Gamelan di Rumah Sebelah

Image source : AI Generated

Rindu tidak pernah menyangka bahwa tetangganya yang misterius akan mengubah cara pandangnya tentang hidup.

Gadis berusia 24 tahun itu baru tiga bulan pindah ke kos di kompleks perumahan tua di Jakarta Selatan. Sebuah kamar kos berukuran 3x4 meter di lantai dua, dengan satu jendela kecil yang menghadap ke rumah-rumah di belakang. Cukup untuk seorang diri. Cukup untuk memulai karier pertamanya sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan swasta.

Tapi ada satu hal yang membuat Rindu penasaran sejak hari pertama. Suara gamelan. Setiap malam, sekitar pukul setengah sembilan, alunan merdu saron, bonang, dan kendang akan terdengar dari rumah di sebelah kosnya.

Suatu Minggu pagi, saat Rindu sedang membeli nasi uduk, ia bertemu dengan seorang lelaki tua. Lelaki itu duduk di bangku kayu di depan rumahnya, memandangi jalanan yang sepi. Rambutnya putih semua, disisir rapi ke belakang. Ia memakai kemeja batik lengan panjang yang lusuh namun bersih.

“Selamat pagi, Nona. Anak baru, ya?”

“Iya, Pak. Rindu namanya. Saya kos di sebelah.”

“Saya Martono. Panggil saja Pak Marto.”

Rindu duduk di kursi kosong di samping Pak Marto — karena entah kenapa, ada kehangatan yang membuatnya betah. Lalu Rindu memberanikan diri bertanya, “Pak, saya sering dengar suara gamelan di malam hari. Itu Bapak yang main?”

Pak Marto terdiam sesaat. Lalu senyumnya melebar. “Oh, Nona dengar? Saya kira sudah tidak ada yang peduli.”

Ternyata Pak Martono — atau Ki Martono — adalah mantan pengrawit Keraton Surakarta. Selama 40 tahun ia mengabdi sebagai penabuh saron di keraton, mengiringi pertunjukan wayang dan tari tradisional. Tapi delapan tahun lalu, setelah pensiun, ia pindah ke Jakarta karena anak satu-satunya bersikeras ingin merawatnya.

Anaknya — Mas Danang — bekerja sebagai diplomat di Belanda. Ia jarang pulang. Rumah besar itu kini hanya dihuni oleh Pak Marto sendiri.

“Anak saya baik, Nona. Sangat baik. Tapi saya merasa seperti burung yang dikurung di sangkar emas,” kata Pak Marto suatu sore. “Gamelan... itu satu-satunya yang membuat saya merasa hidup.”

Rindu menunduk. Ia bisa merasakan kesepian di balik senyum ramah Pak Marto. “Pak, boleh tidak... saya belajar gamelan?”

Pak Marto menatapnya. Matanya berbinar. “Kamu serius, Nona?”

“Serius, Pak.”

Malam berikutnya, Rindu datang ke rumah Pak Marto. Di ruang tengah yang luas, berdiri satu set gamelan lengkap — saron, bonang, gong, kendang, gambang — semuanya tersusun rapi di atas rancakan kayu jati yang diukir indah. Pak Marto memberikan dua tabuh pada Rindu. “Ayo. Saya ajari nada dasar.”

Hari-hari berikutnya menjadi ritual baru bagi Rindu. Setiap malam, sepulang kerja, ia mampir ke rumah Pak Marto. Mereka duduk di ruang tengah, diterangi lampu kuning temaram, dan belajar gamelan. Pak Marto bercerita tentang masa mudanya di keraton — tentang pertunjukan wayang semalam suntuk, tentang bau dupa dan kemenyan, tentang para dalang legendaris yang pernah ia iringi.

Suara gamelan yang dulu hanya terdengar samar dari balik jendela, kini menjadi bagian dari hidup Rindu.

Tapi kehangatan itu terusik ketika Mas Danang pulang tanpa pemberitahuan. Seorang pria berpakaian rapi dengan setelan jas dan koper diplomatik. Ia datang dengan kabar yang memilukan.

“Pak, saya akan bawa Bapak ke Belanda. Rumah ini akan saya jual.”

Pak Marto terdiam lama. Ia berjalan ke ruang tengah, mengambil tabuh, dan mulai menabuh saron dengan pelan. Lagu yang dimainkannya sendu — lagu kerinduan. Untuk masa lalu yang tidak akan kembali. Untuk istri yang sudah tiada. Untuk anak yang sibuk di negeri orang. Dan untuk gamelan yang sebentar lagi akan ia tinggalkan.

Malam itu, Rindu tidak bisa tidur. Ia memikirkan Pak Marto. Ia memikirkan gamelan pusaka yang akan dijual bersama rumah. Keesokan paginya, ia mengambil keputusan. Ia menghubungi teman-temannya dari komunitas karawitan, menghubungi ketua RW, dan mengirim pesan ke Mas Danang — memintanya datang sekali lagi ke rumah Pak Marto pada Sabtu malam.

“Ada kejutan,” tulis Rindu.

Sabtu malam, halaman rumah Pak Marto yang biasanya sepi, mendadak ramai. Para tetangga berdatangan. Dan di ruang tengah, lima anak muda berseragam batik duduk di depan gamelan — teman-teman Rindu dari komunitas karawitan. Mereka mulai menabuh Ladrang Pangkur, gending klasik yang diajarkan Pak Marto pada Rindu di malam pertama.

Rindu mengambil mikrofon. “Pak Marto... terima kasih sudah mengajar saya. Terima kasih sudah berbagi musik yang luar biasa ini. Malam ini, kami ingin mempersembahkan lagu untuk Bapak.”

Di tengah-tengah lagu, Rindu mulai menyanyi dengan suara lirih — tembang yang ia tulis sendiri. Beberapa tetangga menyeka air mata. Pak Marto duduk terpaku. Tangannya gemetar. Air mata mengalir di pipinya yang keriput. Ia menangis bahagia.

Ketika lagu selesai, Rindu berlutut di depan Pak Marto. “Pak, gamelan Bapak tidak boleh dijual. Ini warisan. Ini jiwa Bapak. Dan kami — saya dan teman-teman — kami ingin belajar lebih banyak. Kami ingin melestarikannya.”

Pak Marto memeluk Rindu erat-erat. “Terima kasih, Nona. Kamu telah mengingatkan saya bahwa saya tidak sendiri.”

Mas Danang yang menyaksikan dari kejauhan, mendekat dan berlutut di sisi ayahnya. “Pak... maafkan Danang. Maafkan Danang yang pikir yang terbaik untuk Bapak adalah di Belanda. Tapi Danang baru sadar... yang terbaik untuk Bapak adalah di sini. Dengan gamelan Bapak. Dengan orang-orang yang mencintai Bapak.”

Rumah tua itu tidak jadi dijual. Setiap akhir pekan, anak-anak muda dari komunitas karawitan datang ke rumah Pak Marto untuk belajar. Beberapa bulan kemudian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengirim tim untuk mendokumentasikan gamelannya. Pak Marto diangkat menjadi pengajar tamu di Institut Seni Indonesia — sebuah kehormatan yang tidak pernah ia bayangkan akan datang di usia senjanya.

Kini Pak Marto punya puluhan murid. Cucu-cucunya dari Belanda sesekali pulang dan melihat kakek mereka di atas panggung, menabuh gamelan di hadapan ratusan orang. Dan setiap malam, Rindu masih datang. Seperti biasa. Duduk di ruang tengah, minum teh, dan bercerita.

Rumah yang dulu hanya menyimpan gamelan dan kenangan, kini penuh dengan suara tawa, alunan musik, dan cinta dari seorang tetangga yang datang tanpa diundang, tapi pergi sebagai bagian dari keluarga.

🌾 Tamat 🌾

We use cookies to improve your experience. By continuing to visit this site you agree to our use of cookies.

× Full Preview