Ibu yang Tidak Pernah Kusepakati

Image source : AI Generated

Namaku Rizky. Usiaku 38 tahun sekarang. Dan baru di usia inilah aku benar-benar tahu siapa sebenarnya ibu tiriku.

Ibu tiriku — atau lebih tepatnya, perempuan yang selama 33 tahun selalu kupanggil "Mbakyu" — bernama Wati. Beliau menikah dengan ayahku saat aku berusia lima tahun. Sejak hari pertama, aku tidak pernah menerimanya. Bagiku, ibu kandungku adalah satu-satunya ibu di dunia ini. Tidak ada yang bisa menggantikan tempatnya.

Aku ingat betul hari pernikahan ayah dan Wati. Aku duduk di sudut ruangan, memeluk foto ibu kandungku, dan menangis sepanjang acara. Beberapa bibi datang menghiburku, tapi aku tidak peduli. Aku benci perempuan itu. Aku benci cara ia tersenyum padaku. Aku benci cara ia mencoba mengelus kepalaku. Aku benci semuanya.

Malam pertama mereka sebagai suami istri, Wati datang ke kamarku. Ia membawa segelas susu hangat dan sepotong kue bolu. "Nak, Mbak bawa susu buat kamu," katanya lembut. Aku membanting gelas itu ke lantai. Susu tumpah ke mana-mana, membasahi tikar pandan. "Kamu bukan ibuku! Pergi!" teriakku sekencang-kencangnya.

Ayah marah dan hampir memukulku. Tapi Wati menghalangi dengan cepat. "Sudah, Pak. Dia masih kecil. Dia butuh waktu." Wati kemudian membersihkan lantai sendirian, berlutut dengan kain pel, sementara aku memeluk bantal dan menangis di kamar. Tidak ada amarah di wajahnya. Hanya kesedihan yang ia sembunyikan dengan senyum tipis.

Tapi waktu tidak pernah membuatku luluh. Semakin besar aku, semakin keras hatiku padanya.

Setiap hari, Wati bangun jam setengah lima pagi. Ia membuatkan sarapan untukku — nasi goreng atau telur dadar — dan menyiapkan bekal ke sekolah. Ia menyetrika seragamku setiap malam, meskipun aku tidak pernah berterima kasih. Ia selalu berkata, "Hati-hati di sekolah, Nak," setiap pagi. Dan aku selalu menjawab dengan dengusan, tanpa menoleh.

Saat aku kelas enam SD, aku demam tinggi. Empat puluh derajat. Wati begadang semalaman, mengompres keningku dengan kain basah, dan berganti air setiap setengah jam. Aku terbangun di tengah malam dan melihatnya tertidur di kursi kayu di samping tempat tidurku. Wajahnya lelah, rambutnya acak-acakan. Untuk sekejap, aku hampir merasa iba. Tapi aku segera membuang perasaan itu.

Keesokan paginya, aku bilang pada teman-teman di sekolah, "Itu mbakku yang jaga aku semalam. Ibuku sibuk kerja." Aku tidak pernah mau mengaku punya ibu tiri. Malu. Dan juga karena aku masih setia pada ibu kandungku yang sudah pergi.

Aku tumbuh seperti itu. Keras kepala, angkuh, dan penuh kebencian yang tidak beralasan.

Waktu aku kelas dua SMP, ayahku meninggal dunia. Kecelakaan di tempat kerja. Jatuh dari tiang listrik saat sedang memperbaiki kabel. Semuanya terjadi begitu cepat. Satu hari ayah masih tersenyum padaku, hari berikutnya ia sudah tiada.

Dunia runtuh di kepalaku. Aku mengamuk di rumah sakit. Aku menendang kursi, memukul tembok, dan menangis histeris. Wati mencoba memelukku, tapi aku mendorongnya dengan keras. "Ini semua salahmu! Kamu yang bawa sial ke keluarga ini! Sejak kamu datang, semuanya hancur!"

Wati tersungkur ke lantai. Kepalanya terbentur ujung meja. Darah mengalir dari pelipisnya. Tapi ia tidak marah. Ia bangkit perlahan, mengusap darah di dahinya, dan berkata dengan suara bergetar, "Maaf, Nak. Maafkan Mbak."

Aku tidak pernah merasa bersalah atas kejadian itu. Tidak saat itu. Aku terlalu sibuk membenci.

Setelah ayah meninggal, keadaan ekonomi kami hancur. Ayah tidak punya tabungan. Rumah yang kami tempati adalah rumah dinas perusahaan tempat ayah bekerja. Kami harus pindah dalam waktu satu bulan. Aku tidak tahu harus ke mana. Wati hanya bilang, "Tenang, Nak. Mbak yang urus semuanya."

Wati kemudian bekerja. Bukan sebagai pegawai kantor — ia hanya lulusan SMP. Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di tiga tempat berbeda. Pagi di rumah Bu RT, siang di rumah Pak RW, dan sore di rumah seorang pedagang kaya di ujung desa. Gajinya tidak seberapa, tapi cukup untuk menyewa kamar kos kecil dan membiayai sekolahku.

Setiap malam, Wati pulang dalam keadaan letih. Tangannya pecah-pecah karena sabun cuci. Punggungnya sakit karena mengepel. Kadang ia lupa makan. Tapi ia tidak pernah lupa menyiapkan buku pelajaranku, mengecek PR, dan menandatangani rapor.

Aku tidak pernah berterima kasih. Tidak sekali pun.

Di sekolah, aku bilang pada guru dan teman-teman bahwa Wati adalah pembantuku. Bukan ibu tiriku. "Dia mbak yang ngurus rumah," kataku dengan bangga. Aku lihat Wati menunduk setiap kali aku mengatakan itu di depannya. Tapi ia tidak pernah membantah. Ia hanya diam. Menerima. Ikhlas.

Saat aku lulus SMA, aku diterima di universitas negeri di Jakarta. Aku sangat senang. Tapi biayanya mahal. Biaya pendaftaran, kos, buku, dan hidup di Jakarta — semuanya butuh uang yang tidak sedikit. Aku hampir putus asa. Tapi Wati berkata, "Jangan khawatir. Mbak ada tabungan. Kamu kuliah saja."

Aku tidak percaya. Perempuan yang hanya jadi pembantu di tiga rumah, dari mana punya tabungan?

Tapi benar saja. Wati membayar semuanya. Uang pendaftaran, tiket pesawat, uang kos tiga bulan di muka, dan uang saku untuk tiga bulan pertama. Aku bertanya, "Mbakyu dapat uang dari mana? Menang lotre?" Wati hanya tersenyum, "Mbak kerja keras, Nak. Itu saja."

Empat tahun di Jakarta. Aku jarang pulang. Hanya setahun sekali saat Lebaran. Itupun hanya tiga hari. Aku sibuk dengan kuliah, organisasi, dan teman-teman. Setiap kali Wati menelepon, aku selalu tergesa-gesa. "Iya, Mbak. Aku sibuk. Nanti kutelepon lagi." Tapi tidak pernah.

Setiap bulan, tanpa pernah telat, Wati mengirimkan uang untukku. Jumlahnya selalu pas untuk biaya hidup sebulan. Kadang lebih. Aku tidak pernah bertanya dari mana uang itu. Aku terima dan habiskan begitu saja. Aku anak yang sangat durhaka. Tapi aku tidak sadar saat itu.

Aku lulus cum laude. Dapat pekerjaan di perusahaan multinasional dengan gaji besar. Menikah dengan perempuan baik-baik. Punya anak. Hidupku seperti mimpi yang menjadi nyata. Sementara Wati — yang dulu membiayai hidupku — tetap tinggal di kos sempit di kampung, masih bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Setiap kali aku menawarinya uang, ia selalu menolak. "Simpan saja, Nak. Untuk masa depan kamu dan keluarga." Aku tidak memaksa. Aku pikir mungkin ia sudah cukup. Mungkin ia bahagia dengan hidupnya.

Betapa bodohnya aku.

Tiga tahun lalu, Wati jatuh sakit. Seorang tetangga meneleponku. "Mbakyumu sakit parah, Mas. Sudah seminggu di rumah sakit. Katanya kanker usus stadium tiga."

Aku pulang ke kampung keesokan harinya. Di rumah sakit kabupaten yang penuh sesak, aku menemukan Wati terbaring di ranjang besi berkarat, tubuhnya kurus kering, infus menempel di kedua tangannya. Selang oksigen di hidungnya. Wajahnya pucat pasi. Rambutnya sudah hampir botak karena kemoterapi.

Di samping ranjangnya, ada sebuah tas plastik berisi barang-barangnya. Tas yang sama yang ia bawa setiap hari saat bekerja. Tas lusuh dengan pegangan putus yang sudah diikat karet. Aku membuka tas itu untuk mencari surat-surat, dan di dalamnya kutemukan sebuah buku kecil. Buku catatan keuangan.

Aku membuka halaman pertama. Judulnya: "Tabungan Buat Rizky". Tangannya gemetar saat membalik halaman.

"Januari 2010 - Gaji nyuci di rumah Bu RT: Rp 300.000. Buat kos: Rp 150.000. Buat makan: Rp 100.000. Sisa: Rp 50.000 — ditabung buat Rizky."

"Februari 2010 - Gaji bersih-bersih rumah Pak RW: Rp 350.000. Buat SPP Rizky: Rp 200.000. Buat uang saku Rizky: Rp 100.000. Sisa: Rp 50.000 — ditabung."

Halaman demi halaman. Bertahun-tahun. Setiap sen yang ia hasilkan, dicatat dengan rapi. Bahkan ketika ia sakit, ia masih menulis. Halaman terakhir: "September 2022 - Rizky sudah lulus. Punya kerja bagus. Mbak senang. Sekarang Mbak boleh sakit."

Aku jatuh berlutut di samping ranjangnya. Buku itu basah oleh air mataku.

Selama 33 tahun, aku membenci perempuan ini. Aku menganggapnya perampas kebahagiaan. Aku menganggapnya beban. Aku menganggapnya pembantu — bukan ibu. Tapi perempuan yang kubenci inilah yang telah mencintai aku lebih dari dirinya sendiri.

Ia tidak pernah menikah lagi setelah ayahku meninggal. Kata tetangga, banyak laki-laki yang datang melamar. Tapi Wati selalu menolak. "Saya harus fokus membesarkan anak saya," katanya. Ia tidak punya anak kandung. Satu-satunya anak yang ia miliki adalah aku — yang tidak pernah memanggilnya "Ibu".

"Mbak... maafin Rizky," kataku dengan suara tercekat. Tanganku menggenggam erat tangannya yang kurus dan dingin. "Rizky minta maaf. Rizky jahat sama Mbak selama ini."

Wati membuka matanya perlahan. Samar-samar. Tapi senyum tipis terbit di bibirnya yang kering. Ia menggenggam tanganku dengan sisa tenaga yang ia miliki.

"Rizky... anak Mbak... Mbak sayang kamu dari dulu," bisiknya lirih. Suaranya hampir tidak terdengar. Tapi cukup untuk menghancurkan hatiku. "Mbak tidak pernah marah. Mbak ikhlas. Yang penting kamu bahagia."

Wati meninggal seminggu kemudian. Di pelukanku. Satu jam sebelum mengembuskan napas terakhir, ia meminta kusebutkan satu kata. Hanya satu kata. "Panggil Mbak... sekali saja."

Aku memeluknya erat. Wajahku menempel di dadanya yang tinggal tulang. Dan untuk pertama kalinya dalam 33 tahun, aku berbisik, "Ibu... terima kasih sudah menjadi ibuku."

Wati tersenyum. Air mata mengalir di pelupuk matanya yang keriput. Ia mengelus kepalaku dengan lemah. "Ibu bangga punya anak sepertimu, Nak." Itu adalah kata-kata terakhirnya.

Sekarang, setiap hari Minggu, aku pergi ke makamnya. Kuburan sederhana di pemakaman desa, tanpa nisan mewah, tanpa pualam. Tepat seperti yang ia inginkan. Aku duduk di sampingnya, bercerita tentang pekerjaanku, tentang istri dan anakku, tentang segala hal yang tidak sempat kuceritakan saat ia masih hidup.

Ma, Rizky sudah jadi orang baik sekarang. Rizky sudah punya anak. Namanya Wati — seperti Ibu. Rizky ingin Ibu tahu: Rizky bangga jadi anak Ibu. Ibu adalah ibu terbaik yang pernah Rizky miliki. Ibu adalah ibu satu-satunya.

Jangan pernah menunggu sampai seseorang tiada untuk menyadari betapa berharganya mereka. Jangan biarkan kebencian yang tidak beralasan merampas kesempatanmu untuk mencintai. Karena terkadang, orang yang paling kita benci adalah orang yang paling tulus mencintai kita.

🌾 Tamat 🌾

We use cookies to improve your experience. By continuing to visit this site you agree to our use of cookies.

× Full Preview