Ibu Gak Pernah Bilang Kalau Uang Kuliahku Hasil Nyuci Baju Orang

Image source : AI Generated

Hari Itu, Aku Berdiri di Atas Panggung Wisuda

Toga hitam membalut tubuhku. Sertifikat kelulusan tergenggam erat di tangan. Di bangku penonton paling belakang, Ibu duduk dengan baju satu-satunya yang sudah usang — tapi beliau memakainya dengan penuh kebanggaan.

"Selamat, Nak. Ibu bangga banget sama kamu," katanya sambil memelukku setelah acara selesai.

Aku tersenyum. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Selama empat tahun kuliah, Ibu tidak pernah sekalipun menanyakan soal uang kuliah. Setiap semester, biaya pendaftaran tiba-tiba sudah lunas. Ketika kutanya, jawaban Ibu selalu sama: "Ibu punya tabungan. Warisan dari nenekmu dulu."

Aku tidak pernah curiga. Aku terlalu sibuk dengan kuliah, organisasi, dan teman-temanku. Sampai hari itu tiba — hari di mana dunia kecilku runtuh dalam satu buku catatan hitam yang robek sudutnya.


Kecelakaan Kecil yang Mengubah Segalanya

Seminggu setelah wisuda, Ibu jatuh sakit. Demam tinggi mengguncang tubuhnya yang mulai renta. Aku membawanya ke puskesmas. Saat Ibu tertidur pulas di ruang perawatan, aku membereskan tas butut yang selalu ia bawa ke mana-mana.

Di dalam tas itu, aku menemukan sebuah buku kecil. Buku catatan hitam dengan sampul robek. Aku membukanya, penasaran dengan isinya.

Dan di situlah duniaku runtuh.

Buku itu berisi catatan pengeluaran dan pemasukan. Tapi judul di halaman pertama membuat jantungku serasa berhenti berdetak:

"Catatan Nyuci Langganan — Bulan Juli 2020"


Catatan Hitam yang Tak Terlupakan

Tanganku gemetar membuka halaman demi halaman. Setiap baris adalah pukulan telak bagiku.

Ibu Susi (Rumah Jl. Merak No. 7): 3 hari seminggu — Rp 150.000/bulan Bu RT (Rumah Jl. Merpati No. 12): 2 hari seminggu — Rp 100.000/bulan Pak RW (Rumah Jl. Kenanga No. 3): Setrika 2 hari seminggu — Rp 120.000/bulan

Sebelas nama. Sebelas rumah yang selama empat tahun Ibu datangi untuk mencuci baju, mengepel lantai, menyetrika. Di halaman berikutnya, catatan pengeluaran:

Beras 5 kg — Rp 50.000 Sayur untuk minggu ini — Rp 30.000 Uang kos untuk Rudi — Rp 400.000 Uang SKS semester ini — Rp 1.200.000 (dibayar cicil 4 kali)

Aku membaca baris demi baris. Air mata mulai mengalir tanpa bisa kubendung. Ibu tidak pernah makan enak selama empat tahun. Semua pendapatannya habis untukku.


Kenangan yang Selama Ini Tertimbun

Tiba-tiba, kenangan masa kuliahku kembali menghantam. Setiap kali aku menelepon, Ibu selalu bilang dengan ceria, "Ibu di rumah aja, Nak. Santai-santai."

Setiap kali aku pulang, tangannya selalu kasar dan pecah-pecah. "Memang sudah tua, Nak. Kulit Ibu kering," katanya sambil tersenyum.

Setiap liburan semester, Ibu selalu terlihat lebih kurus, lebih letih. Tapi tidak pernah sekalipun beliau mengeluh. Pagi-pagi, Ibu bangun jam setengah lima, sarapan hanya segelas air hangat dan pisang rebus.

"Ibu diet," katanya bercanda. "Ibu kan sudah tua, kalau gendut susah jalannya."

Padahal, itu bukan diet. Ibu tidak punya uang untuk membeli lauk. Semua uang habis untuk biaya kuliahku. Untuk SKS yang setiap semester naik. Untuk buku-buku yang harganya mahal. Untuk kos-kosan yang harus dibayar.

Dan aku? Aku jajan mahal bersama teman-teman. Aku beli baju baru tiap bulan. Aku nongkrong di kafe dengan kopi susu kekinian. Sementara Ibu di rumah makan pisang rebus setiap pagi.


Pengakuan di Ruang Sakit

Ibu terbangun. Melihatku menangis dengan buku catatannya di tangan, wajahnya berubah pucat. Beliau tahu rahasianya sudah terbongkar.

"Bu... ini apa?" tanyaku dengan suara serak.

Ibu tidak menjawab. Beliau hanya menunduk dalam-dalam, air mata mengalir dari sudut matanya yang keriput.

"Ini catatan kerja Ibu, Nak. Ibu... Ibu cuci baju orang. Ibu bersihkan rumah orang. Demi kamu."

"Aku kira Ibu di rumah aja. Aku kira Ibu pakai uang warisan nenek."

Ibu menggeleng pelan. "Nggak ada warisan, Nak. Nenekmu juga petani miskin. Ibu sengaja bohong. Ibu gak mau kamu khawatir. Ibu gak mau kamu malu sama teman-teman kuliahmu."


Luka yang Akhirnya Terbuka

Ibu kemudian bercerita. Empat tahun. Setiap hari. Jam setengah lima pagi beliau sudah berjalan kaki ke rumah-rumah langganannya. Kadang hujan deras, kadang panas menyengat. Tangannya yang dulu halus, kini penuh kapalan dan luka karena deterjen.

"Pernah suatu kali, tangan Ibu luka kena pecahan botol pas nyuci. Tapi Ibu diemin aja. Kalau Ibu gak kerja, gak ada uang buat bayar SKS kamu semester itu."

Aku terisak. "Bu... kenapa Ibu gak bilang? Kenapa Ibu biarin aku hura-hura?"

Ibu mengelus kepalaku. Tangannya kasar, tapi sentuhannya begitu lembut. "Sudah, Nak. Ibu ikhlas. Yang penting kamu lulus. Itu sudah lebih dari cukup untuk Ibu."


Kebenaran yang Lebih Dalam Lagi

Malam itu, Bu RT — tetangga yang rumahnya rutin Ibu bersihkan — datang menjenguk. Beliau melihatku termenung di kursi plastik ruang tunggu.

"Rudi, kamu sudah tahu semuanya?" tanya Bu RT lembut.

Aku mengangguk, masih dengan mata sembab.

"Ibu kamu itu perempuan hebat, Nak. Tapi ada satu hal yang mungkin belum kamu tahu."

Aku menegakkan badan. "Apa, Bu?"

Bu RT menghela napas panjang. "Tiga tahun lalu, Ibu kamu jatuh di kamar mandiku. Kepalanya berdarah. Luka di kepala, jahitan lima. Tapi beliau minta jangan dibilangin sama kamu. Karena katanya, kamu lagi ujian akhir semester. Beliau takut kamu gagal kalau tahu."

Duniaku kembali runtuh. Aku ingat. Waktu itu pulang dan Ibu selalu memakai kerudung. Bahkan di dalam rumah. Bahkan saat tidur. Ibu menyembunyikan jahitan di kepalanya selama sebulan penuh. Demi aku. Demi ujian semesterku.


Foto Lusuh di Dompet Butut

Keesokan harinya, saat Ibu sudah diperbolehkan pulang, aku membereskan kamar Ibu. Lemarinya hanya berisi tiga potong baju. Tiga. Untuk empat tahun. Untuk ribuan hari kerja banting tulang.

Di dalam dompet Ibu yang sudah robek sudutnya, aku menemukan foto. Bukan foto keluarga. Bukan foto mendiang Bapak. Foto itu adalah fotoku saat pertama kali masuk SMA. Seragam biru putih. Tersenyum lebar dengan gigi yang masih rapi.

Foto itu sudah lusuh. Pinggirnya robek karena sering dipegang. Di balik foto, ada tulisan tangan Ibu yang hampir pudar:

"Anak Ibu sudah besar. Ibu harus kuat."

Aku duduk di lantai kamar Ibu, memegang foto itu, dan menangis sejadi-jadinya. Tidak ada tangis yang lebih memilukan selain tangis seorang anak yang baru sadar betapa besar pengorbanan orang tuanya. Betapa selama ini ia buta. Betapa selama ini ia sibuk dengan dunianya sendiri.


Janji di Senja Hari

Sore itu, aku dan Ibu duduk di teras rumah. Matahari mulai tenggelam di ubar barat, langit berubah jingga keemasan. Suara azan Magrib berkumandang dari masjid dekat rumah, mengiringi detik-detik yang mengharukan.

"Bu, mulai sekarang Ibu gak usah kerja lagi. Aku kerja. Aku yang cari uang."

Ibu tersenyum. Senyum yang sama yang selalu ia berikan padaku. Senyum yang menyembunyikan seribu derita. "Ibu masih kuat, Nak."

"Gak, Bu. Kali ini biar aku. Aku sudah lulus. Sekarang giliran aku jaga Ibu."

Ibu menatapku lama. Matanya berkaca-kaca. Beliau mengangguk pelan, lalu berkata, "Ibu minta satu janji."

"Apa pun, Bu."

"Janji sama Ibu. Kamu harus jadi orang yang baik. Jangan sombong sama orang miskin. Jangan lupa sama yang kecil. Karena Ibu juga orang kecil yang berjuang. Dan Ibu bangga jadi orang kecil yang bisa bikin anaknya besar."


Akhir yang Menjadi Awal Baru

Tiga bulan setelah wisuda, aku diterima kerja di sebuah perusahaan ternama. Gaji pertamaku — utuh, tanpa dipotong — langsung kuberikan ke Ibu.

"Ini Bu. Buat Ibu. Beli baju baru. Beli apa yang Ibu mau."

Ibu memegang amplop itu dengan tangan kapalannya. Beliau memelukku erat, menangis di pundakku seperti anak kecil. "Terima kasih, Nak. Ibu tahu kamu anak baik."

Tapi keesokan harinya, Ibu tidak membeli baju baru. Beliau tidak membeli apa pun untuk dirinya sendiri. Beliau pergi ke bank dan membuka tabungan. Atas namaku.

"Ibu tabung untuk masa depan kamu. Ibu sudah punya segalanya. Ibu punya kamu."

Aku memeluknya lagi. Kali ini, aku tidak bisa berkata apa-apa. Karena kata-kata tidak akan pernah cukup untuk membalas cinta seorang ibu.


Pesan untukmu yang Membaca

Jangan pernah merasa bahwa orang tuamu baik-baik saja. Di balik senyum mereka, ada perjuangan yang tidak pernah mereka ceritakan. Di balik jawaban "Ibu baik-baik aja", ada ribuan tangis yang mereka telan sendiri.

Cinta orang tua tidak pernah bicara. Ia hanya bekerja diam-diam.

Teleponlah mereka hari ini. Pulanglah sebelum semuanya terlambat. Karena waktu tidak pernah menunggu penyesalan kita.

🌾 Tamat 🌾

We use cookies to improve your experience. By continuing to visit this site you agree to our use of cookies.

× Full Preview