Bapakku seorang kuli bangunan. Aku malu mengakuinya di depan teman-teman. Tapi suatu hari, aku melihat sesuatu yang mengubah caraku memandang beliau selamanya.
Bima baru berusia 12 tahun saat pertama kali ia merasakan malu yang perih di dadanya. Itu terjadi pada hari ulang tahun Ardi, teman sekelasnya, yang dirayakan di sebuah restoran ayam goreng terkenal. Semua teman datang dengan orang tua masing-masing — ada yang mengendarai Avanza, Xenia, bahkan seorang ayah mengantar anaknya dengan mobil kijang yang masih mulus. Bima datang diantar Bapak naik sepeda ontel.
"Tuh Bapakmu tukang becak, Bi?" ledek Ardi pelan.
Bima menggeleng cepat. "Itu... supirnya. Bapakku lagi kerja."
Bohong itu meluncur begitu saja. Bapak yang mendengarnya dari kejauhan hanya tersenyum tipis lalu mengayuh sepedanya pergi. Bima tidak tahu bahwa senyum itu adalah senyum paling pahit yang pernah ia lihat.
Bapak Bima, Pak Rudi, bekerja sebagai kuli bangunan. Tangannya kasar, penuh kapalan dan retak-retak kena semen. Setiap sore ia pulang dengan baju lusuh penuh debu dan cat tembok, bau adukan semen dan keringat. Bima ingat betul bagaimana dulu ia kecil sering minta gendong. Kini, saat usianya menginjak 12, ia justru menjauh.
Awal Mula Segalanya Berubah
Suatu sore, Bu Sari — ibu Bima — menyuruhnya mengantar minum ke tempat Bapak bekerja. Sebuah proyek bangunan ruko tiga lantai di ujung kota. Bima ogah-ogahan. Tapi karena ibunya sudah membungkus empat gelas es teh manis dalam kantong plastik, ia pun berangkat.
Sampai di lokasi, Bima mencari-cari Bapak. Proyek itu besar. Ada puluhan pekerja. Beberapa memakai helm proyek, baju rapi, seperti mandor. Yang lain berkaus singlet dan celana kusam, tubuh hitam legam terbakar matahari, duduk berjajar memecah batu bata.
"Pak Rudinya di lantai dua, Nduk," teriak seorang tukang.
Bima naik ke lantai dua melalui tangga darurat yang belum dipasangi railing. Di sana ia melihat Bapak. Punggung Bapak melengkung sedang mencampur semen di ember besar. Debu putih beterbangan di sekelilingnya. Wajahnya hitam, keringat mengalir di pelipis, dan tanpa sadar Bapak menyeka keringat itu dengan lengan bajunya yang sudah lusuh.
Bima tiba-tiba tidak sanggup mendekat.
Ia meletakkan es teh di tepi lantai lalu pergi tanpa suara. Tapi di tangga, ia hampir berpapasan dengan salah satu mandor yang sedang naik.
"Wah, ini pasti anaknya Pak Rudi, ya? Mukanya mirip," sapa mandor itu ramah. "Bapakmu pekerja paling rajin, lho. Semua orang sini hormat sama Pak Rudi."
Bima hanya tersenyum kaku.
Malam yang Menggetarkan
Tiga hari kemudian, Bima terbangun tengah malam karena mendengar suara gemerisik. Jam dinding menunjukkan pukul 01.30. Ia mengintip dari balik pintu kamar. Lampu ruang tamu masih menyala redup.
Bapak duduk di lantai, membongkar sebuah amplop coklat tua. Di dalamnya ada setumpuk uang — pecahan dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu. Bapak menghitungnya satu per satu, pelan, dengan jari-jari yang kaku karena kapalan. Ia tersenyum sendiri sambil memandang secarik kertas.
Bima mendekat pelan. "Bapak belum tidur?"
Pak Rudi kaget, lalu tersenyum. "Bima, sini."
Bima duduk di samping Bapak. Di atas kertas itu ada gambar sebuah sepeda — sepeda gunung biru, persis seperti yang selalu Bima incar di etalase toko langganannya.
"Bapak nabung buat apa?" tanya Bima pura-pura tidak tahu.
Bapak mengelus kepala Bima. "Buat kamu, Nak. Ulang tahunmu kan bulan depan. Bapak lihat kamu suka lihat sepeda itu tiap kali lewat toko."
Bima membisu. Hati perutnya terasa mulas. Sepanjang ini, ia sibuk malu dan menjauh. Sementara Bapak banting tulang, lembur sampai malam, demi sebuah sepeda yang bahkan tidak pernah Bima minta.
"Ayo, tidur," kata Bapak sambil membereskan uang. "Besok Bapak lembur lagi, nih."
Kado yang Tak Terbuka
Hari ulang tahun Bima tiba. Pagi itu, Bapak sudah pamit kerja sejak subuh. Di meja makan ada kue pisang goreng kesukaan Bima dan selembar kertas kado menempel di gelas minum. Bima membukanya tangan gemetar — isinya foto sepeda gunung biru, dengan tulisan tangan Bapak: "Sebentar lagi, Nak. Bapak janji."
Bima tidak tahu harus merasa apa.
Ia berangkat sekolah seperti biasa. Tapi hari itu, guru menunjuk Bima untuk mewakili kelas dalam lomba cerdas cermat antarsekolah. Bima senang. Lomba itu akan digelar seminggu lagi.
"Kamu pasti bisa, Bi. Orang tuamu pasti bangga," kata Bu Guru.
Bima tersenyum, tapi ia tahu, di dalam kelas, ada satu atau dua teman yang tahu pekerjaan Bapak. Dan itu membuat lehernya terasa panas.
Kejutan di Hari Lomba
Hari lomba tiba. Bima tampil luar biasa. Ia berhasil menjawab tiga pertanyaan sulit — tentang sistem tata surya, tentang Pancasila, tentang rumus luas bangun datar. Tepuk tangan bergemuruh. Bima meraih juara kedua.
Semua orang tua berfoto dengan anaknya. Bima menatap pintu gerbang sekolah, berharap. Ia tahu Bapak sedang bekerja. Tak mungkin datang.
Tapi.
Suara klakson sepeda tua terdengar dari arah parkir. Bima menoleh. Bapak berdiri di samping sepeda ontelnya, masih memakai baju kerja penuh debu semen, helm proyek masih menggenggam di tangan kiri. Ia tersenyum lebar. Gigi putihnya kontras dengan wajah hitamnya.
"Ih, bau semen, deh," bisik seorang teman di sebelah Bima.
Bima merasa mukanya memanas. Ia ingin lari. Tapi kakinya tidak bergerak.
Bapak melangkah mendekat. Di tangannya ada sebuah benda terbungkus kain batik lusuh — sebuah bungkusan sederhana.
"Selamat, Nak. Bapak bangga banget sama kamu."
Bima menerima bungkusan itu. Dibukanya pelan. Di dalamnya ada termos minum baru — bukan termos mahal, tapi termos sederhana warna biru, sama birunya dengan sepeda yang digambar Bapak.
"Bapak... belum bisa beli sepeda, Nak. Maaf. Tapi Bapak janji, nanti pas kamu naik kelas, pasti Bapak usahakan."
Bima berdiri membisu. Tangan kanannya memegang termos itu. Tangan kirinya meraba pundak Bapak yang berdebu. Dan tanpa ia sadari, air matanya jatuh.
Di depan semua teman, guru, dan orang tua yang hadir, Bima memeluk Bapak.
"Makasih, Pak. Ini yang terbaik."
Bukan Gelas yang Mahal
Tapi sebenarnya, momen yang paling mengubah Bima bukanlah hari lomba itu.
Beberapa minggu setelahnya, Bima pulang lebih cepat karena guru ada rapat. Ibu belum pulang dari pasar. Ia masuk ke dapur. Di atas meja dapur, ia melihat gelas plastik bekas air mineral — sudah kusam, bagian pinggirnya mulai menguning. Bapak sedang duduk di kursi belakang, minum dari gelas itu, sambil memijit betisnya yang kram.
"Pak, kenapa Bapak minum pakai gelas plastik bekas?" tanya Bima. "Kan ada gelas kaca di lemari."
Bapak meneguk air, lalu menjawab enteng. "Gelas kaca cuma tiga. Itu buat tamu sama keluargamu. Bapak nggak mau pecahin. Gelas plastik ini awet, udah setahun lebih nggak pecah."
Bima mengambil gelas plastik itu. Ia membolak-baliknya. Gelas murahan, bekas air mineral yang dijual seribu rupiah di warung. Tapi bagi Bapak, itu cukup.
Malam itu, tanpa Bapak tahu, Bima menyimpan gelas plastik itu ke dalam lemarinya.
Akhir yang Menyentuh
Enam bulan kemudian, Bapak akhirnya membeli sepeda gunung biru itu. Bukan baru — bekas, tapi masih bagus. Catnya sedikit terkelupas di stang, remnya agak keras. Tapi bagi Bima, sepeda itu lebih berharga dari apa pun.
Setiap pagi, Bima mengayuh sepeda biru itu ke sekolah. Tak ada lagi rasa malu. Bahkan, suatu hari saat ada teman yang bertanya, "Bi, bapakmu kerja di proyek, ya?" Bima menjawab lantang, "Iya. Kuli bangunan. Terbaik."
Dan di saku tasnya, selalu ada satu benda kecil: gelas plastik bekas yang dulu dipakai Bapak — sebagai pengingat bahwa cinta tidak harus mahal. Kadang, cinta hadir dalam bentuk paling sederhana: sebuah gelas minum yang setia menemani kelelahan seseorang yang tak pernah mengeluh.
(Selesai)
Pesan Moral: Jangan pernah malu dengan pekerjaan orang tua. Karena di balik setiap tetes keringat mereka, ada cinta yang tak ternilai harganya.