Pak Jaya (50 tahun) membuka pintu studio fotonya di lantai dua Pasar Senen seperti biasa pukul setengah delapan pagi. Lampu neon 20 watt berkedip-kedip sebelum akhirnya menyala temaram. Kamera tua di tripod masih setia berdiri di pojok seperti patung yang tidak pernah bergerak. Latar belakang polos berwarna biru tua — yang sama sejak 20 tahun lalu — mulai pudar di beberapa bagian, meninggalkan noda kekuningan yang tidak bisa dihilangkan.
Studio Foto Jaya. Namanya sederhana, tidak ada yang istimewa. Satu ruangan berukuran 4x5 meter di sudut pasar yang mulai sepi. Dulu, di tahun 2000-an awal, tempat ini selalu ramai. Orang-orang berdatangan untuk foto keluarga, foto paspor, foto wisuda, dan foto prewedding. Antrean bisa mengular sampai ke tangga. Pak Jaya sering lembur sampai malam, memotret dan mencetak tanpa lelah.
Tapi sekarang? Pasar Senen sudah berubah. Semua orang punya ponsel dengan kamera yang bisa memotret lebih bagus dari kameranya. Orang-orang lebih suka selfie atau menggunakan jasa fotografer profesional di mal-mal. Studio Foto Jaya — yang dulu menjadi kebanggaan — kini hanya menanti pelanggan yang kadang datang satu dua orang sehari. Kalau sepi, ia bisa tutup tanpa memotret siapa pun.
Pak Jaya duduk di kursi kayu usang di belakang meja. Ia memandangi tumpukan album foto di etalase kaca — album-album yang berisi ribuan kenangan orang lain. Ada yang sudah menguning. Ada yang sampulnya robek. Tapi ia tidak pernah membuangnya. Setiap album adalah cerita. Setiap foto adalah sepotong kehidupan yang pernah ia abadikan.
Di tangannya, secarik kertas putih berserakan — surat dari anaknya, Raka, yang kini bekerja di Surabaya. "Pak, bagaimana kalau Bapak jual saja studio itu? Pindah ke sini. Raka sudah punya rumah. Bapak bisa istirahat."
Pak Jaya membaca surat itu berulang kali. Mungkin anaknya benar. Mungkin sudah waktunya ia pensiun. Tapi setiap kali ia menatap kamera tuanya, ada rasa berat yang tidak bisa ia jelaskan. Kamera ini bukan sekadar alat. Ia adalah sahabat yang telah menemaninya melewati suka duka hidup.
—
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika seorang gadis muda muncul di ambang pintu. Usianya sekitar dua puluh tiga tahun. Rambutnya diikat ekor kuda sederhana. Ia memakai kemeja putih dan celana jeans yang sudah lusuh. Di tangannya, sebuah amplop cokelat besar — sudah kusam dan robek di salah satu sudutnya.
"Selamat pagi, Pak. Apa ini Studio Foto Jaya?" tanyanya, suaranya bergetar sedikit.
Pak Jaya menegakkan punggungnya. Pelanggan. Ia tersenyum. "Iya, Nak. Silakan masuk. Ada yang bisa dibantu?"
Gadis itu masuk dengan langkah ragu. Ia duduk di kursi yang ditawarkan Pak Jaya, lalu meletakkan amplop cokelat itu di atas meja dengan hati-hati — seperti meletakkan benda paling berharga di dunia.
"Pak, saya Nanda. Saya ingin minta tolong... memperbaiki foto ini," katanya, membuka amplop itu dengan tangan gemetar.
Pak Jaya mengambil amplop itu dan mengeluarkan isinya. Sebuah foto berukuran 4R, sudah sangat usang. Warna-warnanya mulai memudar. Ada lipatan besar di bagian tengah yang hampir membuat foto itu terbelah. Beberapa bagian berlumut karena terkena air. Tapi masih jelas terlihat: foto seorang perempuan muda — sekitar usia 30 tahun — tersenyum lebar sambil menggendong seorang bayi mungil.
"Ini satu-satunya foto saya dengan ibu," bisik Nanda. Matanya berkaca-kaca. "Ibu saya meninggal dua tahun lalu. Kecelakaan. Rumah kami kebakaran. Hampir semua barang habis. Hanya foto ini yang selamat — karena saya bawa di tas waktu itu. Tapi kondisinya... seperti ini."
Pak Jaya menatap foto itu. Ia bisa melihat betapa berharganya potret usang ini bagi gadis di hadapannya. Dengan tangan hati-hati, ia membolak-balik foto itu, memeriksa kerusakannya.
"Saya sudah coba ke studio foto digital di mal, Pak. Mereka bilang tidak bisa diperbaiki. Terlalu rusak. Tapi saya ingat — almarhumah ibu saya pernah cerita. Foto ini diambil di Studio Foto Jaya, Pasar Senen. Kata beliau, pelanggan pertama di studio ini. Saya... saya berharap Bapak bisa membantu," kata Nanda, suaranya nyaris putus.
Pak Jaya terdiam. Tangannya berhenti bergerak. Ia menatap foto itu lagi — lebih saksama. Wajah perempuan muda itu... entah kenapa, terasa familiar. Senyumnya. Cara ia memegang bayinya. Ada sesuatu yang menggerayangi ingatannya.
—
"Nak... tunggu sebentar," kata Pak Jaya, suaranya tiba-tiba serak.
Ia berdiri dan berjalan ke lemari besi tua di sudut ruangan — lemari yang jarang ia buka. Dengan kunci kecil yang selalu ia simpan di saku celananya, ia membuka lemari itu. Di dalamnya, tersusun rapi album-album foto kronologis — arsip semua foto yang pernah ia ambil sejak 20 tahun lalu.
Tangannya mencari di rak paling bawah. Album pertama. Tahun 2005. Sampulnya sudah lusuh, beberapa halaman terlepas. Ia membukanya dengan hati-hati. Halaman pertama — foto dirinya sendiri, di hari pertama buka studio. Kemeja putih, rambut masih hitam tebal, senyum lebar penuh semangat.
Ia membalik ke halaman berikutnya. Dan di sanalah ia membeku.
Foto yang sama persis dengan di tangan Nanda. Seorang perempuan muda tersenyum sambil menggendong bayi. Di sudut kanan bawah foto, ada tulisan tangan Pak Jaya — dengan bolpoin hitam — "Pelanggan Pertama: Ibu Rina & Bayi Nanda. 5 Januari 2005. Terima kasih sudah percaya pada Studio Foto Jaya."
Pak Jaya duduk di lantai. Tangannya gemetar memegang album itu. Ia menatap Nanda — yang kini menatapnya bingung. "Nak... ibu kamu... Ibu Rina?"
Nanda mengangguk, matanya membulat. "I-iya, Pak. Ibu saya Rina. Kok Bapak tahu?"
Pak Jaya tidak bisa menjawab. Ia hanya menunjuk ke album di tangannya. Nanda mendekat dan melihat. Ia membaca tulisan di bawah foto itu. Tangannya menutup mulut. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
—
"Ibu saya... Bapak yang foto? 20 tahun lalu?" isak Nanda.
Pak Jaya mengangguk. Air matanya ikut mengalir. "Saya ingat hari itu, Nak. 5 Januari 2005. Hari pertama saya buka studio. Saya hampir tidak punya uang. Hanya modal nekat. Lalu ibu kamu datang — sendirian, menggendong kamu yang masih bayi. Ia bilang, 'Pak, saya ingin foto sama anak saya. Untuk kenang-kenangan.' Itu adalah foto pertama yang saya ambil di studio ini."
Pak Jaya berhenti sejenak, mengusap air matanya. "Saya tidak tahu siapa dia. Tapi senyumnya — senyum itu membuat saya yakin bahwa pilihan saya membuka studio ini tidak salah. Setelah ia pergi, saya berjanji pada diri sendiri: saya akan terus memotret, selama masih ada orang yang membutuhkan kenangan."
Nanda menangis. Ia memegang foto lamanya. Kini foto itu terasa lebih berharga — karena ia tahu, ada cerita di balik cerita. Ibunya sengaja datang ke studio kecil ini, bukan karena kebetulan, tapi karena ia ingin anaknya memiliki kenangan yang indah. Dan kini, 20 tahun kemudian, jalan mempertemukan kembali foto itu dengan pembuatnya.
"Pak, Bapak bisa memperbaikinya?" tanya Nanda, hampir berbisik.
Pak Jaya tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir, semangatnya kembali menyala. "Bisa, Nak. Bapak akan perbaiki foto ini. Bapak akan buat seperti baru. Ini foto spesial — bukan cuma untuk kamu, tapi juga untuk Bapak."
—
Tiga hari kemudian, Nanda kembali ke Studio Foto Jaya.
Pak Jaya menyambutnya dengan amplop putih bersih. Di dalamnya, foto Ibu Rina dan Nanda — sudah diperbaiki dengan susah payah. Pak Jaya menghabiskan tiga malam tanpa tidur. Dengan peralatan seadanya, ia memperbaiki setiap lipatan, memulihkan warna-warna yang pudar, dan membersihkan noda-noda yang menempel.
Hasilnya tidak sempurna. Masih ada sedikit bekas lipatan di sudut. Wajah Ibu Rina tidak setajam aslinya. Tapi Nanda memegang foto itu dan tersenyum — senyum yang sama seperti ibunya 20 tahun lalu.
"Pak... terima kasih," bisiknya. "Bapak tidak tahu seberapa berarti ini bagi saya."
Pak Jaya menggeleng. "Nak, justru Bapak yang harus berterima kasih. Kamu sudah mengingatkan Bapak bahwa setiap foto yang Bapak ambil — meskipun hanya satu — bisa menjadi harta yang tak ternilai bagi seseorang. Bapak hampir menutup studio ini. Tapi sekarang Bapak sadar: Bapak tidak boleh berhenti. Karena mungkin, di luar sana, masih ada orang-orang yang butuh kenangan."
—
Sejak hari itu, Studio Foto Jaya tidak pernah sepi lagi.
Bukan karena tiba-tiba viral atau ramai seperti dulu. Tapi karena Nanda — yang ternyata bekerja sebagai jurnalis lepas — menulis sebuah artikel tentang perjuangan studio foto kecil di Pasar Senen yang telah melayani ribuan keluarga selama 20 tahun.
Artikel itu tidak panjang. Tapi isinya menyentuh hati banyak orang. Dalam waktu seminggu, orang-orang mulai berdatangan. Ada yang datang untuk foto keluarga. Ada yang datang untuk mencetak foto lama. Ada yang hanya ingin berterima kasih pada Pak Jaya — karena ternyata, foto pernikahan orang tua mereka, foto bayi mereka, atau foto ijazah mereka, pernah diambil di studio kecil ini.
Pak Jaya kewalahan. Tapi ia tersenyum. Setiap malam, ia duduk di kursi kayunya, memandangi album-album yang memenuhi etalase, dan tersenyum. Kini album-album itu tidak lagi berdebu. Setiap hari, ada saja yang datang dan meminta foto lama mereka dicarikan.
—
Nanda menjadi pelanggan tetap Studio Foto Jaya. Setiap bulan, ia datang membawa foto baru — foto dirinya sendiri, foto teman-temannya, atau foto pemandangan yang ia ambil dengan ponselnya — untuk dicetak oleh Pak Jaya. "Pak, cetak ini, ya. Biar ada kenangan fisiknya. Biar tidak hilang di ponsel," katanya setiap kali.
Pak Jaya selalu tersenyum dan berkata, "Nak, ibu kamu pasti bangga."
Dan Nanda akan menjawab, "Ibu saya memang bangga, Pak. Bangga karena foto pertamanya di Studio Foto Jaya — telah menyelamatkan studio ini, 20 tahun kemudian."
—
Pak Jaya kini berusia 52 tahun. Studio Foto Jaya masih berdiri, lebih hidup dari sebelumnya.
Ia tidak lagi memotret sendirian. Seorang pemuda lulusan SMK jurusan fotografi — yang membaca artikel Nanda — datang menawarkan diri sebagai asisten. Pak Jaya mengajarinya teknik-teknik klasik yang ia kuasai. Pemuda itu mengajarinya teknologi digital. Mereka menjadi tim yang sempurna.
Di dinding studio, tepat di atas meja tamu, tergantung sebuah pigura kayu sederhana. Isinya dua foto yang ditempel berdampingan. Foto kiri: Ibu Rina menggendong bayi Nanda, 20 tahun lalu — foto pertama yang diambil di studio ini. Foto kanan: Nanda tersenyum di studio yang sama, 20 tahun kemudian — foto yang diambil Pak Jaya minggu lalu.
Di bawah kedua foto itu, sebuah plakat kecil bertuliskan: "Kenangan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk ditemukan kembali."
Pak Jaya sering duduk di kursinya, memandangi dua foto itu, dan tersenyum. Karena ia tahu — di suatu tempat, di antara jutaan foto yang pernah ia ambil, ada cerita-cerita yang menunggu untuk diceritakan. Dan selama masih ada orang yang percaya pada kekuatan kenangan, ia tidak akan pernah berhenti memotret.
Kadang, jawaban dari doa yang tidak pernah kita panjatkan, datang dalam bentuk yang paling tak terduga. Seorang gadis muda dengan foto usang di tangannya, telah menyelamatkan tidak hanya sebuah studio foto — tapi juga keyakinan seorang lelaki tua bahwa karyanya berarti.
🌾 Tamat 🌾