Namaku Jumadi. Usiaku 45 tahun. Dan baru di usia inilah aku menemukan bahwa di balik kedua tanganku yang hitam oleh oli, ada sesuatu yang indah yang selama ini aku pendam sendiri.
Aku adalah tukang tambal ban di pinggir jalan raya Bandung — tepatnya di tikungan jalan menuju Lembang. Setiap hari, dari jam setengah tujuh pagi sampai jam delapan malam, aku duduk di kursi kayu usang di samping gerobak bannya. Menunggu pelanggan. Menambal ban. Kadang mengganti pentil. Kadang hanya mengisi angin — gratis, kalau yang minta anak sekolah atau ibu-ibu tua.
Banyak orang memandang remeh pekerjaanku. Mereka menyebutku "tukang tambal ban" dengan nada setengah menghina. Tapi aku tidak pernah peduli. Pekerjaan ini halal. Pekerjaan ini menghidupi istri dan anakku selama 20 tahun terakhir.
Tapi ada satu hal yang tidak diketahui siapa pun tentang diriku. Sebuah rahasia yang aku simpan rapat-rapat di dalam buku catatan usang yang selalu aku bawa di saku celanaku.
Aku menulis puisi.
Bukan puisi-puisi puitis ala sastrawan besar. Bukan sajak-sajak rumit yang penuh metafora berbunga-bunga. Puisi-puisiku sederhana. Tentang hidup. Tentang perjuangan. Tentang seorang tukang tambal ban yang setiap hari duduk di pinggir jalan dan melihat dunia berlalu di depannya.
Semuanya berawal 10 tahun lalu. Saat itu, aku sedang menambal ban seorang bapak-bapak pengusaha. Di sela-sela menunggu, ia mengeluarkan buku saku dan mulai menulis sesuatu. Aku bertanya, "Wah, Bapak nulis apa?"
"Puisi, Pak. Saya memang suka nulis sejak muda," jawabnya.
Sore itu, sepulang kerja, aku tidak bisa tidur. Pikiranku dipenuhi kata-kata. Aku mengambil buku bekas punya Raka — ada beberapa halaman kosong di bagian belakang — dan mulai menulis. Tanganku yang kaku dan penuh kapalan, menggenggam pensil dengan canggung. Tapi perlahan, kata-kata mulai mengalir.
Hasilnya? Jelek. Lompat-lompat. Tidak jelas temanya. Tapi rasanya... luar biasa.
Sejak malam itu, aku tidak bisa berhenti. Setiap malam, setelah mandi dan membersihkan oli dari kuku-kukuku, aku duduk di bale-bale bambu di belakang rumah. Di bawah lampu 15 watt yang temaram, aku menulis. Tentang pelanggan yang aku temui hari itu. Tentang hujan yang turun deras di pinggir jalan. Tentang anak kecil yang membeli cilok di seberang. Tentang istriku yang tetap setia meskipun hidup pas-pasan.
Tapi aku tidak pernah memberitahu siapa pun — termasuk istriku sendiri, Sari.
Sari adalah perempuan yang realistis. Ia bekerja sebagai buruh cuci di tiga rumah tetangga. Setiap hari ia pulang dengan punggung pegal dan tangan pecah-pecah. Kadang ia mengeluh karena uang belanja tidak cukup. Kadang ia marah karena aku pulang larut malam — padahal aku hanya duduk di bale-bale menulis puisi.
"Pa, mending Bapak cari kerja sampingan. Jangan melamun terus," katanya suatu malam saat melihatku termenung di bale-bale.
Aku hanya tersenyum. Bagaimana aku bisa bilang bahwa aku tidak melamun? Aku sedang menciptakan dunia. Dunia di mana seorang tukang tambal ban bisa menjadi pujangga.
Anakku, Raka, yang kini duduk di bangku kelas 2 SMA, juga tidak tahu. Ia sering malu dengan pekerjaanku. Suatu hari, teman sekelasnya melihatku sedang menambal ban di pinggir jalan. "Ra, itu bapakmu, ya?" tanya temannya. Raka menjawab dengan suara lirih, "Bukan. Itu tukang tambal ban langganan."
Aku mendengarnya. Hatiku perih. Tapi aku tidak marah. Aku hanya menunduk dan melanjutkan pekerjaanku. Sejak saat itu, aku semakin rajin menulis puisi. Mungkin sebagai pelarian. Mungkin sebagai cara untuk tetap merasa berharga.
Hingga suatu sore di bulan November, seorang lelaki tua berhenti di tambal bannya.
Ia mengendarai mobil Suzuki Carry butut, tahun 1995-an. Bannya kempes — kena paku, katanya. Aku segera mengambil dongkrak dan membuka ban-nya. Lelaki itu duduk di kursi plastik yang aku sodorkan, menunggu dengan sabar.
Namanya Pak Rendra. Rambutnya putih semua. Kumisnya tebal. Ia memakai baju koko lusuh dan sarung. Tapi matanya — matanya tajam, seperti sedang membaca sesuatu di balik kerutan di wajahnya.
Di sela-sela menambal, aku tidak sengaja menjatuhkan buku catatanku. Buku itu jatuh terbuka di lantai. Halaman yang terbuka berisi puisi yang aku tulis seminggu lalu — tentang setangkai mawar liar yang tumbuh di pinggir jalan aspal.
Pak Rendra memungutnya. Ia membaca. Dan matanya melebar.
"Ini... puisi?" tanyanya, nada suaranya tidak percaya.
Aku tersipu malu. "Ah, itu cuma coreng-coreng iseng, Pak."
"Boleh saya baca satu?"
Aku mengangguk canggung. Pak Rendra membaca puisi itu dengan suara pelan. Matanya bergerak mengikuti setiap baris. Tangannya — yang keriput dan sedikit gemetar — memegang buku itu dengan hormat, seperti sedang memegang benda pusaka.
Setelah selesai, ia menatapku. Lama. "Pak Jumadi... ini bukan coreng-coreng iseng. Ini sastra. Kamu punya bakat."
Aku tertawa kecil. "Ah, Bapak bercanda. Saya ini cuma tukang tambal ban. Lulusan SD. Mana mungkin jadi penyair."
"Siapa bilang penyair harus lulusan S1 sastra?" Pak Rendra tersenyum. "Chairil Anwar cuma lulusan MULO. Sapardi Djoko Damono juga dari desa. Bakat tidak butuh ijazah. Bakat butuh keberanian untuk keluar."
Aku terdiam.
Pak Rendra kemudian memperkenalkan dirinya. Ia adalah pensiunan dosen sastra Indonesia dari Universitas Padjajaran. Selama 35 tahun ia mengajar puisi, dan kini di masa pensiunnya, ia masih aktif di Komunitas Sastra Bandung. "Kami setiap bulan mengadakan acara pembacaan puisi di Taman Budaya. Dan saya ingin kamu hadir, Pak Jumadi. Sebagai pembaca."
Tawaran itu membuatku ketakutan setengah mati.
Selama 10 tahun, puisi-puisiku hanya aku simpan di dalam buku catatan. Tidak pernah aku bacakan pada siapa pun. Bahkan pada Sari, istriku sendiri. Dan sekarang, seorang profesor sastra memintaku untuk membacakannya di depan publik?
"Bapak... saya ini tukang tambal ban. Tangan saya hitam oleh oli. Kuku saya kotor. Suara saya serak karena setiap hari berteriak manggil pelanggan. Masa saya naik panggung baca puisi?"
Pak Rendra tertawa. "Justru itu yang membuatnya istimewa. Puisi yang lahir dari tangan hitam dan hati yang tulus, akan lebih menyentuh daripada puisi yang ditulis di ruangan ber-AC oleh orang yang tidak pernah merasakan lapar."
Seminggu kemudian, dengan perasaan campur aduk, aku memberanikan diri bilang pada Sari.
Saat itu kami sedang makan malam — nasi, tahu goreng, dan sambal terasi. Menu standar yang sudah bertahun-tahun tidak berubah. Raka sedang belajar di kamar.
"Bu... aku mau bilang sesuatu."
Sari menatapku curiga. "Kenapa? Ada utang?"
"Bukan. Aku... selama ini aku punya rahasia. Aku suka nulis puisi."
Sari menghentikan kunyahannya. Ia memandangku heran. "Puisi? Bapak?"
"Iya. Sudah 10 tahun. Dan ada seorang profesor yang nemu buku catatanku. Dia minta aku baca puisi di acara komunitas sastra."
Sari terdiam lama. Lalu ia tertawa. Bukan tawa bahagia — tapi tawa getir. "Bapak, umur Bapak sudah 45 tahun. Sudah tua. Sudah jadi tukang tambal ban. Buat apa berpuisi? Buat apa baca puisi di depan orang? Malu-maluin."
Kata-katanya menusuk. Tapi aku tidak marah. Aku tahu ia hanya khawatir. Khawatir aku dipermalukan. Khawatir hidup kami yang pas-pasan ini bertambah runyam karena aku dianggap gila.
Malam itu, aku duduk di bale-bale seperti biasa. Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak menulis. Aku hanya memandangi langit malam yang hitam. Rasa percaya diriku runtuh sudah.
Keesokan paginya, Pak Rendra datang lagi ke tambal bannya.
Ia membawa sebuah buku — antologi puisi penyair-penyair jalanan dari seluruh Indonesia. "Pak Jumadi, saya bawakan ini. Biar Bapak tahu bahwa Bapak tidak sendiri."
Aku membuka buku itu. Nama-namanya: Kusprihadi (tukang becak), Suwardi (kuli bangunan), Joko Pinurbo (guru, sebelum terkenal). Mereka semua adalah orang biasa. Bahkan ada yang lebih rendah dariku secara ekonomi. Tapi puisi-puisi mereka... luar biasa. Tajam. Jujur. Menyayat hati.
Pak Rendra meletakkan tangannya di pundakku. "Pak Jumadi, bakat tidak memandang profesi. Yang memandang rendah bakat karena profesi, adalah mereka yang tidak pernah merasakan indahnya berkarya. Jangan biarkan rasa takut mengubur mimpimu."
Minggu itu, aku memutuskan untuk ikut acara pembacaan puisi.
Bukan karena aku percaya diri. Tapi karena aku tidak ingin menyesal di usia senja. Aku ingin suatu hari nanti, Raka — anakku — bisa bilang pada teman-temannya, "Bapakku tukang tambal ban. Tapi beliau juga penyair."
Aku memilih satu puisi — puisi yang paling aku banggakan. Berjudul "Hitam di Ujung Jariku." Puisi tentang tanganku yang hitam oleh oli. Tentang setiap tetes keringat yang jatuh ke aspal. Tentang kebanggaan yang aku rasakan setiap kali aku berhasil memperbaiki ban seseorang dan mereka bisa melanjutkan perjalanan.
Malam H-1, aku berlatih di bale-bale. Tanpa sadar, Sari mendengarkan dari balik jendela.
Ia mendengar suaraku yang serak membacakan bait-bait puisi dengan penghayatan yang tidak pernah ia bayangkan. Ia mendengar aku berbicara tentang cinta — bukan cinta romantis, tapi cinta pada kehidupan, pada kerja keras, pada keluarga yang tetap bertahan meskipun diterpa badai.
Pintu dapur terbuka. Sari keluar. Air matanya mengalir. "Pa... maafin Sari. Sari tidak tahu kalau Bapak bisa... sebagus ini."
Aku terkejut. "Bu, dari tadi Bu dengar?"
Sari mengangguk. Ia duduk di sampingku di bale-bale. Untuk pertama kalinya dalam 20 tahun menikah, ia memegang tanganku yang hitam dan berkata, "Bapak... Sari bangga. Besok Sari dan Raka akan datang. Sari ingin lihat Bapak baca puisi di atas panggung."
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa memeluknya. 20 tahun aku merasa tidak dipahami. Tapi malam itu, di bawah lampu 15 watt, akhirnya ia mengerti.
Malam pembacaan puisi digelar di Taman Budaya Bandung.
Panggungnya sederhana — papan kayu, lampu sorot, dan mikrofon berdiri di tengah. Di kursi penonton, duduk sekitar 150 orang. Mahasiswa, dosen, seniman, dan beberapa orang tua seperti Pak Rendra. Di barisan paling belakang, aku melihat Sari dan Raka duduk. Raka memasang hoodie — mungkin malu. Tapi setidaknya ia datang.
Saat namaku dipanggil, jantungku berdebar kencang. Aku berjalan ke panggung dengan kaki gemetar. Di tangan kiriku, aku memegang buku catatan usang. Di tangan kananku, mikrofon yang dingin.
Aku menatap kerumunan. Lalu aku melihat Sari. Ia tersenyum. Raka — untuk pertama kalinya — mengangkat ponselnya, merekam.
Aku menarik napas panjang. Lalu aku mulai membaca.
"Hitam di Ujung Jariku
Bukan kotor. Bukan noda.
Ia adalah tinta.
Tinta yang menuliskan kisah setiap ban yang kutambal.
Setiap pengendara yang kutolong.
Setiap senyum yang kulihat saat mereka kembali melaju.
..."
Aku terus membaca. Kata-kata mengalir dengan sendirinya. Aku tidak lagi gugup. Aku tidak lagi melihat penonton. Yang aku lihat hanyalah hidupku — 20 tahun di pinggir jalan, menambal ban, menyaksikan dunia berlalu. Aku bicara tentang Sari yang tetap setia. Tentang Raka yang membuatku ingin terus berjuang. Tentang Pak Rendra yang datang seperti malaikat di sore hari.
Saat aku selesai, ruangan itu hening. Beberapa detik yang terasa seperti selamanya.
Lalu tepuk tangan bergemuruh. Bukan tepuk tangan basa-basi. Tepuk tangan yang tulus — dari hati. Beberapa orang di barisan depan menyeka air mata.
Aku menunduk. Dan di sudut mataku, aku melihat Sari berdiri. Bertepuk tangan. Menangis. Tersenyum.
Raka — nakalku yang selama ini malu — berlari ke panggung. Ia memelukku. "Pak... maafin Raka. Raka minta maaf. Raka baru tahu Bapak keren banget."
Aku memeluknya erat. 20 tahun menjadi tukang tambal ban. 10 tahun menulis puisi dalam diam. Dan malam ini, semuanya terbayar lunas.
Sejak malam itu, hidupku berubah. Bukan berarti aku berhenti menjadi tukang tambal ban. Aku tetap berjualan setiap hari, tetap duduk di kursi kayu, tetap menambal ban dengan tangan hitamku. Tapi kini, di samping gerobak, aku memasang papan kecil bertuliskan: "Bengkel Tambal Ban & Puisi — Silakan Mampir."
Banyak pelanggan yang penasaran. Mereka bertanya, "Pak, beneran bisa baca puisi?" Aku akan tersenyum, mengambil buku catatanku, dan membacakan satu puisi untuk mereka. Gratis. Tidak dipungut biaya tambahan.
Beberapa pelanggan menjadi pelanggan tetap — bukan karena butuh tambal ban, tapi karena ingin mendengar puisi baruku. Seorang mahasiswa sastra dari Unpad bahkan menjadikan puisi-puisiku sebagai bahan skripsinya. Ia menulis tentang "Estetika Puisi Pekerja Kasar di Pinggir Jalan Bandung."
Pak Rendra meninggal setahun kemudian. Tapi sebelum pergi, ia sempat menitipkan pesan untukku melalui istrinya. Sepucuk surat pendek:
"Jumadi, teruslah menulis. Jangan pernah berhenti. Ingat, di balik setiap tangan yang kotor, ada hati yang bersih. Dan di balik setiap puisi, ada jiwa yang abadi. Kamu adalah bukti bahwa sastra tidak lahir dari gedung tinggi, tapi dari kehidupan yang dijalani dengan jujur."
Kini, di usiaku yang ke-47, aku masih duduk di pinggir jalan yang sama. Tangan ini masih hitam oleh oli. Tapi buku catatanku sudah berganti 12 kali. Dan setiap malam, di bale-bale bambu di belakang rumah, aku masih menulis. Karena selama masih ada kehidupan, selama masih ada kata-kata yang menunggu untuk ditulis, aku tidak akan pernah berhenti.
Satu hal yang aku pelajari: jangan pernah meremehkan seseorang hanya dari penampilannya. Tukang tambal ban di pinggir jalan itu—dia mungkin tidak menarik di mata dunia. Tapi di dalam saku celananya, ia menyimpan dunia yang tidak pernah kamu bayangkan. Dunia yang ditulis dengan tinta hitam dan hati yang jujur.
🌾 Tamat 🌾