Hujan mengguyur Kota Yogyakarta tanpa ampun sejak subuh. Jalan-jalan di kawasan Pingit mulai tergenang, dan Rudi harus menginjak rem lebih sering dari biasanya. Angkot biru nomor AG 7621 yang ia setir sejak lima tahun lalu kini menjadi satu-satunya penopang hidup keluarga kecilnya.
Rudi baru berusia 32 tahun, tetapi raut wajahnya sering membuat orang mengira ia lebih tua. Keriput halus mulai mengelilingi matanya, hasil dari berjam-jam menatap jalanan kota yang semakin padat. Pagi itu, seperti biasa, ia berangkat pukul lima, meninggalkan Wati—istrinya—yang sedang menyuapi Dewi, putri semata wayang mereka.
Dewi baru lima tahun. Dalam setahun terakhir, batuknya tidak kunjung sembuh. Kadang demam datang seminggu sekali, lalu reda, lalu datang lagi. Wati sudah beberapa kali membawanya ke puskesmas, tapi obat yang diberikan hanya bertahan sementara.
"Pak, ke Jombor, pak," teriak seorang penumpang dari belakang, membuyarkan lamunan Rudi.
Hari itu Rudi bolak-balik dari Terminal Jombor ke Pasar Kranggan. Penumpang lumayan ramai meskipun hujan. Di setiap pemberhentian, matanya awas memantul ke kaca spion. Tubuhnya sudah hafal setiap tikungan, setiap lampu merah, dan setiap lubang di jalan.
Sekitar pukul setengah dua belas siang, Rudi memutuskan istirahat sebentar. Ia memarkir angkotnya di pinggir jalan dekat warung soto di daerah Demangan. Sambil menunggu porsi sotonya datang, ia merapikan tempat duduk—dan tangannya menyentuh sesuatu di sela jok belakang.
Sebuah dompet. Terbuat dari kulit sintetis, sudah sedikit usang di bagian sudutnya. Dengan gerakan cepat, Rudi meraihnya dan membuka.
Matanya membelalak.
Di dalam dompet itu terdapat lembaran uang seratus ribuan yang ditumpuk rapi. Juga ada secarik kertas lusuh yang dilipat dengan hati-hati. Rudi membuka kertas itu. Tulisan tangan dengan aksara Jawa yang sedikit bergelombang—tulisan orang tua—menyebutkan: "Biaya Operasi Pak Marto 45.000.000. Iuran RT 03 RW 07."
Rudi tertegun. Ia hitung uang di dompet itu. Tepat. Empat puluh lima juta rupiah. Angka yang jumlahnya hampir setara dengan setengah tahun pendapatannya sebagai supir angkot.
Ia duduk membisu. Hatinya berperang. Di satu sisi, Dewi sedang sakit. Uang kontrakan sudah telat dua bulan. Istrinya, Wati, setiap malam menahan tangis melihat anaknya terbangun karena sesak napas.
"Empat puluh lima juta bisa mengubah semuanya," bisik hati kecilnya. "Kontrakan lunas. Dewi bisa dibawa ke rumah sakit yang lebih bagus."
Tapi ada satu kalimat di kertas itu yang membuat tangannya tak kuasa menutup dompet itu kembali: "Operasi Pak Marto." Pak Marto adalah tetangganya di kampung. Seorang lansia pensiunan buruh pabrik yang tinggal sendirian di rumah reot tak jauh dari kontrakan Rudi. Belakangan ini Pak Marto memang jarang keluar. Kabarnya, jantungnya bermasalah dan butuh operasi yang biayanya tidak murah.
Rudi masih ingat bagaimana Pak Marto dua bulan lalu memberinya sebungkus nasi bungkus ketika ia pulang dengan angkot kosong karena sepi penumpang.
"Wis, Pak Marto butuh, rek," kata Rudi lirih pada dirinya sendiri.
Ia mengambil ponsel di sakunya, jari-jarinya menekan nomor Ketua RT. Dengan genggaman erat pada dompet itu, Rudi tahu satu hal: kejujuran mungkin tidak selalu menguntungkan, tapi kehilangan kepercayaan diri sendiri adalah harga yang terlalu mahal untuk dibayar.
Setengah jam kemudian, Rudi sudah berdiri di teras rumah Pak Marto. Dompet itu ia genggam di tangan kiri, sementara tangan kanannya gemetar hendak mengetuk pintu.
Yang terjadi setelah pintu itu terbuka, benar-benar di luar dugaannya. Seluruh kampung seolah berhenti sejenak. Ibu-ibu yang tadi mengumpulkan iuran berhamburan keluar. Pak RT yang kumisnya tebal hampir meneteskan air mata. Dan Pak Marto sendiri—laki-laki tua dengan baju lusuh batik lengan panjang—terdiam ketika Rudi menyerahkan dompet itu dengan kedua tangan.
"Rudi, kowe iki..." suara Pak Marto parau. "Ora nyono, Rudi. Ora nyono." (Tidak menyangka)
Malam itu, di rumah kontrakan Rudi yang sempit, Wati membuka pintu untuk para tetangga yang datang berbondong-bondong. Mereka tidak membawa apa-apa selain nasi bungkus, lauk pauk, dan amplop kecil yang dikumpulkan secara spontan.
Pak RT berbicara di antara mereka: "Nduk, uang operasi Pak Marto utuh balik. Kabeh merga bojomu. Saiki giliran kampung sing kudu mbantu kowe." (Semua karena suamimu. Sekarang giliran kampung yang harus membantumu)
Malam itu, setelah semua tamu pulang, Wati menangis di bahu Rudi. Bukan karena sedih—tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, ia merasa dikelilingi oleh orang-orang yang benar-benar peduli. Dewi, yang sejak tadi duduk di pangkuan ayahnya, memeluk leher Rudi erat-erat.
"Pak Dewi bangga," bisik Wati nyaris tak terdengar.
Di luar jendela, hujan mulai reda. Lampu penerangan jalan di gang sempit itu berkedip, tapi bagi Rudi, malam itu adalah yang paling terang dalam hidupnya. Ia telah kehilangan banyak uang demi sebuah dompet yang bukan miliknya, tetapi ia mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh seluruh uang di dunia.
Harga diri. Dan kampung halaman yang sungguh-sungguh menjadi rumah.
Tiga hari kemudian, Dewi berhasil diperiksa di rumah sakit yang lebih lengkap dengan biaya dari hasil urunan warga. Diagnosisnya ternyata bukan batuk biasa—tapi bronkitis kronis yang perlu penanganan rutin. Masih panjang jalan yang harus ditempuh. Tapi Rudi tidak sendirian lagi.
Di dashboard angkotnya kini terpampang stiker kecil yang ditempel salah satu warga tanpa sepengetahuannya. Tertulis: "ANGKOT JUJUR — Warga RW 07."
Setiap kali Rudi melihat stiker itu, senyum kecil mengembang. Kadang ia masih ingat beratnya dompet itu di tangannya, dan betapa mudahnya ia bisa memilih jalan lain. Tapi ia bersyukur, begitu bersyukur, bahwa di antara sekian banyak pilihan yang mungkin, ia memilih yang paling sulit—dan yang paling benar.