Ayah untuk Malik

Image source : AI Generated

Rendra (25 tahun) duduk di kursi kayu di ruang bersalin, memeluk bayi laki-laki mungil yang terbungkus kain flanel biru. Bayi itu menangis — tangisan pertama yang memecah keheningan pagi. Tapi Rendra tidak bisa berhenti menatapnya. Wajah mungil itu, bola mata yang masih terpejam, jari-jari kecil yang menggenggam erat jempolnya.

Lima jam sebelumnya, Lina — istrinya — masih tersenyum di ranjang bersalin. Rambutnya basah keringat, wajahnya pucat, tapi matanya bersinar. "Bang, aku udah enggak kuat. Tapi aku mau lihat anak kita,\" bisiknya. Rendra memegang tangannya erat. "Kuat, Lin. Bentar lagi. Kamu kuat.\"

Tapi Lina tidak kuat. Perdarahan hebat. Dokter dan bidan berlarian. Suara mereka terdengar seperti dengung di telinga Rendra. Lalu semuanya hening. Dan seorang dokter keluar dengan wajah tertunduk. "Maaf, Pak. Istri Bapak... kami sudah berusaha maksimal.\"

Rendra tidak ingat bagaimana ia bisa sampai di kursi ini. Yang ia ingat hanyalah bayi mungil yang kini ada di pelukannya — Malik, nama yang mereka pilih bersama. Lina yang memilihnya. "Malik artinya raja, Bang. Karena dia akan jadi raja di hati kita,\" kata Lina waktu itu, sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.

Kini Lina tidak ada. Dan Rendra harus menjadi raja dan ratu sekaligus untuk Malik.

Tiga hari setelah pemakaman Lina, Rendra pulang ke kontrakan sempit di pinggiran Bandung. Ibu — Bu Lastri (50 tahun) — sudah menunggu di pintu dengan wajah cemas. Ibu adalah janda penjual lontong di pasar. Ayah meninggal saat Rendra masih SMA. Kini, di usianya yang setengah abad, Ibu harus membantu mengurus cucu yang baru lahir.

"Rendra, kamu enggak bisa ngurus bayi sendirian. Ibu bantu,\" kata Bu Lastri.

Rendra menggeleng. "Enggak usah, Bu. Rendra bisa.\"

"Bisa apa? Kamu belum pernah ganti popok. Kamu belum pernah nyusuin—"

"Malik kan dikasih susu formula. Tinggal diseduh. Gampang."

Bu Lastri menarik napas panjang. "Rendra, jadi orang tua itu enggak gampang. Apalagi jadi orang tua tunggal. Ibu tahu kamu sedih. Tapi kamu enggak bisa sendirian.\"

Rendra menunduk. Ia tidak ingin terlihat lemah. Tapi di dalam, ia hancur. Bagaimana mungkin ia bisa membesarkan anak? Ia sendiri masih belajar menjadi dewasa. Usianya baru 25 tahun. Ia bekerja sebagai juru las di bengkel milik pamannya. Penghasilannya pas-pasan. Kontrakannya hanya kamar kos berukuran 3x4 meter — cukup untuk dirinya dan Lina dulu, tapi tidak untuk bayi.

Malam pertama di rumah, Rendra tidak tidur. Malik terus menangis. Rendra sudah mengganti popok, menyusuinya, menggendongnya, menyanyikan lagu — tapi Malik tetap menangis. Hingga pukul setengah tiga pagi, Rendra duduk di lantai, memeluk Malik, dan ikut menangis. "Maaf, Nak. Ayah enggak tahu harus ngapain. Ayah enggak pinter kayak Mama,\" isaknya di sela tangis Malik yang tak kunjung reda.

Pagi harinya, Bu Lastri datang membawa bubur dan semangkuk sayur sop. Ia melihat Rendra yang duduk di lantai dengan mata sembab, baju kusut, dan Malik tertidur lelap di dadanya. Bu Lastri tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan makanan di meja, mengambil sapu, dan mulai membersihkan kontrakan yang berantakan.

Hari-hari pertama menjadi ayah tunggal adalah neraka bagi Rendra. Ia harus bangun setiap dua jam untuk menyusui Malik. Ia harus belajar membuat susu formula dengan takaran yang tepat — tidak terlalu encer, tidak terlalu kental. Ia harus belajar mengganti popok tanpa membuat Malik kedinginan. Ia harus belajar memandikan bayi yang tubuhnya masih sangat rapuh.

Di minggu pertama, Rendra hampir menyerah. Suatu malam, saat Malik sedang rewel, Rendra memegang ponselnya dan hampir menelepon Ibu untuk menjemput Malik. Tapi ia melihat foto Lina di wallpaper ponselnya — foto saat mereka masih pacaran, Lina tersenyum lebar dengan rambut dikuncir dua. "Lin... aku enggak kuat,\" bisiknya.

Lalu Rendra melihat Malik yang mulai tenang, matanya terbuka lebar menatap langit-langit. Mata Malik — bentuknya persis seperti Lina. Rendra menekan tombol panggilan Ibu. Tapi ia tidak meminta Ibu menjemput Malik. Ia berkata, "Bu... ajarin Rendra masak bubur. Buat Malik.\"

Bu Lastri menangis di ujung telepon. Tapi ia berkata, "Iya, Nak. Besok Ibu ke sana. Ibu ajarin.\"

Bulan pertama menjadi ayah tunggal membuat Rendra berubah drastis. Ia belajar dari Ibu cara membuat bubur tim saring, cara memijat bayi agar tidak kembung, cara membedong yang benar, dan cara membedakan tangisan lapar, tangisan popok basah, dan tangisan lelah. Ia juga belajar dari YouTube — dari para ibu-ibu muda yang dengan sabar membagikan tips mengurus bayi.

Setiap pagi, sebelum berangkat ke bengkel, Rendra menitipkan Malik pada Bu RT yang baik hati — tetangga yang setuju menjaga Malik dengan bayaran pas-pasan. Setiap jam istirahat, Rendra menelepon Bu RT, bertanya apakah Malik sudah minum, sudah buang air, sudah tidur. Setiap pulang kerja, Rendra langsung mengambil Malik, memeluknya, dan tidak pernah melepaskannya sampai Malik tidur di malam hari.

Suatu hari, di bengkel, teman kerjanya — Asep — bertanya, "Ren, lo enggak capek? Hidup lo kayak robot. Bangun, kerja, urus anak, tidur. Gitu terus. Lo masih muda. Lo bisa cari pengganti—\"

Rendra memotongnya tajam. "Sep, gue enggak perlu pengganti. Lina enggak bisa digantiin. Dan anak gue — Malik — dia bukan beban. Dia anugerah yang Lina titipin buat gue.\"

Asep terdiam. Ia menepuk pundak Rendra. "Gue kagum sama lo, Ren. Serius. Lo lelaki sejati.\"

Tiga bulan kemudian, Rendra mulai bisa membaca tanda-tanda Malik. Ia tahu kapan Malik lapar, kapan Malik lelah, kapan Malik ingin digendong. Ia juga tahu bahwa Malik suka mendengar suaranya — bahkan lebih tenang daripada suara musik. Setiap malam, Rendra menggendong Malik, berjalan mondar-mandir di kamar kontrakan yang sempit, dan bercerita tentang Lina.

"Nak, Mama kamu itu cantik. Waktu Ayah pertama lihat dia di pasar, Ayah langsung jatuh cinta. Mama jualan gorengan. Ayah beli lima ribu, padahal Ayah cuma punya uang sepuluh ribu. Tapi Ayah enggak peduli. Yang penting Ayah lihat senyum Mama.\"

Malik mendengarkan dengan mata terbuka lebar. Kadang ia tersenyum — senyum tanpa gigi yang membuat Rendra lupa semua lelahnya.

"Nak, Mama titip pesan buat Ayah sebelum Mama pergi. Mama bilang, 'Bang, jaga Malik. Bilang sama dia, Mama sayang dia. Mama enggak pernah ninggalin dia. Mama cuma... pergi duluan.'\"

Rendra menangis setiap malam. Tapi tangisnya bukan lagi tangis putus asa. Ini tangis rindu. Rindu pada Lina yang tidak akan pernah melihat Malik tumbuh besar. Rindu pada Lina yang tidak akan pernah mendengar Malik memanggil "Mama". Tapi di balik rindu itu, ada tekad baja: Malik akan tumbuh dengan baik, apa pun yang terjadi.

Di usianya yang ke-6 bulan, Malik mulai bisa duduk sendiri. Rendra membelikannya kursi bayi bekas dari pasar loak — biru muda, sedikit kusam, tapi masih layak pakai. Setiap sore, Rendra duduk di lantai, menghadapkan kursi itu ke arahnya, dan mengajak Malik bicara.

"Malik, hari ini Ayah dapet borongan las pagar rumah orang. Dua juta, Nak. Lumayan. Kita bisa beli susu yang lebih bagus. Ayah juga mau beliin baju baru buat kamu, ya.\"

Malik membalas dengan ocehan — "ba ba ba" — dan air liur yang meleleh. Rendra tertawa. Tawa pertama yang ia keluarkan dalam berbulan-bulan. Ia mencium pipi Malik yang tembem. "Kamu kayak Mama. Gemesin.\"

Malik berusia satu tahun. Raya ulang tahun dirayakan sederhana. Hanya ada Ibu, Bu RT, Pak RT, dan Asep dari bengkel. Ibu membuatkan nasi kuning dan telur dadar. Rendra membelikan kue bolu kecil — karena Malik belum bisa makan kue ulang tahun. Di dinding kontrakan, Rendra memasang spanduk kecil bertuliskan "Selamat Ulang Tahun Malik" — dicetak di kertas HVS, dihias dengan gambar mobil-mobilan buatan sendiri.

Saat meniup lilin, Rendra berbisik dalam hati, "Lin... anak kita sudah satu tahun. Dia keren, Lin. Dia kuat. Kayak kamu.\"

Bu Lastri yang mendengar Rendra bicara sendiri, menunduk menyembunyikan air matanya. Tapi hatinya bersyukur — anaknya, yang 12 bulan lalu hancur lebur, kini sudah tersenyum kembali.

Di malam hari, setelah semua tamu pulang, Rendra duduk di teras kontrakan. Malik sudah tidur di pangkuannya. Rendra memandangi wajah anaknya yang tenang. Wajah itu campuran sempurna antara dirinya dan Lina. Dagu Lina, hidung Rendra, rambut ikal tipis — entah dari siapa.

Rendra mengeluarkan ponselnya. Ia membuka galeri foto. Foto Lina saat hamil tujuh bulan — tersenyum sambil memegang perut besarnya. Foto itu diambil sehari sebelum Lina masuk rumah sakit. "Bang, fotoin aku dong. Biar anak kita lihat aku pernah gendut,\" kata Lina waktu itu, tertawa.

"Lin... Malik sudah bisa merangkak. Dia cepat sekali. Dia suka dicium perutnya. Kalau aku cium, dia geli dan tertawa. Tawanya — tawanya kayak kamu, Lin. Yang dulu aku dengar setiap hari.\"

Angin malam berhembus pelan. Daun pohon mangga di halaman berdesir. Rendra merasa Lina ada di sana — dalam setiap hembusan angin, dalam senyum Malik, dalam setiap malam yang ia lewati bersama anaknya.

Dua tahun kemudian. Malik sudah bisa berjalan dan berlari. Ia aktif, cerdas, dan sangat perhatian. Setiap kali Rendra pulang kerja dengan baju kotor, Malik akan berlari mengambil sandal — meskipun ia sering salah ambil. Setiap kali Rendra terlihat lelah, Malik akan memijat punggung Ayahnya dengan tangan mungil yang belum kuat.

Rendra sering membawa Malik ke makam Lina. Mereka duduk di samping pusara, membawa bunga mawar putih — kesukaan Lina. Malik belum sepenuhnya mengerti. Tapi ia selalu ikut diam saat Ayahnya berdoa.

"Nak, ini Mama. Mama kamu cantik, ya. Mama sayang kamu dari surga.\"

Malik akan menatap foto di nisan, lalu bertanya, "Mama tidur di sini?\"

"Iya, Nak. Mama tidur. Tapi suatu hari nanti, kita ketemu Mama lagi. Di surga.\"

Suatu Minggu pagi, Rendra sedang duduk di teras sambil minum kopi. Malik bermain mobil-mobilan di lantai. Tiba-tiba, Malik berhenti bermain. Ia berlari ke kamar, mengambil foto Lina yang ada di meja — satu-satunya foto Lina yang tersisa, dibingkai kayu buatan Rendra sendiri. Malik memegang foto itu, lalu berlari ke Rendra.

"Ay, ini Mama?\" tanyanya, menunjuk foto Lina.

Rendra tersenyum. "Iya, Nak. Itu Mama.\"

Malik menatap foto itu lama. Lalu ia menempelkan foto itu di dadanya. "Malik sayang Mama.\"

Rendra tidak bisa menahan air matanya. Ia meraih Malik, mendudukkannya di pangkuan, dan berbisik, "Mama juga sayang Malik. Mama sayang banget. Mama lihat Malik dari surga, Nak. Dan Mama pasti bangga — Malik anak yang hebat.\"

Rendra kini sudah 28 tahun. Malik 3 tahun. Hidup mereka masih sederhana. Kontrakan masih sama, bengkel las yang sama, penghasilan yang pas-pasan. Tapi rumah mereka penuh dengan tawa, coretan krayon di dinding, dan bau masakan Bu Lastri yang setiap Minggu datang membawakan lauk.

Rendra tidak lagi menangis setiap malam. Ia sudah belajar menerima kepergian Lina. Bukan berarti ia melupakan. Tapi ia belajar bahwa cinta tidak berakhir dengan kematian. Cinta berubah bentuk. Cinta Lina kini hidup dalam diri Malik — dalam setiap tawa, setiap langkah pertama, setiap kata "Ayah" yang diucapkan dengan manja.

Rendra masih menyimpan satu kebiasaan. Setiap malam, sebelum tidur, ia duduk di samping Malik yang sudah terlelap. Ia membacakan doa, mengecup keningnya, dan berbisik seperti biasa, "Selamat malam, Malik. Ayah sayang kamu. Mama juga sayang kamu. Selalu.\"

Dan di luar jendela, angin berhembus pelan, seperti jawaban dari seorang ibu yang sedang tersenyum di surga — bangga pada dua lelaki yang terus berjuang di dunia, tanpa dirinya.

Kadang, menjadi orang tua tidak perlu sempurna. Cukup hadir, cukup berjuang, dan cukup tidak pernah menyerah. Rendra adalah bukti bahwa seorang ayak muda yang kehilangan segalanya, bisa menjadi segalanya untuk anaknya. Karena cinta sejati tidak pernah berhenti — ia hanya menunggu untuk lahir kembali dalam bentuk yang berbeda.

🌾 Tamat 🌾

We use cookies to improve your experience. By continuing to visit this site you agree to our use of cookies.

× Full Preview