Setiap sore, gerobak sate Pak Agus mangkal di simpang tiga jalan dekat pasar. Gerobaknya sederhana, catnya sudah mengelupas di sana-sini, tapi aroma sate bakar yang mengepul selalu berhasil mengundang pelanggan berdatangan. Tidak pernah sepi, karena racikan bumbu kacang buatan istrinya memang juara.
Pak Agus sudah delapan tahun berjualan sate keliling. Dari gerobak itulah ia membiayai sekolah anak semata wayangnya, Rina, yang kini duduk di bangku kelas 12 SMA. Istrinya, Bu Yanti, membantu membuat bumbu dan lontong dari pagi buta. Mereka tinggal di kontrakan sempit di belakang pasar, tidak mewah, tapi cukup untuk hidup sederhana.
Rina adalah anak yang pintar. Nilainya selalu masuk tiga besar di sekolahnya. Ia bercita-cita masuk Universitas Indonesia, jurusan Sastra Indonesia. Tapi ada satu hal yang selama ini menggerogoti hatinya: rasa malu pada pekerjaan ayahnya.
Setiap pulang sekolah, Rina sengaja mengambil jalan memutar agar tidak melewati simpang tiga. Ia tidak ingin teman-temannya melihat ayahnya berjualan sate dengan baju lusuh dan topi pet yang sudah pudar. Ia bahkan pernah berkata pada teman-temannya bahwa ayahnya bekerja di kantor pemerintahan di kota.
Kebohongan itu terus dipelihara selama dua tahun.
Pak Agus sebenarnya tahu. Suatu malam, ia tidak sengaja mendengar Rina bicara di telepon dengan temannya. "Iya, ayahku kantoran. Kerjanya di bagian administrasi," kata Rina. Pak Agus hanya tersenyum getir. Ia tidak marah. Ia hanya menghela napas panjang dan kembali menata tusukan sate di gerobaknya.
Bu Yanti pernah ingin menegur Rina, tapi Pak Agus melarang. "Biarkan saja, Bu. Nanti juga dia mengerti sendiri," katanya lirih.
Maka setiap malam, Pak Agus berjualan mulai pukul empat sore sampai pukul satu dini hari. Kadang-kadang ia hanya tidur tiga jam sebelum bangun jam empat pagi untuk membantu istrinya membumbui daging. Tangannya penuh luka bakar kecil percikan arang. Punggungnya sering sakit karena membungkuk di atas bara api.
Tapi ia tidak pernah sekalipun mengeluh.
Kebiasaan Pak Agus adalah menyisihkan uang receh setiap malam. Seribu, dua ribu, lima ribu. Ia masukkan ke dalam kaleng biskuit bekas yang ia sembunyikan di bawah gerobaknya. "Ini untuk uang les Rina bulan depan," katanya pada istrinya. "Yang penting Rina pintar."
Suatu hari di bulan Oktober, Rina pulang sekolah dengan wajah cemas. Gurunya mengumumkan ada lomba karya tulis tingkat provinsi. Juara pertama mendapat beasiswa penuh ke Universitas Indonesia. Rina ingin sekali ikut, tapi biaya pendaftarannya lima ratus ribu rupiah.
Ia tidak berani minta pada ayahnya. Ia tahu uang ayahnya pas-pasan. Apalagi baru saja ayahnya membayar SPP sekolahnya yang tertunggak tiga bulan.
Rina mencoba meminjam uang pada sahabatnya, Dinda. Tapi Dinda hanya bisa meminjamkan seratus ribu. Waktu pendaftaran tinggal dua hari.
Hari terakhir pendaftaran, Rina pulang larut karena ada les tambahan. Pukul sembilan malam, ia berjalan sendirian di pinggir jalan yang mulai sepi. Di kejauhan, ia melihat gerombolan lampu di simpang tiga — tempat ayahnya biasa berjualan.
Saat Rina mendekat, tiba-tiba terdengar suara benturan keras.
Sebuah motor menabrak gerobak sate ayahnya.
Tusuk-tusuk sate berhamburan ke aspal. Arang panas berserakan. Pak Agus terpental ke samping, tubuhnya membentur trotoar.
Rina berlari sekencang-kencangnya. "Ayah!" teriaknya, air mata sudah mengalir tanpa bisa dibendung.
Pak Agus duduk dengan meringis. Wajahnya penuh luka lecet. Tapi ketika melihat Rina, ia langsung tersenyum. "Nggak apa-apa, Nak. Besok bisa bikin lagi. Kamu... udah makan?"
Rina menangis tersedu-sedu di pelukan ayahnya.
Untuk pertama kalinya, ia melihat tangan ayahnya dalam jarak sedekat itu. Tangan yang penuh luka bakar. Bintik-bintik hitam bekas percikan minyak panas. Kapalan yang tebal di seluruh telapak tangan. Tangan yang setiap hari memegang ratusan tusuk sate di atas bara api, agar ia bisa sekolah.
"Ayah, Rina minta maaf..." isaknya. "Rina malu sama ayah. Rina bilang ke teman-teman kalau ayah kerja kantoran."
Pak Agus mengelus kepala Rina. Tangannya yang kasar itu terasa begitu lembut. "Ayah sudah tahu, Nak. Sudah lama. Tapi ayah nggak pernah marah. Ayah cuma sedih... sedih karena Rina merasa malu pada ayah yang cuma jualan sate."
"Ayah bukan 'cuma' jualan sate," kata Rina tersengal. "Ayah pahlawan Rina."
Pak Agus tersenyum. Air mata pria tua itu akhirnya jatuh juga, setelah bertahun-tahun ia tahan.
Keesokan harinya, wali kelas Rina memanggilnya ke ruang guru. "Rina, bapakmu titip ini," katanya sambil menyerahkan amplop cokelat.
Rina membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada uang lima ratus ribu rupiah — pas untuk biaya pendaftaran lomba — dan secarik kertas kusut bertuliskan:
"Untuk anak Ayah yang paling pintar. Ikuti lombanya. Ayah bangga sama Rina. — Pak Agus."
Rina menangis. Amplop itu pasti sudah dititipkan ayahnya sejak kemarin, sebelum kejadian tabrakan. Sejak kemarin, ayahnya sudah menyiapkan uang itu — dari recehan yang ditabung setiap malam, dari kaleng biskuit bekas di bawah gerobak, dari tiga jam tidurnya setiap malam.
Satu bulan kemudian, pengumuman lomba tiba.
Rina mendapat juara kedua. Tidak juara satu, tapi beasiswa parsial tetap ia dapatkan. Ketika namanya disebut, ia naik ke panggung dengan langkah mantap. Ia mengambil mikrofon dan berkata di hadapan ratusan orang:
"Saya ingin berterima kasih pada ayah saya. Ia penjual sate keliling di simpang tiga dekat pasar. Dari gerobak satenya yang sederhana, ia mengajarkan saya arti kerja keras tanpa pamrih. Dari tangannya yang penuh luka bakar, ia mengajarkan saya cinta yang tak bersyarat. Dari rasa mallu yang pernah saya pendam, ia mengajarkan saya keberanian untuk mengaku salah."
Ayah saya tidak pernah tamat SD. Tapi ia adalah guru paling hebat dalam hidup saya.
Di barisan belakang aula, Pak Agus duduk dengan setelan kemeja putih — kemeja satu-satunya yang ia miliki, yang biasa dipakai ke pengajian. Istrinya menangis di sampingnya. Pak Agus tersenyum lebar, tidak peduli air matanya mengalir membasahi pipi keriputnya.
Malam itu, ketika mereka pulang bersama di atas angkutan kota, Pak Agus berkata pelan, "Nak, ayah nggak bisa ngasih Rina mobil atau rumah mewah. Tapi ayah berjanji: selama ayah masih bisa dorong gerobak ini, Rina akan terus sekolah. Setinggi-tingginya."
Rina meraih tangan ayahnya. Tangan yang kasar dan penuh luka itu. Untuk pertama kalinya sejak kecil, ia mengecup punggung tangan ayahnya.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak malu. Ia bangga.
Keesokan paginya, Rina memposting foto gerobak sate ayahnya di status WhatsApp. Foto lama, buram, tapi penuh kenangan. Caption-nya singkat:
"Ini gerobak sate ayahku. Dari sinilah mimpi-mimpiku dibiayai. Aku tidak akan pernah lagi malu pada pekerjaan ayahku. Karena di gerobak sederhana ini, aku belajar tentang cinta sejati."
Sejak hari itu, Rina tidak pernah lagi mengambil jalan memutar. Setiap pulang sekolah, ia mampir ke simpang tiga untuk membantu ayahnya melayani pelanggan. Sambil belajar sambil membungkus sate, ia dan ayahnya tertawa bersama.
Gerobak sate itu bukan lagi sumber malunya. Kini ia menjadi sumber kebanggaannya.
Dan sate ayahnya tetap yang terenak di simpang tiga — karena dimasak dengan cinta yang tak pernah padam, dibakar di atas arang yang menyala bersama doa seorang ayah untuk anaknya.