Hari itu, Dika pulang dengan muka cemberut. Ia baru saja bertengkar dengan teman-temannya di sekolah. Bukan karena hal besar, hanya soal uang jajan. Tapi bagi Dika, itu cukup untuk membuatnya semakin membenci keadaan.
Sejak ayah kandungnya pergi enam tahun lalu, hidup Dika berubah drastis. Rumah yang dulu hangat kini terasa asing. Apalagi setelah ibu menikah lagi dengan Pak Herman, seorang sopir angkutan kota.
"Dik, makan dulu. Ibu masak sayur asem kesukaanmu."
Dika tidak menjawab. Ia masuk ke kamar dan membanting pintu.
Di luar, ia bisa mendengar suara Pak Herman yang baru pulang. Suara sandal jepit yang diseret, napas berat, dan batuk-batuk kecil yang sudah menjadi pemandangan rutin setiap sore.
Dika benci semua tentang Pak Herman. Cara ia duduk, cara ia tertawa, cara ia memanggilnya "Nak" yang terdengar sangat dipaksakan. Dika benci melihat Pak Herman makan dengan lahap dari masakan ibunya. Dika benci melihat Pak Herman tidur di kamar yang dulu ditempati ayah kandungnya.
Yang paling Dika benci, Pak Herman adalah sopir angkot. Kotor. Berdebu. Tidak berkelas. Teman-teman Dika di sekolah naik mobil antar-jemput, sementara ia harus sembunyi-sembunyi kalau naik angkot karena malu ketahuan Pak Herman yang menyetir.
"Dik, kamu sakit?" suara ibu dari balik pintu.
"Gue gapapa, Bu. Capek aja."
"Buka pintunya, Nak. Ibu bawa susu hangat."
Dika membuka pintu sedikit. Ibunya tersenyum, tapi Dika bisa melihat mata sembab ibunya. Pasti habis nangis lagi.
"Bu, kenapa sih lo milih dia? Apa karena duit? Kita jadi apa-apa? Hidup kita tambah susah," Dika melontarkan kata-kata tajam.
Ibunya diam. Hanya menghela napas panjang.
"Suatu hari kamu akan mengerti, Dik."
"Gue gak mau ngerti! Yang gue tahu, Bokap ninggalin kita karena dia. Sekarang lo sama dia!"
Tuduhan itu melesat tanpa bukti. Tapi Dika sudah terlalu dikuasai amarah.
Ibunya pergi dengan air mata. Dika membanting pintu lagi.
Di luar, ia mendengar suara Pak Herman yang bertanya pelan, "Kenapa lagi, Bu?" dan ibu menjawab, "Gak papa, Pak. Biasalah anak remaja."
Pak Herman hanya berkata, "Sabarlah, Bu. Dia masih butuh waktu."
Waktu. Dika membenci kata itu. Seolah waktu akan mengubah segalanya. Tidak akan pernah.
Minggu-minggu berlalu. Dika semakin menjauh. Ia jarang di rumah, lebih suka nongkrong di warnet sampai malam. Nilai-nilainya di sekolah mulai turun. Ibu dipanggil wali kelas.
"Bu Rina, Dika anak pinter. Tapi akhir-akhir ini konsentrasinya terganggu. Ada masalah di rumah?"
Ibu hanya bisa menunduk.
Pak Herman, yang tidak diundang ke pertemuan, diam-diam menunggu di luar sekolah dengan angkotnya. Ketika ibu keluar dengan wajah lesu, Pak Herman tidak bertanya apa-apa. Ia hanya berkata, "Ayo, Bu, pulang. Saya masakin mi rebus."
Malam itu, Dika pulang larut. Sepi. Tidak ada yang menunggu. Hanya sepiring nasi dan lauk yang ditutup plastik. Dan selembar kertas dari ibu: "Dik, Ibu sama Bapak ke rumah sakit. Bapak masuk angin berat. Ibu masakin nasi sama telur dadar. Dimakan, ya."
Dika meremas kertas itu dan membuangnya ke keranjang sampah.
"Halah, pura-pura sakit."
Tiga hari kemudian, Dika baru tahu bahwa Pak Herman benar-benar sakit. Bukan masuk angin biasa. Tapi tipes yang sudah parah karena kebanyakan menahan lapar dan kelelahan.
"Dia gak makan siang setiap hari, Dik," kata ibu suatu malam dengan suara bergetar. "Uang jajan untuk supir angkot cuma cukup buat rokok murah dan kopi. Makan siang dia skip. Katanya buat nabung."
"Nabung buat apa? Buat bayar cicilan angkot yang gak laku-laku?"
"Dia nabung buat kamu, Dik."
Dika terdiam.
"Ibu tahu kamu marah. Tapi coba kamu lihat. Bapakmu—Pak Herman—setiap hari narik dari jam lima pagi sampai jam sembilan malam. Kadang sampe jam sebelas kalau lagi ramai. Ia gak pernah mengeluh. Ia gak pernah marah sama kamu, meskipun kamu selalu kasar."
"Ibu, jangan panggil dia bapak!"
"Biarkan Ibu selesai bicara. Kamu ingat waktu kamu jatuh dari sepeda tahun lalu? Patah tulang? Yang bayar rumah sakit siapa? Pak Herman jual jam tangan satu-satunya peninggalan bapaknya. Kamu ingat waktu kamu minta seragam baru buat upacara? Padahal ia baru bayar cicilan angkot. Ia pinjam uang tetangga. Dan ia gak pernah bilang sama kamu."
Dika membisu.
"Dan kamu tahu, kenapa ia ambil pekerjaan jadi sopir angkot? Padahal dulu ia punya toko bangunan? Karena ia keluar dari tokonya buat jagain kita. Mantan istrinya minta cerai karena ia terlalu sering pulang malam. Jadi ia memilih pekerjaan yang jamnya fleksibel. Biar bisa jemput kamu sekolah, anter Ibu belanja."
"Tapi... tapi gak ada yang minta dia ngelakuin itu semua!"
"Ia lakukan karena ia sayang, Dik. Bukan karena terpaksa."
Malam itu, Dika tidak bisa tidur.
Pikirannya berantakan.
Esoknya, ia pamit mau ke rumah teman. Tapi langkahnya justru membawanya ke terminal. Ia mencari angkot yang biasa dikemudikan Pak Herman.
Angkot biru bernomor itu terparkir di pinggir. Tapi tidak ada Pak Herman di dalamnya. Hanya ada seorang sopir lain yang duduk di pintu.
"Bang, Pak Herman mana, ya?"
"Ooh, Herman sopir yang biasa pegang angkot ini? Katanya lagi sakit. Angkotnya udah dijual tuh."
"Dijual?"
"Iya. Kemarin lusa. Katanya butuh uang buat biaya rumah sakit anaknya. Padahal angkot itu satu-satunya sumber penghasilan dia."
Dika merasa bumi berputar.
Ia berlari pulang.
Sesampainya di rumah, ia melihat Pak Herman terbaring lemah di dipan bambu depan rumah. Ibu sedang mengompres keningnya.
Dika berhenti di ambang pintu.
Pak Herman membuka matanya. Melihat Dika, tersenyum lemah.
"Nak... Dika pulang? Udah makan?"
Itu yang pertama kali Pak Herman katakan.
Dika tidak sanggup menjawab. Air matanya mengalir begitu saja. Ia berlari ke samping dipan, berlutut, dan memeluk tubuh kurus Pak Herman yang bergetar.
"Pak... maafin Dika. Maafin Dika, Pak."
Pak Herman terkejut. Ia tidak menyangka. Selama hampir tiga tahun, ia hanya menerima kebencian dari anak ini.
"Udah, Nak. Gak apa-apa. Bapak gak apa-apa."
"Angkotnya dijual, Pak, buat biaya Dika. Dika tahu."
Pak Herman terdiam. Ibu menutup mulutnya, menahan tangis.
"Angkot aja bisa dicari lagi, Nak. Tapi kamu cuma satu. Bapak gak mau kehilangan kamu."
Dika menangis semakin keras.
Sejak hari itu, hubungan Dika dan Pak Herman berubah perlahan. Butuh waktu, memang. Luka tidak bisa sembuh dalam semalam. Tapi setiap pagi, Dika mulai membantu Pak Herman yang kini mencari nafkah dengan menjadi tukang ojek. Dika membersihkan motor, menyiapkan kopi, dan berpesan, "Pak, jangan lupa makan siang, ya."
Dan Pak Herman akan menjawab dengan senyum, "Iya, Nak. Bapak jangan."
Cerita ini bukan tentang kisah yang sempurna. Tapi tentang bagaimana pengorbanan diam-diam bisa meluluhkan hati yang paling keras sekalipun. Dan tentang seorang sopir angkot sederhana yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.