Namaku Raga. Umurku 28 tahun dan aku adalah guru SD di sebuah desa kecil di kaki Gunung Sindoro. Desa itu bernama Kedungmiri. Untuk mencapai sekolah tempatku mengajar, aku harus berjalan kaki tiga kilometer melewati pematang sawah, menyeberangi sungai kecil yang airnya jarang melebihi mata kaki, lalu mendaki bukit selama dua puluh menit lagi.
Aku lulus dari Universitas Negeri Semarang lima tahun lalu. Awalnya aku punya mimpi bekerja di sekolah besar di kota. Aku ingin mengajar di sekolah yang lantainya keramik, yang punya perpustakaan, yang murid-muridnya datang diantar mobil orang tua. Tapi takdir membawaku ke Kedungmiri. Dan di sinilah, di atas papan tulis yang sudah menguning dan meja kayu yang termakan usia, aku justru menemukan makna yang tidak pernah aku dapatkan dari buku pedagogi mana pun.
Sekolahku bernama SD Negeri Kedungmiri. Bangunannya masih kayu jati tua, catnya sudah kusam dimakan hujan dan panas. Atapnya bocor di tiga titik kalau musim penghujan tiba. Kami hanya punya enam ruang kelas dan satu ruang guru yang juga merangkap perpustakaan karena lemari bukunya hanya satu. Muridku semuanya berjumlah 47 anak. Beberapa dari mereka berjalan kaki lebih dari satu jam setiap pagi. Ada yang tidak pakai sepatu. Banyak yang datang tanpa sarapan. Tapi senyum mereka — senyum mereka adalah alasan aku bangun setiap subuh dan menempuh perjalanan melelahkan itu setiap hari.
Hari itu tanggal 16 Agustus. Besok adalah Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-78. Seluruh sekolah bersiap untuk upacara bendera. Pak Danu, kepala sekolahku yang sudah berusia 59 tahun, sudah mempersiapkan segala sesuatu sejak seminggu sebelumnya. Properti upacara sudah disimpan di gudang — sebuah bendera merah putih yang tiga tahun lalu dibeli Pak Danu dengan uang pribadinya, tali-temali, tiang bendera dari bambu yang dicat ulang setiap tahun.
Tapi ada satu masalah yang setiap tahun membuat sekolah kami pusing: seragam.
"Pak Raga," kata Bu Yanti, guru kelas 3, sambil menuang teh ke gelasku. "Toilet sekolah bocor lagi, pipanya pecah sejak kemarin."
Aku menghela napas. "Nanti kucoba perbaiki."
"Aku sudah bilang ke Pak Danu. Beliau bilang tidak ada anggaran perbaikan sampai bulan depan."
"Ya sudah. Nanti sore kulihat dulu."
Bu Yanti tersenyum lalu kembali ke mejanya. Dia sudah 14 tahun mengajar di sini. Gajinya tidak seberapa, tetapi dia tidak pernah mengeluh. Perempuan itu datang dari desa sebelah dengan naik ojek setiap hari, pulang saat maghrib, dan masih sempat mengajar ngaji di musala.
Jam istirahat tiba. Anak-anak berlarian ke halaman. Beberapa membawa bekal nasi dengan lauk seadanya. Yang lain hanya minum air putih dari botol bekas.
Aku duduk di kursi kayu di teras sekolah sambil mengamati mereka. Di pojok halaman, di bawah pohon mangga, aku melihat Bima duduk sendiri. Bocah kelas 4 itu tidak seperti biasanya. Bima biasanya adalah anak yang paling bersemangat di kelas. Dia suka menjawab pertanyaan, suka membaca, suka menggambar. Tapi hari ini dia diam saja. Kepalanya menunduk. Tangannya memainkan tanah.
Aku berjalan mendekat.
"Bim, kenapa?"
Dia tergagap. "Nggak apa-apa, Pak."
"Ayo makan. Bawa bekal?"
Dia menggeleng.
Aku duduk di sampingnya. "Kamu dari tadi diam aja. Ada masalah?"
Dia diam beberapa saat. Lalu pelan-pelan, dengan suara hampir berbisik, dia berkata, "Pak, besok upacara, semuanya pake baju putih sama merah. Aku cuma punya baju putih yang lusuh, Pak. Sobek di siku."
Dadaku seperti diremas.
"Warnanya sudah kusam, Pak. Kancingnya tinggal tiga. Ibu bilang nanti kalau sudah panen, ibu belikan yang baru. Tapi panen masih dua bulan lagi, Pak."
Bima anak seorang buruh tani. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci. Ayahnya — ayahnya pergi merantau ke Kalimantan tiga tahun lalu dan tidak pernah kembali. Kabarnya menikah lagi di sana. Bima tinggal bersama ibunya di rumah petak dekat sungai. Ibunya bekerja dari pagi hingga malam untuk menyekolahkan Bima dan adik perempuannya yang masih kelas 1.
"Bima," kataku, "besok kamu tetap pakai baju yang kamu punya. Yang penting kamu semangat."
Dia mengangguk, tapi matanya kosong. Dan aku tahu bahwa untuk anak seusianya, perkataanku tidak cukup. Dia butuh lebih dari sekadar semangat. Dia butuh merasa setara.
Setelah pulang sekolah, aku berjalan ke pasar desa. Aku ingat ada toko kelontong milik Pak Karta yang menjual kebutuhan sehari-hari. Toko itu juga kadang menyediakan pakaian-pakaian sederhana.
"Pak Karta, ada baju putih anak ukuran sembilan tahun?"
"Waduh, Mas Raga. Baju anak ukuran kecil lagi kosong. Paling yang ada ukuran remaja. Untuk apa?"
Aku terdiam. "Untuk muridku. Besok upacara. Bajunya sobek."
Pak Karta menghela napas. Dia mengerti. "Coba Mas lihat. Ada stok lama di belakang. Tapi warnanya agak kekuningan. Kalau mau, nanti saya cuci."
"Tidak usah, Pak. Saya cuci sendiri. Berapa harganya?"
"Tiga puluh ribu. Itu sudah saya diskon."
Aku membayarnya. Tiga puluh ribu. Sisa uang jajan mingguanku. Tapi aku tidak peduli.
Malam itu aku mencuci baju itu dengan tangan di ember. Sampai larut. Sampai air sabun jadi keruh. Sampai bajunya agak bersih. Lalu kujemur. Besok pagi saat subuh pasti sudah kering.
Tapi aku sadar — baju putih saja tidak cukup. Baju itu butuh celana merah. Dan dasi. Dan topi. Dan atribut lengkap. Aku tidak punya uang lebih.
Pukul sembilan malam, aku berjalan ke rumah Bu Yanti. Rumahnya hanya 500 meter dari sekolah. Aku jelaskan situasi Bima.
Bu Yanti menghela napas berat. "Aku punya celana merah punya anakku. Tapi dia sudah kelas 3 SMP. Mungkin kebesaran. Coba lihat."
Kami mencari-cari di lemari. Akhirnya ditemukan celana merah yang ternyata tidak terlalu kebesaran. Bu Yanti juga memberikan dasi merah putih yang sudah tidak dipakai anaknya.
"Alhamdulillah," kataku. "Terima kasih, Bu."
"Pak Raga," kata Bu Yanti sambil tersenyum, "kamu ini guru muda yang istimewa. Tidak semua guru mau repot seperti ini."
"Aku hanya melakukan yang seharusnya, Bu."
"Tidak. Kamu melakukan lebih."
Aku pulang dengan perasaan hangat. Tapi masih ada yang kurang. Entah apa. Rasanya ada yang belum lengkap.
Pagi hari, 17 Agustus. Aku bangun sebelum subuh. Bajunya sudah kering. Kusetrika dengan rapi. Lalu aku bergegas menuju rumah Bima.
Rumah Bima terletak di ujung desa, dekat sungai. Rumah papan yang sudah miring. Halamannya tanah. Tidak ada pagar. Di depan rumah, ibunya sedang menjemur pakaian.
"Selamat pagi, Bu."
"Loh, Pak Raga? Ada apa?"
Aku menunjukkan bungkusan plastik di tanganku. "Ini untuk Bima, Bu. Untuk upacara."
Ibunya membuka plastik itu. Begitu melihat isinya, matanya berkaca-kaca. "Pak Raga... saya... saya nggak punya uang..."
"Tidak usah bayar, Bu. Ini hadiah."
"Tapi, Pak..."
"Ini dari saya. Biar Bima semangat sekolah."
Ibunya tidak bisa berkata-kata. Air matanya jatuh begitu saja. Wanita itu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Aku diam saja, menunggunya tenang.
"Pak Raga," katanya akhirnya, "saya ini tidak bisa ngapa-ngapain. Saya cuma buruh cuci. Suami saya pergi. Kadang saya berpikir, apa saya cukup baik untuk anak-anak saya?"
"Bu, Bima anak yang pintar. Rajin. Dia pasti bisa jadi orang sukses suatu saat nanti. Ibu hanya perlu sabar."
"Terima kasih, Pak. Terima kasih."
Bima keluar rumah dengan mata masih mengantuk. Begitu melihat bungkusan di tangan ibunya, matanya melebar.
"Itu buat aku, Pak?"
"Buat kamu. Coba pakai."
Dia memegang baju itu seperti memegang barang paling berharga sedunia. Bibirnya bergetar. Matanya basah. Tapi dia tidak menangis. Dia hanya tersenyum — senyum paling tulus yang pernah aku lihat dalam hidupku.
Dia segera masuk ke rumah dan memakai bajunya. Saat keluar, dia tampak rapi. Bajunya masih sedikit kebesaran, tapi cukup bagus. Celana merahnya juga pas. Dasi merah putih melingkar di lehernya.
Bima berdiri tegak di depan rumah. Di bawah sinar matahari pagi yang keemasan, bocah itu tampak seperti pahlawan kecil.
"Gimana, Pak?"
"Keren," kataku. "Kamu mirip Jenderal Sudirman."
Dia tertawa. Tertawa lepas, seperti anak-anak seharusnya.
Di sekolah, upacara berlangsung khidmat. Matahari pagi menyinari halaman sekolah yang penuh dengan anak-anak berseragam — ada yang baru, ada yang lusuh, ada yang baju kebesaran atau kekecilan. Tapi semuanya berdiri tegak. Semua mata memandang bendera merah putih yang naik perlahan.
Aku berdiri di barisan guru. Dari kejauhan, aku melihat Bima di barisan kelas 4. Dia berdiri paling tegak. Dadanya membusung. Tangannya memberi hormat dengan sempurna. Matanya tidak berkedip melihat sang saka merah putih berkibar di ujung tiang bambu.
Pak Danu membacakan teks proklamasi. Suaranya berat dan berwibawa. Lalu dilanjutkan dengan pembacaan Pancasila. Anak-anak kompak menjawab setiap sila.
Dan di tengah upacara itu, aku melihat sesuatu yang membuat dadaku sesak.
Bima — anak yang kemarin hampir tidak mau datang ke sekolah karena malu — Bima menangis. Bukan terisak. Tapi air matanya mengalir pelan di pipinya. Sementara mulutnya terus ikut menyanyikan lagu "Hari Merdeka". Tangannya tetap menghormat. Tubuhnya tetap tegak.
Dia tidak malu menangis di depan semua orang. Dia tidak peduli teman-temannya melihat. Ada sesuatu di dalam hati bocah itu yang meluap pagi itu — kebanggaan, rasa syukur, atau mungkin kelegaan karena dia akhirnya merasa layak berada di barisan yang sama dengan teman-temannya.
Setelah upacara selesai, aku berjalan ke arahnya.
"Bima."
"Ya, Pak?"
"Kenapa kamu menangis tadi?"
Dia terdiam. Lalu dia berkata dengan suara bergetar. "Soalnya, Pak... pertama kali aku pakai baju bagus buat upacara. Biasanya aku malu, Pak. Malu karena bajuku sobek, malu karena teman-teman pakai baju baru, aku enggak. Tapi hari ini... aku nggak malu lagi. Aku merasa jadi orang Indonesia beneran."
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya memeluknya.
Setelah semua murid masuk ke kelas, Bu Yanti menghampiriku.
"Pak Raga, Bima tadi nangis waktu benderanya naik. Anak itu."
Aku tersenyum. "Dia baru percaya diri, Bu. Baru pertama kali dia merasa berharga."
Bu Yanti mengangguk. "Tahu, Pak? Kadang hal-hal kecil seperti ini yang paling berarti. Bukan pelajaran di kelas. Tapi perasaan bahwa mereka dianggap."
Aku mengangguk setuju. Lalu aku berjalan ke kelas. Di pintu, aku berhenti. Aku melihat ke dalam kelas. Bima sudah duduk di bangkunya. Dia sedang mengeluarkan buku tulis yang sampulnya sudah lecek. Tapi dia tersenyum. Senyum yang sama seperti tadi pagi.
Dan di mejanya, aku melihat sesuatu. Sebuah kertas kecil, lipatan sembarangan. Aku mengambilnya dan membacanya.
Tulisannya tidak rapi. Ejaannya masih kacau. Tapi isinya membuatku berdiri di sana cukup lama.
"Pak Raga, aku mau jadi guru kaya Pak Raga. Biar aku bisa bantu anak-anak miskin. Makasih Pak udah beliin aku baju. Aku nangis karna seneng."
Aku melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku. Aku tidak akan pernah membuangnya.
Hari itu aku belajar sesuatu. Bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga tentang seorang anak yang akhirnya bisa berdiri tegak tanpa malu. Seorang anak yang merasa dirinya berharga. Seorang anak yang percaya bahwa masa depannya tidak ditentukan oleh sobekan di siku bajunya.
Dan bahwa menjadi guru — seorang guru di desa terpencil yang tidak terkenal — adalah profesi paling berharga yang pernah aku pilih. Karena di tanganku, ada masa depan. Di tanganku, ada mimpi-mimpi kecil yang menunggu untuk dijemput.
Di sela-sela waktu istirahat, Bima berlari ke arahku. Dia membawa sebatang tebu kecil — mungkin hasil curian dari kebun warga, atau mungkin pemberian seseorang.
"Ini buat Pak Raga," katanya.
"Terima kasih, Bim."
Dia tersenyum lebar lalu berlari lagi ke lapangan.
Dan aku berdiri di sana, memegang sebatang tebu, dengan mata yang tiba-tiba menjadi basah tanpa alasan yang jelas.