Pagi itu, Rina (26 tahun) duduk di pinggir jalan desa sambil memandangi jalan setapak berbatu yang membentang di depan matanya. Di tangannya, ia memegang secarik surat tugas yang sudah lusuh karena dibaca berulang kali. Surat yang mengubah seluruh rencananya.
"PENEMPATAN: SDN WATUMENI, KECAMATAN KELIMUTU, KABUPATEN ENDE, NUSA TENGGARA TIMUR."
Rina tidak bisa menahan air matanya saat pertama kali membaca alamat itu. Empat tahun ia belajar di IKIP Negeri Malang, begadang mengerjakan skripsi, dan membayangkan dirinya mengajar di sekolah kota yang bersih dan modern. Tapi takdir berkata lain.
Perjalanan dari Ende ke desa tempat SD itu berada memakan waktu 8 jam. Satu jam naik mobil pick-up, lalu 7 jam berjalan kaki melewati bukit dan lembah. Tas ransel Rina berat — isinya pakaian, beberapa buku pegangan guru, dan sekantong besar mie instan yang ia beli di kota. Sepanjang perjalanan, ia hanya bisa menangis dalam hati. Di pikirannya, ia sudah membayangkan akan menelepon Dinas Pendidikan dan meminta mutasi setelah tiga bulan. Cukup buat pengalaman, lalu ia akan pindah ke kota. Tapi Tuhan punya rencana lain.
—
Sesampainya di SDN Watumeni, Rina tertegun. Sekolah itu bukan gedung megah seperti yang ia bayangkan. Hanya dua ruang kelas beratap seng, berdinding anyaman bambu, dan berlantai tanah. Di halaman, sebuah tiang bendera bambu berdiri miring — hampir roboh diterpa angin.
Kepala sekolah — Pak Kristo, seorang lelaki paruh baya dengan kemeja putih lusuh — menyambutnya dengan senyum lebar. "Selamat datang, Bu Guru Rina. Kami sudah lama menunggu guru baru. Sudah tiga tahun kami tidak punya guru tetap."
Tiga tahun. Tanpa guru tetap. Rina tidak bisa membayangkan bagaimana anak-anak di sini belajar selama itu. Pak Kristo kemudian memperkenalkan Rina pada murid-muridnya. Hanya 12 anak. Kelas 1 sampai 6 digabung dalam dua ruangan. Pak Kristo sendiri mengajar sendirian selama ini — campuran semua mata pelajaran untuk semua tingkatan.
Anak-anak itu memandang Rina dengan mata berbinar. Beberapa dari mereka tidak memakai sepatu. Seragam mereka sudah lusuh, di beberapa bagian sobek dan dijahit kembali dengan benang kasar. Tapi senyum mereka — senyum itu tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun. "Selamat datang, Bu Guru!" teriak mereka serempak.
Saat itulah sesuatu di hati Rina mulai mencair. Tapi ia masih keras kepala. Tiga bulan, lalu pindah. Ia ulang dalam hati seperti mantra.
—
Hari-hari pertama di Watumeni adalah kejutan budaya yang luar biasa. Rina tinggal di rumah panggung bambu — hadiah dari kepala desa yang baik hati. Tidak ada listrik. Tidak ada air ledeng. Penerangan hanya dari lampu minyak tanah. Mandi di sungai yang harus ditempuh dengan berjalan kaki 500 meter. Ponselnya tidak pernah mendapat sinyal. Untuk menelepon keluarganya di Jawa, ia harus berjalan ke puncak bukit setinggi 300 meter dan mencari titik di mana satu batang sinyal muncul.
Malam pertama, Rina menangis di bale-bale bambu. Ia memandangi langit-langit yang hanya berupa daun rumbia dan berpikir, "Apa yang salah dengan hidupku? Kenapa aku harus ditempatkan di sini?"
Tapi pagi harinya, ketika ia bangun dan membuka pintu, pemandangan di depannya membuatnya menarik napas dalam-dalam. Gunung Kelimutu menjulang di kejauhan. Kabut tipis menyelimuti lembah. Anak-anak desa sudah berkumpul di halaman SD, menunggunya dengan senyum lebar. "Selamat pagi, Bu Guru Rina!" Dan Rina tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam seminggu.
—
Satu bulan berlalu. Rina mulai terbiasa dengan rutinitas barunya. Ia bangun jam setengah lima pagi, berjalan ke sungai untuk mandi, lalu ke sekolah. Mengajar 12 anak dengan berbagai tingkatan kelas dalam satu ruangan bukanlah hal mudah. Tapi Rina menemukan caranya.
Ia membagi papan tulis menjadi tiga bagian. Bagian kiri untuk kelas 1-2, bagian tengah untuk kelas 3-4, dan bagian kanan untuk kelas 5-6. Satu per satu, ia berkeliling, memastikan semua anak mendapat pelajaran. Anak-anak itu haus akan ilmu. Beberapa dari mereka berjalan kaki 5 kilometer setiap pagi hanya untuk sampai ke sekolah, melewati jalan setapak berlumpur, kadang tanpa sarapan. Tapi tidak pernah satu hari pun mereka bolos.
"Bu Guru, aku mau jadi dokter," kata Boni, anak kelas 5 yang paling pintar. "Biar bisa obati Mama yang sakit."
"Bu Guru, aku mau jadi guru kayak Bu Guru," sahut Nita, anak kelas 3 yang selalu duduk di barisan depan.
"Bu Guru, kalau aku besar, aku mau beli sepatu buat adik-adik," kata Ale — anak paling kecil di kelas 1.
Rina menahan air matanya saat mendengar mimpi-mimpi sederhana itu. Anak-anak ini tidak punya apa-apa. Tapi mereka punya mimpi yang lebih besar dari langit di atas kepala mereka.
—
Hingga suatu malam di bulan November, musim hujan datang dengan sangat cepat. Angin kencang menerpa rumah panggung Rina. Atap rumbia bocor di beberapa tempat. Ia duduk di sudut ruangan, memeluk tubuhnya yang kedinginan, dan untuk pertama kalinya — ia merasa bukan lagi benci atau ingin pindah. Ia merasa... butuh. Ia butuh berada di sini. Bukan karena ia terpaksa. Tapi karena anak-anak ini butuh dia.
Keesokan harinya, Rina jatuh sakit. Demam tinggi. Pak Kristo memeriksanya dan segera memberinya ramuan tradisional. Tapi beberapa hari kemudian, penyakitnya tidak kunjung sembuh. Anak-anak datang menjenguk. Mereka membawa apa pun yang mereka punya — singkong rebus, pisang, telur ayam kampung. Mereka duduk di teras rumah Rina, tidak masuk karena takut mengganggu. "Bu Guru, cepat sembuh, ya. Kami kangen belajar," kata mereka dari balik pintu.
Rina menangis dalam diam. Ia tidak pernah merasa dicintai sebanyak ini oleh orang-orang yang tidak punya apa-apa.
—
Tiga minggu kemudian, Rina sembuh. Ia kembali ke sekolah dengan semangat baru. Tapi sesuatu yang mengejutkan terjadi. Suatu sore, Pak Kristo memanggilnya. "Bu Rina, ada surat dari Dinas Pendidikan."
Rina membaca surat itu dengan tangan gemetar. Isinya: tawaran mutasi ke sekolah di Kota Ende. Sekolah yang layak, dengan listrik, air bersih, dan akses internet. Semua yang dulu ia impikan. Pak Kristo menatapnya. Wajah lelaki tua itu tidak bisa disembunyikan. Beliau takut. Takut kehilangan satu-satunya guru muda yang pernah datang ke desa ini. "Terserah Ibu, Bu Rina. Saya tidak akan memaksa. Tapi... anak-anak itu sangat menyayangi Ibu."
Rina duduk di kelas yang kosong malam itu. Dinding bambu, lantai tanah, papan tulis yang sudah usang — semuanya terasa begitu akrab sekarang. Ia ingat tatapan Boni yang bercita-cita jadi dokter. Ia ingat tawa Nita yang riang. Ia ingat Ale yang setiap pagi memegang ujung seragamnya dan bertanya, "Bu Guru, hari ini belajar apa?" Di luar, hujan mulai turun deras. Tapi Rina tidak peduli. Ia mengambil selembar kertas dan mulai menulis.
—
Pagi harinya, Rina mengumpulkan semua muridnya di kelas. 12 anak duduk rapi di lantai tanah, memandanginya dengan penuh harap. "Anak-anak, Bu Guru dapat surat dari kota. Bu Guru ditawari pindah ke sekolah yang lebih bagus."
Wajah anak-anak itu langsung berubah. Boni menunduk. Nita menggigit bibirnya. Ale — si kecil — langsung menangis. "Bu Guru jangan pergi!" teriak Ale, berlari memeluk kaki Rina. Rina membungkuk, menggendong Ale, dan berkata pada semua muridnya, "Bu Guru tidak akan pergi. Bu Guru sudah membalas surat itu. Bu Guru akan tetap di sini."
Kelas itu meledak dalam teriakan kegirangan. Anak-anak berteriak, bertepuk tangan, dan memeluk Rina bergantian. Boni yang paling dewasa di antara mereka, diam-diam menyeka air matanya. Pak Kristo yang mendengar dari luar, tersenyum. Beliau masuk kelas dan berkata, "Bu Rina, saya mewakili seluruh desa mengucapkan terima kasih. Ibu adalah anugerah terbesar yang pernah datang ke Watumeni." Rina tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa berada di tempat yang tepat.
—
Dua tahun kemudian...
SDN Watumeni tidak lagi seperti dulu. Dinding bambu masih sama. Lantai tanah masih sama. Tapi ada perubahan besar: Rina berhasil mengajukan proposal ke Dinas Pendidikan dan mendapatkan bantuan — buku baru, alat peraga sederhana, dan beasiswa untuk tiga anak berprestasi. Boni — anak yang dulu bercita-cita jadi dokter — kini duduk di bangku SMP di Kota Ende dengan beasiswa penuh. Nita — yang dulu selalu duduk di barisan depan — juga mendapatkan beasiswa serupa. Dan Ale, si kecil yang menangis saat Rina hampir pergi, kini sudah kelas 3 dan ia bercita-cita jadi guru — seperti Bu Rina.
Suatu sore, Rina menerima surat dari Boni. Kertasnya kusam, tulisannya tidak rapi, tapi isinya membuatnya menangis sepanjang malam.
"Bu Rina yang baik... Saya sekarang di Ende. Sekolahnya bagus. Tapi saya rindu Watumeni. Saya rindu kelas bambu itu. Saya rindu pelajaran Bu Rina. Bu, saya janji. Saya akan belajar sungguh-sungguh. Saya akan jadi dokter. Lalu saya akan kembali ke Watumeni. Menjadi dokter untuk Mama dan untuk semua orang di desa. Terima kasih Bu Rina sudah tidak pergi. Kalau Bu Rina pergi dulu, mungkin saya sudah tidak sekolah lagi. — Dari murid Bu Rina, Boni Brata."
Rina memeluk surat itu erat-erat. Di luar, matahari mulai tenggelam di balik Gunung Kelimutu, mewarnai langit dengan jingga keemasan. Kabut tipis mulai turun di lembah, seperti selimut yang menutupi bumi. Ia memandangi kelas bambu di depannya. Masih sama. Tapi di dalamnya, ada 12 anak — 12 harapan — yang percaya bahwa mimpi tidak pernah terlalu besar untuk dikejar.
Rina tersenyum. Ia tidak pernah membayangkan bahwa tugas yang dulu ia benci, akan menjadi rumah yang paling ia cintai. Kadang, hidup membawa kita ke tempat yang tidak kita rencanakan. Dan di sanalah kita menemukan alasan sebenarnya mengapa kita ada.
🌾 Tamat 🌾