Perpustakaan Beroda untuk Anak-anak Desa

Di usia 32 tahun, Romi seharusnya sudah bekerja di kantor dengan gaji besar. Tapi ia memilih menjadi pengayuh sepeda gerobak yang membawa buku ke pelosok desa. Dan baru sekarang — saat ia jatuh sakit dan tidak punya uang berobat — anak-anak desa membuktikan bahwa kebaikan tidak pernah bertepuk sebelah tangan.

Jam setengah lima pagi, Romi (32 tahun) sudah bangun. Ia bukan seorang petani, bukan pula pedagang. Tapi setiap pagi, ia melakukan ritual yang sama: memeriksa kondisi sepeda gerobaknya, memastikan rantai tidak kendor dan ban tidak kempes. Lalu ia mulai menata buku-buku ke dalam gerobak kayu yang sudah mulai lapuk di sana-sini. Seratus dua puluh buku — novel anak, buku pelajaran, komik, ensiklopedia bekas, dan buku cerita bergambar — semua ia susun rapi, seperti seorang pustakawan yang sedang menata perpustakaannya.

Perpustakaan Beroda, begitu warga desa menyebutnya. Romi mengayuh sepedanya dari desa ke desa di lereng Gunung Salak. Total ada tujuh desa yang ia kunjungi setiap minggu. Satu desa per hari. Jarak tempuhnya bisa mencapai 25 kilometer perjalanan, melewati tanjakan terjal dan jalanan berbatu yang licin saat hujan.

Tapi Romi tidak pernah mengeluh. Karena ia tahu — di setiap desa yang ia tuju, puluhan anak sudah menunggunya dengan mata berbinar. Mereka menunggu bukan untuk jajan atau mainan. Mereka menunggu untuk membaca.


Lima belas tahun lalu, Romi adalah anak jalanan.

Ia tidak punya orang tua. Ayahnya meninggal saat ia masih SD, ibunya menyusul setahun kemudian karena sakit. Romi kecil hidup di pinggir rel kereta di pinggiran Bogor, bertahan hidup dengan menjadi pengamen dan pemulung. Ia tidak pernah menyentuh buku selama bertahun-tahun.

Sampai suatu hari, seorang lelaki tua berhenti di depannya. Lelaki itu membawa sebuah koper penuh buku. Ia duduk di pinggir rel, membuka kopernya, dan mulai membaca. Romi yang penasaran, mendekat. Lelaki itu tersenyum dan memberikan sebuah buku tipis — buku cerita rakyat bergambar. "Bacalah, Nak. Dunia tidak selebar rel kereta yang kamu lihat setiap hari."

Buku itu mengubah hidup Romi. Ia belajar membaca dengan tekun, lalu sekolah kejar paket, lalu lulus SMP, SMA, dan akhirnya mendapat beasiswa penuh di Universitas Indonesia jurusan Ilmu Perpustakaan. Ia lulus dengan cum laude. Banyak perusahaan menawarinya pekerjaan dengan gaji besar. Tapi Romi menolak semua.

"Saya ingin menjadi seperti lelaki tua itu," katanya waktu itu. "Saya ingin membawa buku ke tempat-tempat yang tidak pernah tersentuh buku."

Maka lahirlah Perpustakaan Beroda. Dengan tabungan pas-pasan, ia membeli sepeda bekas dan membuat gerobak dari kayu bekas peti buah. Ia mengumpulkan buku-buku dari sumbangan teman-temannya, dari perpustakaan kampus, dan dari lapak-lapak buku bekas di Senen. Lalu ia mulai mengayuh — dari satu desa ke desa lain, tanpa pamrih, tanpa gaji.


Selama 5 tahun, Romi tidak pernah bolos sehari pun.

Ia hafal nama setiap anak di desa-desa itu. Ia tahu kalau Dede (10 tahun) suka buku tentang dinosaurus. Ia tahu kalau Sari (8 tahun) sudah menunggu buku cerita bergambar yang baru. Ia tahu kalau Ujang (12 tahun) diam-diam bercita-cita menjadi penulis, dan setiap minggu ia meminjamkan novel-novel remaja untuk Ujang baca.

Romi mencatat semua peminjaman di buku catatan kecilnya — bukan untuk menagih, tapi untuk memastikan setiap anak mendapat bacaan yang sesuai. Ia tidak pernah memungut biaya. Tidak pernah meminta imbalan. Ia hanya tersenyum saat melihat anak-anak itu duduk di pinggir sawah, di teras rumah, atau di bawah pohon, membaca buku dengan tekun.

Baginya, itu adalah gaji yang paling berharga.

Tapi tubuh manusia ada batasnya. Romi yang setiap hari terpapar debu jalanan, panas matahari, dan hujan, mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Awalnya hanya batuk-batuk kecil. Lalu batuknya semakin keras dan tidak sembuh-sembuh. Kadang ia merasa sesak napas saat mengayuh di tanjakan.

Ia tidak punya uang untuk periksa ke dokter. Semua tabungannya habis untuk membeli buku baru, memperbaiki sepeda, dan kebutuhan sehari-hari yang pas-pasan. Ia tidak punya BPJS. Ia hanya berharap batuknya akan sembuh sendiri.

Tapi batuk itu tidak sembuh. Suatu pagi, saat hendak berangkat ke Desa Cibitung, Romi jatuh pingsan di depan gerobak bukunya.


Kabar tentang Romi yang sakit menyebar cepat.

Pak RT yang menemukannya segera membawa Romi ke puskesmas. Diagnosa dokter: infeksi paru-paru kronis. Harus dirawat inap dan istirahat total minimal satu bulan. Biayanya? Tidak sedikit. Romi tidak punya uang. Ia hanya bisa terbaring di brankar puskesmas, menatap langit-langit, dan bertanya dalam hati: siapa yang akan mengayuh perpustakaan beroda untuk anak-anak desa?

Keesokan harinya, hal yang tidak pernah Romi duga terjadi.

Dede (10 tahun) — anak yang suka buku dinosaurus — datang ke puskesmas. Di tangannya, sebuah amplop cokelat berisi uang hasil jualan ayam piaraannya. "Kak Romi, ini buat Kakak. Dede jual ayam kesayangan Dede. Buat bayar rumah sakit. Dede mau Kak Romi sembuh."

Romi menangis. Ia tidak bisa berkata apa-apa.

Lalu Sari (8 tahun) datang dengan sekantong jeruk nipis dari kebun belakang rumahnya. Lalu Ujang (12 tahun) datang dengan amplop hasil mengamen di pasar selama tiga hari. Lalu satu per satu warga desa berdatangan — membawa telur, beras, sayur, dan uang sumbangan yang mereka kumpulkan dari iuran sukarela.

Bu RT — yang rumahnya sering menjadi tempat transit buku — berhasil mengumpulkan sumbangan sebesar Rp 2,3 juta dari warga. Pak RT membawa Romi ke rumah sakit kabupaten untuk perawatan yang lebih baik. Dan yang paling mengejutkan: seorang guru di desa tetangga, yang mendengar kabar ini, memobilisasi murid-muridnya untuk menggalang dana. Terkumpul tambahan Rp 1,5 juta.

Romi tidak bisa berhenti menangis. Ia tidak pernah membayangkan bahwa kebaikan kecilnya — mengayuh sepeda setiap hari, meminjamkan buku gratis — akan kembali dalam bentuk sebesar ini.


Dua minggu kemudian, Romi sudah boleh pulang.

Ia masih harus minum obat rutin dan tidak boleh kelelahan. Tapi saat ia kembali ke kontrakannya, ia mendapati pemandangan yang membuatnya terpaku di pintu. Sepeda gerobaknya — yang dulu ia tinggalkan di pinggir puskesmas — kini sudah dipenuhi buku baru. Tidak hanya buku lama, tapi juga buku-buku baru sumbangan dari warga dan para guru. Dan di stang sepedanya, sebuah papan kecil bertuliskan:

"Perpustakaan Beroda — Milk Bersama. Akan Berjalan Terus."

Pak RT mendekat. "Romi, kami sudah bicara. Selama kamu sakit, kami bergantian mengayuh sepeda ini ke desa-desa. Awalnya berat, karena kami tidak hafal jalan dan tidak tahu buku apa yang cocok untuk anak-anak. Tapi kami belajar. Dan sekarang, giliran kami yang melanjutkan."

Romi tidak bisa berkata-kata. Ia hanya memeluk Pak RT dan menangis di pundaknya.


Satu tahun kemudian.

Perpustakaan Beroda tidak lagi hanya satu sepeda. Kini ada tiga sepeda yang beroperasi setiap minggu — dikayuh oleh relawan-relawan desa yang terinspirasi oleh kisah Romi. Dua pemuda lulusan SMK yang sebelumnya menganggur, kini ikut menjadi pustakawan keliling. Mereka tidak digaji, tapi mereka tersenyum setiap hari.

Romi sendiri sudah pulih total. Kini ia mengelola Perpustakaan Beroda dari sebuah pos kecil di dekat puskesmas — mengatur jadwal, mengumpulkan buku sumbangan, dan melatih relawan baru. Ia masih mengayuh sepeda setiap akhir pekan, karena katanya, "Aku kangen melihat mata anak-anak yang berbinar saat aku tiba di desa mereka."

Dan di suatu sore, saat Romi sedang mendata buku di posnya, seorang pemuda datang. Wajahnya tidak asing — Ujang, anak yang dulu bercita-cita menjadi penulis. Kini Ujang (13 tahun) duduk di bangku SMP. Di tangannya, sebuah majalah dinding sekolah. "Kak Romi, lihat! Cerpen aku dimuat di mading sekolah! Kata guru Bahasa Indonesia, cerpen aku bagus!"

Romi membaca cerpen itu. Cerita tentang seorang pengayuh perpustakaan keliling yang sakit, dan anak-anak desa yang bergotong royong menyelamatkannya. Judulnya: "Pahlawan Beroda."

Romi memeluk Ujang. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. "Ujang... kamu sudah jadi penulis. Kaka bangga."


Di dinding pos kecil Perpustakaan Beroda, tergantung sebuah pigura sederhana. Isinya bukan foto Romi, bukan sertifikat penghargaan. Isinya adalah selembar kertas usang — amplop cokelat pertama yang diberikan Dede, ayam piaraannya.

Di bawah amplop itu, tulisan tangan Romi:

"Kebaikan tidak pernah hilang. Ia mungkin berputar, mungkin bersembunyi, tapi ia selalu kembali — di saat yang paling kita butuhkan, dalam bentuk yang paling tak terduga. Terima kasih, anak-anak desa. Kalian telah mengajarkanku bahwa membaca bukan hanya tentang buku. Membaca adalah tentang membaca hati — dan hati kalian adalah buku paling indah yang pernah kubaca."

Kadang, yang kita butuhkan untuk terus berbuat baik bukanlah imbalan atau pujian. Tapi keyakinan bahwa kebaikan itu seperti roda sepeda — terus berputar, tidak pernah berhenti, dan selalu membawa kita ke tempat yang lebih baik.

🌾 Tamat 🌾

We use cookies to improve your experience. By continuing to visit this site you agree to our use of cookies.

× Full Preview