saat membereskan gudang. Saya putuskan mengirimnya ke alamat ini — alamat rumah lama — dengan harapan suatu hari Mbak Rani akan menerimanya. Dan hari ini, Mbak sendiri yang mengantarnya. Sungguh sebuah kebetulan yang luar biasa."
Rani tidak bisa berkata-kata. Tangannya gemetar memegang ponsel. "Bu... paket itu... di dalamnya apa?"
"Saya tidak tahu, Mbak. Saya tidak berani membukanya. Tapi menurut Pak RT, ibu Mbak yang menitipkannya sebelum beliau sakit parah. Beliau titip sama Pak RT: 'Pak, tolong simpan ini. Nanti kalau Rani sudah lulus kuliah, tolong kirimkan. Ini hadiah terakhir dari saya untuk dia.'"
Keesokan harinya, Rani mengambil cuti.
Ia kembali ke rumah lamanya untuk mengambil paket itu. Bu Yanti menyambutnya dengan hangat. Ia memberikan kardus cokelat yang sudah agak kusam — sama persis seperti yang Rani antar kemarin. Kardus yang sama. Kardus yang 5 tahun lalu dititipkan Ibu untuknya.
Rani membawa kardus itu ke kosnya. Ia duduk di lantai, menatap kardus itu lama. Tangannya gemetar saat membuka selotip yang sudah mengering. Di dalamnya, ada sebuah kotak sepatu putih bersih — Toko Sepatu Bahagia. Dan di atas kotak sepatu itu, ada sepucuk amplop.
Amplop putih, sudah menguning. Di atasnya, tulisan tangan Ibu yang khas — tidak terlalu rapi, tapi penuh perjuangan:
"Untuk Rani, anak Ibu yang paling Ibu sayangi. Bacalah ini setelah kamu membuka kotak sepatunya."
Rani mengambil amplop itu. Ia tidak bisa menahan air matanya. Ini tulisan Ibu. Tulisan yang 5 tahun tidak ia lihat. Tulisan yang sama yang dulu ada di setiap bekal yang Ibu selipkan di tasku.
Ia membuka amplop itu. Surat di dalamnya sudah menguning, tintanya mulai pudar. Tapi setiap kata masih terbaca jelas.
"Nak Rani...
Kalau kamu membaca surat ini, berarti Ibu sudah tiada. Maaf Ibu pergi tanpa pamit. Maaf Ibu tidak bisa melihat kamu lulus dan memakai toga. Ibu hanya bisa membayangkannya — dan Ibu yakin kamu pasti terlihat cantik sekali.
Nak, di dalam kotak ini ada sepasang sepatu. Ibu membelinya 6 bulan yang lalu, saat Ibu mulai merasa ada yang tidak beres dengan kesehatan Ibu. Ibu menyisihkan uang jahitan sedikit demi sedikit. Kadang Ibu tidak makan siang, biar bisa nabung lebih cepat. Maaf Ibu tidak bisa memberikan yang lebih mahal. Tapi Ibu pilih sepatu ini karena... Ibu selalu ingat. Waktu kamu kelas 6 SD, kamu pernah bilang, 'Bu, suatu hari nanti Rani mau beli sepatu putih sendiri. Pakai uang Rani sendiri. Rani mau jadi orang sukses.'
Ibu tidak lupa kata-kata itu, Nak. Ibu simpan dalam hati Ibu selama bertahun-tahun. Sepatu ini — sepatu putih sederhana — adalah simbol dari mimpi yang akan kamu raih. Ibu ingin kamu memakainya saat wisuda. Saat kamu melangkah ke panggung untuk menerima ijazahmu. Saat kamu memulai babak baru dalam hidupmu.
Maaf Ibu tidak bisa ada di sana untuk melihatnya. Tapi percayalah, Nak... Ibu akan ada di setiap langkah yang kamu ambil. Di setiap sepatu yang kamu pakai. Di setiap senyum yang kamu berikan pada dunia.
Ibu sayang kamu, Rani. Ibu sayang lebih dari apa pun di dunia ini. Jangan pernah menyerah. Kamu adalah anak yang kuat — lebih kuat dari yang kamu kira.
— Ibu, yang akan selalu mencintaimu dari surga"
Rani memeluk amplop itu erat-erat. Ia menangis sejadi-jadinya. Bukan tangis kesedihan — tapi tangis haru yang sudah 5 tahun tertahan.
Dengan tangan gemetar, Rani membuka kotak sepatu itu.
Di dalamnya, terbaring sepasang sepatu putih. Bukan sepatu branded mahal. Bukan sepatu desainer. Sepatu kanvas putih sederhana, model klasik, dengan tali putih yang masih baru. Di bagian dalam, ada label kecil bertuliskan: "Size 38 — Untuk Rani, dari Ibu."
Sepatu itu sudah 5 tahun tersimpan. Tapi masih bersih — karena ibu itu membungkusnya dengan plastik dan silica gel. Ibu memikirkan semuanya. Bahkan untuk hal sekecil itu.
Rani mengeluarkan sepatu itu. Ia memegangnya, merasakan tekstur kanvas yang masih kaku. Lalu perlahan, ia memakainya. Pas. Ukurannya tepat. Ibu masih ingat ukuran sepatunya, meskipun Rani sudah 5 tahun tidak tinggal bersamanya.
Rani berdiri. Ia berjalan ke cermin di kamar kosnya. Di cermin itu, ia melihat dirinya — seorang perempuan 25 tahun, berpakaian biasa, dengan sepatu kanvas putih yang sedikit kaku. Tapi di matanya, ada kilau yang sudah lama padam. Kilau harapan.
"Terima kasih, Bu. Rani akan pakai sepatu ini setiap hari. Rani akan melangkah sejauh mungkin — memakai sepatu pemberian Ibu. Sampai Rani sukses. Sampai Rani bisa membuat Ibu bangga dari surga."
Minggu itu, Rani mengambil keputusan besar.
Ia tidak lagi hanya melamar pekerjaan kantoran. Ia mendaftar program beasiswa S2 di universitas negeri. Sepatu putih pemberian Ibu ia pakai saat wawancara. Dan ia diterima.
Dua tahun kemudian, Rani lulus S2 dengan predikat cum laude. Ia berdiri di atas panggung wisuda, memakai toga hitam, dan di kakinya — ia memakai sepatu kanvas putih itu. Sepatu yang sudah 7 tahun, sudah kusam, sudah luntur di beberapa bagian. Tapi tetap ia pakai.
Di kursi penonton, tidak ada Ibu yang bertepuk tangan. Tapi Rani tahu, di suatu tempat — di langit yang lebih tinggi dari gedung fakultas — Ibu tersenyum. Tersenyum bangga melihat anaknya melangkah dengan sepatu pemberiannya.
Setelah wisuda, Rani diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi. Mereka bertanya tentang kunci keberhasilannya. Rani tersenyum, menunduk, memandangi sepatu putihnya yang lusuh.
"Kunci keberhasilan saya sederhana. Saya punya sepasang sepatu — sepatu yang dibelikan ibu saya 7 tahun lalu, sebelum beliau meninggal. Sepatu ini sempat hilang selama 5 tahun di gudang rumah lama. Tapi suatu hari, tanpa sengaja, saya sendiri yang mengantarnya — karena saya bekerja sebagai kurir."
Ia berhenti sejenak, menahan air mata.
"Itulah momen yang mengubah hidup saya. Saya sadar bahwa cinta ibu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk tiba. Dan ketika tiba — meskipun terlambat 5 tahun — ia tetap menyentuh hati saya dengan cara yang paling indah."
Sekarang, Rani (32 tahun) sudah menjadi manajer di sebuah perusahaan logistik nasional. Ia memiliki tim yang terdiri dari 50 kurir. Setiap pagi, sebelum berangkat, ia selalu memandangi sepatu putihnya yang sudah disimpan dalam kotak kaca di meja kerjanya — sebagai pengingat bahwa perjuangan dimulai dari langkah paling sederhana.
Dan setiap kali ia melihat kurir-kurirnya berangkat mengantar paket, ia tersenyum. Karena ia tahu, di antara ribuan paket yang dikirim setiap hari, mungkin ada satu paket yang berisi cinta — seperti yang pernah ia terima 7 tahun lalu. Paket yang datang terlambat, tapi tidak pernah kehilangan maknanya.
Kadang, kebahagiaan tidak datang tepat waktu. Ia datang di waktu yang paling kita butuhkan, dalam bentuk yang paling tak terduga. Dan ketika ia tiba — meskipun bertahun-tahun terlambat — ia tetap mampu mengubah segalanya.
🌾 Tamat 🌾