Catatan Terakhir di Buku Telepon Ayah

Image source : AI Generated

Hari itu, langit mendung saat Arman (42 tahun) duduk di teras rumah masa kecilnya. Sudah seminggu sejak pemakaman Bapak — Pak Sastro, 68 tahun, pensiunan pegawai kelurahan yang meninggal karena serangan jantung. Rumah yang dulu ramai dengan suara Bapak yang cerewet, kini sunyi. Hanya suara cicak dan angin yang berbisik di sela-sela daun jati.

Arman adalah anak tunggal. Ibunya sudah meninggal saat ia berusia 10 tahun. Sejak itu, ia hanya tinggal berdua dengan Bapak. Hubungan mereka tidak pernah dekat. Bapak adalah tipe laki-laki Jawa tempo dulu: keras, pendiam, dan hampir tidak pernah menunjukkan kasih sayang secara terbuka.

"Pak, aku diterima kerja di Jakarta," kata Arman 20 tahun lalu, tepat setelah lulus kuliah.

Bapak hanya mengangguk. "Hati-hati di sana." Itu saja. Tidak ada pelukan. Tidak ada air mata. Tidak ada kata "Bapak bangga". Arman pergi ke Jakarta dengan perasaan hambar. Ia ingin Bapak mengatakan sesuatu yang lebih. Tapi Bapak bukan tipe orang yang bisa mengungkapkan perasaan.

Selama 20 tahun di Jakarta, Arman jarang pulang. Setahun sekali saat Lebaran. Ia menelepon Bapak setiap minggu, tapi percakapan mereka selalu singkat. "Apa kabar, Pak?""Baik.""Makannya?""Dimasak sama tetangga.""Iya, Pak, nanti aku kirim uang.""Iya." Lalu telepon ditutup.

Arman tidak pernah mendengar Bapak bilang "Aku kangen" atau "Aku sayang kamu". Bapak adalah gunung es yang membeku. Dan Arman sudah lama pasrah.

Tapi sekarang, Bapak sudah tiada. Arman duduk di teras, memandangi sawah yang mulai menguning, dan merasakan kehampaan yang aneh. Bukan kesedihan yang meluap-luap. Tapi kehampaan. Seperti ada sesuatu yang belum selesai antara ia dan Bapaknya.

Ia masuk ke kamar Bapak untuk membereskan barang-barangnya.

Kamar itu masih sama seperti 20 tahun lalu. Dipan kayu jati dengan seprai putih polos. Lemari baju yang catnya mulai mengelupas. Meja kecil di pojok dengan tumpukan koran bekas. Dan di samping dipan, ada sebuah meja nakas kecil dengan laci yang selalu terkunci.

Arman ingat, Bapak selalu membawa kunci laci itu ke mana pun. Di saku celananya. Atau di ikat pinggangnya. Ia tidak pernah tahu apa isinya. Sekarang, setelah Bapak tiada, kunci itu ada di dalam amplop putih bersama surat wasiat.

Dengan tangan gemetar, Arman membuka laci itu.

Isinya tidak seperti yang ia bayangkan. Bukan uang. Bukan surat berharga. Bukan perhiasan. Di dalam laci itu, ada sebuah buku. Buku catatan kecil bersampul coklat tua, sudah lusuh dan robek di beberapa bagian. Di sampulnya, tertulis dengan spidol hitam: "BUKU TELEPON".

Arman mengernyitkan dahi. Buku telepon? Bapak masih punya buku telepon fisik di zaman smartphone begini? Ia mengambil buku itu dan membukanya perlahan.

Halaman pertama. Tulisan tangan Bapak yang rapi khas pensiunan pegawai kelurahan.

"Pak RT (Mujiono) — 0812XXXXXX — Sudah bantu bayarkan listrik tetangga yang sakit. Tagih nanti kalau sudah punya uang."

"Bu Kades (Sukini) — 0821XXXXXX — Utang beras 5 kg dari tiga bulan lalu. Tapi sudahlah, ikhlaskan."

"Mas Bejo (tukang sate) — 0856XXXXXX — Pinjam Rp 200.000 untuk anaknya yang opname. Belum dibayar. Tapi lihat saja nanti."

Arman membaca satu per satu. Buku itu bukan buku telepon biasa. Ini adalah catatan hutang piutang Bapak dengan tetangga-tetangganya. Tapi bukan hutang Bapak pada mereka. Sebaliknya — ini adalah catatan tentang tetangga yang berhutang pada Bapak, dan Bapak memilih untuk tidak menagihnya.

Ada puluhan nama di dalamnya. Semua adalah orang-orang kecil di desa. Semua berhutang pada Bapak. Dan Bapak — pensiunan dengan gaji pas-pasan — tidak pernah menagih satu pun.

Halaman demi halaman, Arman menemukan semakin banyak catatan.

Tapi yang paling membuatnya terkejut adalah ketika ia sampai di halaman paling akhir. Halaman yang berbeda dari yang lain. Di sini, tulisan Bapak tidak rapi. Seperti ditulis terburu-buru. Atau mungkin sambil menahan tangis.

"Anakku, Arman...

Maaf Bapak tidak pernah bisa bilang sayang sama kamu secara langsung. Bapak memang kaku. Bapak tidak tahu cara mengungkapkan perasaan. Mungkin itu salah Bapak. Tapi percayalah, Nak — tidak ada satu hari pun yang berlalu tanpa Bapak memikirkan kamu.

Di buku ini, Bapak mencatat setiap orang yang Bapak bantu. Bukan karena Bapak ingin dipuji. Tapi karena Bapak ingin suatu hari nanti, kamu tahu bahwa Bapak tidak hidup sia-sia. Bapak ingin kamu bangga pada Bapak.

Tapi ada satu catatan yang paling penting. Catatan yang tidak Bapak tulis di mana pun. Hanya di sini.

Nomor teleponmu.

Dari 20 tahun yang lalu, Bapak menyimpan nomormu di bawah 'A' — Arman. Tapi Bapak tidak pernah punya keberanian untuk meneleponmu dan bilang, 'Bapak kangen, Nak.' Bapak selalu menunggu kamu yang menelepon. Bapak selalu berpura-pura kuat.

Setiap malam, Bapak memegang ponsel ini. Melihat nomormu. Ingin menekan tombol hijau. Tapi selalu urung. Bapak takut — takut mengganggu waktu kerjamu, takut kamu sibuk, takut kamu tidak punya waktu untuk Bapak.

Nak, kalau kamu membaca ini suatu hari nanti — entah kenapa Bapak merasa kamu akan membaca ini — Bapak ingin kamu tahu satu hal:

Bapak sayang kamu. Bapak sayang banget sama kamu.

Bapak bangga kamu jadi anak Bapak. Bapak bangga lihat kamu sukses di Jakarta. Bapak bangga setiap kali ada yang bilang, 'Anaknya Pak Sastro itu pintar, ya.'

Maaf Bapak tidak sempat bilang ini langsung. Maaf Bapak baru berani menulisnya di buku telepon usang ini.

— Bapakmu yang paling mencintaimu, walau tidak pernah bisa mengatakannya."

Arman membaca tulisan itu berulang kali. Air matanya mengalir deras tanpa bisa ia bendung. Ia memeluk buku usang itu erat-erat, menangis seperti anak kecil yang kehilangan arah.

Dua puluh tahun. Dua puluh tahun ia menunggu kata-kata itu. Dan ia baru mendapatkannya sekarang — setelah Bapak tiada.

Arman mengambil ponselnya. Ia membuka riwayat panggilan. Panggilan terakhir ke Bapak — tiga minggu yang lalu. Durasi: 1 menit 23 detik. Percakapan standar. "Apa kabar, Pak?""Baik.""Uangnya sudah sampai?""Sudah.""Iya, Pak, aku sibuk. Nanti kutelepon lagi."

Arman tidak pernah menelepon lagi setelah itu.

Ia menekan nomor Bapak sekarang. Nomor yang sudah tidak aktif. Yang menjawab hanya suara operator: "Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi."

Arman tersedu-sedu.

Ia membuka buku telepon itu lagi. Di halaman terakhir, di bawah catatan tentang dirinya, ada tambahan yang ditulis dengan pensil — sudah hampir pudar:

"21 Juni 2023 — Hari ini Arman telepon. Katanya mau pulang Lebaran. Bapak senang. Bapak bersihin rumah, beli keset baru, siapin kamarnya. Tapi ternyata batal. Katanya sibuk. Bapak maklum. Tapi malam itu Bapak nangis, Nak. Maaf Bapak nangis."

Arman tidak ingat. Ia tidak ingat bahwa ia pernah membatalkan rencana pulang. Pasti ada alasannya — rapat, deadline, atau urusan lain yang saat itu terasa sangat penting. Tapi sekarang, semua alasan itu terasa remeh. Sangat remeh.

"Maaf, Pak... maafin Arman..." bisiknya di kamar kosong itu. Hanya angin yang menjawab. Hanya debu-debu yang berterbangan.


Malam harinya, Arman duduk di teras rumah Bapak. Seperti dulu, ketika ia masih kecil dan Bapak mengajarinya matematika di tempat ini. Bapak dulu guru yang sabar. Ia bisa mengulang penjelasan berkali-kali tanpa bosan. Tapi kenapa untuk mengucapkan "Aku sayang kamu", Bapak tidak pernah punya keberanian?

Arman baru mengerti sekarang. Bapak adalah generasi yang tumbuh dalam budaya bahwa cinta tidak perlu diucapkan — cukup dibuktikan. Bapak tidak pernah bilang sayang, tapi ia selalu memastikan Arman makan. Ia tidak pernah bilang rindu, tapi ia selalu menunggu di teras setiap kali Arman pulang. Ia tidak pernah bilang bangga, tapi ia menyimpan semua sertifikat dan piagam Arman di lemari kacanya.

Cinta Bapak tidak pernah diucapkan. Tapi selalu ada — dalam setiap helaan napas, dalam setiap tegukan kopi yang ia minum sendirian di teras, dalam setiap malam ia menatap ponsel tanpa pernah menekan tombol hijau.

Keesokan harinya, sebelum kembali ke Jakarta, Arman mampir ke makam Bapak. Ia duduk di samping nisan sederhana itu, meletakkan setangkai mawar putih, dan membuka buku telepon usang di pangkuannya.

"Pak, Arman janji. Mulai sekarang, Arman akan lebih sering pulang. Arman akan menelepon lebih sering. Arman tidak akan membiarkan nomor Bapak hanya diam di buku telepon."

Angin berhembus pelan. Daun-daun pohon trembesi di atas makam berdesir. Arman merasa Bapak ada di sana, tersenyum — mungkin untuk pertama kalinya dengan bebas.

"Dan, Pak... Arman juga sayang Bapak. Arman bangga jadi anak Bapak. Arman baru sadar, Bapak adalah pahlawan yang paling hebat. Bapak tidak pernah kaya. Tapi Bapak kaya hati. Bapak membantu banyak orang tanpa pernah meminta balasan."

Ia menunduk, mencium nisan itu, dan berbisik lirih, "Bapak, maaf Arman baru tahu semuanya sekarang. Maaf Arman baru sadar setelah semuanya terlambat. Tapi Arman janji: buku telepon ini akan menjadi pusaka paling berharga yang pernah Arman miliki. Arman akan meneruskannya — dan mengajarkan anak-anak Arman bahwa cinta sejati tidak selalu diucapkan. Tapi selalu ada. Selamanya ada."


🌾 Tamat 🌾

Pesan dari cerita ini: Jangan menunggu sampai semuanya terlambat untuk mengucapkan "Aku sayang kamu" pada orang tuamu. Karena mungkin, di balik sikap diam mereka, tersembunyi rasa sayang yang tak terhingga — yang tidak pernah berani mereka ungkapkan, tapi selalu mereka rasakan setiap detik sepanjang hidup mereka.

Telepon ayahmu sekarang. Katakan kamu sayang padanya. Jangan sampai kamu menemuinya hanya di dalam buku telepon usang yang sudah tidak bisa dihubungi lagi.

We use cookies to improve your experience. By continuing to visit this site you agree to our use of cookies.

× Full Preview