Dimas (22 tahun) duduk di bangku terminal bus yang sudah retak, memandangi orang-orang yang lalu lalang dengan tas dan koper mereka. Sudah delapan bulan sejak ia menyandang gelar sarjana. Delapan bulan sejak ia terakhir kali merasa berguna. Ijazah Manajemen Bisnis dari universitas negeri ternama tersimpan rapi di dalam map plastik, menemani lamarannya yang telah dikirim ke 47 perusahaan. Semua ditolak. Atau tidak dijawab sama sekali.
Setiap pagi, ia pamit pada ibunya dengan berpura-pura akan pergi melamar kerja. Tapi ia tidak pernah melamar. Ia hanya duduk di terminal Terpadu, dari jam delapan pagi sampai jam lima sore, menonton bus datang dan pergi. Lebih murah daripada nongkrong di kafe. Dan tidak ada yang bertanya kenapa ia di sana.
Di terminal ini, ia tidak dikenal siapa pun. Tidak ada yang tahu bahwa ia adalah seorang sarjana yang menganggur. Tidak ada yang tahu bahwa ia malu pulang ke rumah dan melihat wajah ibunya yang penuh harap, lalu harus berkata, "Belum, Bu. Belum ada panggilan."
Di sudut terminal yang sama, setiap hari sejak 40 tahun lalu, duduk seorang lelaki tua di atas kursi kayu lapuk. Namanya Pak Broto. Usianya 70 tahun. Tubuhnya kurus, punggungnya sedikit membungkuk, dan rambutnya putih semua. Di depannya, sebuah tumpukan koran — Koran Merdeka, Pos Kota, dan Jawa Pos — tersusun rapi di atas meja kayu berukuran setengah meter persegi. Ia adalah penjual koran paling setia yang pernah dikenal terminal ini.
Pak Broto sudah menjual koran sejak tahun 1985. Ia melihat terminal ini berubah dari bangunan kumuh menjadi megah. Ia melihat bus-bus tua digantikan bus baru. Ia melihat generasi berganti. Tapi ia tetap di sini, di kursi yang sama, dengan tumpukan koran yang sama.
Keistimewaan Pak Broto: ia hafal harga semua koran di luar kepala. Ia tahu posisi setiap lembar tanpa perlu melihat. Pelanggannya — para sopir, pedagang, dan penumpang setia — tidak perlu menyebutkan harga. Mereka tinggal meletakkan uang, dan Pak Broto akan memberikan koran yang benar serta kembalian yang pas, tanpa pernah salah.
Pertemuan mereka terjadi secara tidak sengaja. Dimas — yang sedang bosan duduk di bangku terminal — berjalan mendekati lapak koran Pak Broto. Bukan karena ia ingin membaca. Tapi karena ia ingin melakukan sesuatu, apa pun, agar tidak terlihat seperti pengangguran yang melamun.
"Pa, Koran Merdeka satu," kata Dimas, meletakkan uang lima ribu rupiah.
Pak Broto tersenyum. Senyumnya hangat, dengan gigi yang tinggal setengah. "Nih, Nak. Kembaliannya seribu. Kopi dulu, ya, sebelum baca."
Dimas mengangguk dan mengambil koran itu. Ia duduk di bangku dekat lapak Pak Broto dan membuka halaman depan. Tapi matanya tidak benar-benar membaca. Pikirannya melayang ke mana-mana.
Keesokan harinya, Dimas datang lagi. Dan lagi. Dan lagi. Setiap pagi, ia membeli satu koran dari Pak Broto, lalu duduk di bangku yang sama, berpura-pura membaca. Setelah beberapa hari, Pak Broto mulai menyapanya lebih lama.
"Nak, kok tiap hari baca koran di sini? Kerja di mana?"
Dimas terdiam. Ia tidak punya jawaban. "Saya... masih nyari kerja, Pak."
Pak Broto mengangguk pelan. Tidak ada ejekan. Tidak ada belas kasihan. Hanya anggukan yang penuh pengertian. "Sabarlah, Nak. Rezeki tidak kemana. Yang penting kamu sudah berusaha."
Suatu sore, sebuah kejadian kecil mengubah segalanya. Seorang pembeli datang dan bertanya, "Pak, berita utama hari ini apa?"
Pak Broto tersenyum, mengambil koran paling atas, dan menyerahkannya. "Ini, Mas. Bagus, ini tentang harga sembako yang turun."
Pembeli itu pergi. Tapi Dimas melihat sesuatu yang aneh. Pak Broto mengambil koran yang salah. Ia memberikan Pos Kota, bukan Koran Merdeka yang diminta. Dan saat seorang ibu bertanya tentang harga, Pak Broto menjawab dengan benar, tapi tangannya gemetar saat mengambil uang kembalian.
Dimas mulai memperhatikan lebih saksama. Selama seminggu, ia mengamati Pak Broto dari kejauhan. Dan ia menemukan sesuatu yang membuat jantungnya berdegub kencang.
Pak Broto tidak bisa membaca.
Ia menghafal posisi koran berdasarkan warna sampul. Ia menghafal harga berdasarkan uang yang biasa diberikan pelanggan. Ia menghafal berita utama dari apa yang didengarnya dari radio atau dari obrolan pelanggan. Tapi ia tidak bisa membaca satu kata pun dari koran yang ia jual selama 40 tahun.
Dimas duduk di samping Pak Broto keesokan harinya. Bukan sebagai pembeli, tapi sebagai teman.
"Pak, saya mau tanya sesuatu. Bapak... Bapak bisa baca?"
Pak Broto membeku. Tangannya berhenti merapikan koran. Ia menunduk lama. Lalu perlahan, ia menggeleng. "Tidak, Nak. Bapak tidak bisa baca. Bapak tidak pernah sekolah. Waktu kecil, Bapak harus membantu orang tua di sawah. Tidak ada waktu untuk belajar."
Suaranya bergetar. Untuk pertama kalinya dalam 40 tahun, ia mengakui rahasia yang ia simpan sendirian.
"Tapi Bapak jualan koran selama 40 tahun?" tanya Dimas, hampir tidak percaya.
"Bapak hafal, Nak. Warna sampul, harga, posisi — Bapak hafal semua. Bapak juga dengar berita dari radio, lalu Bapak omongin ke pelanggan seolah Bapak bacanya. Dosa besar, ya. Tapi Bapak harus cari nafkah. Bapak punya anak yang harus sekolah."
Dimas tidak bisa berkata-kata. Selama 40 tahun, lelaki ini menjual sesuatu yang ia sendiri tidak bisa menikmatinya. Ia menjual kata-kata yang tidak bisa ia baca, berita yang tidak bisa ia pahami, cerita yang tidak bisa ia ceritakan pada siapa pun.
"Pak, mulai besok, saya bacakan koran buat Bapak," kata Dimas tiba-tiba. "Setiap hari. Satu jam. Saya bacakan semuanya — berita utama, olahraga, cerita rakyat, apa pun yang Bapak mau."
Pak Broto menatap Dimas. Matanya berkaca-kaca. "Be... beneran, Nak? Bapak tidak bisa bayar kamu."
"Tidak usah bayar, Pak. Saya yang butuh ini. Saya butuh merasa berguna lagi."
Sejak hari itu, setiap pukul sepuluh pagi, ketika terminal mulai sepi, Dimas duduk di samping Pak Broto. Ia membuka koran dan mulai membaca. Awalnya hanya berita utama. Lalu berita daerah. Lalu pojok. Lalu cerita bersambung. Pak Broto mendengarkan dengan mata terpejam, seperti anak kecil yang sedang dibacakan dongeng sebelum tidur.
"Nak, yang ini bacanya pelan-pelan. Bapak mau nikmati," kata Pak Broto suatu hari, saat Dimas membacakan artikel tentang seorang petani yang berhasil panen raya.
Dimas tersenyum. Ia memperlambat bacaannya. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa membaca bukan hanya tentang melafalkan kata. Ia tentang berbagi. Tentang menghidupkan kata-kata agar orang lain bisa merasakannya.
Pak Broto mulai belajar. Setiap selesai dibacakan, ia akan menunjuk kata-kata yang sama berulang kali, mencoba mengingat bentuknya. Dimas mengajarinya dengan sabar — sama seperti ia dulu diajar oleh ibunya saat kelas 1 SD. "Ini, Pak. Huruf 'B'. Bentuknya seperti rumah yang pintunya di sebelah kanan. Coba lihat, di sini ada 'B' lagi. Ini 'Bapak'."
Dalam tiga bulan, Pak Broto bisa membaca suku kata. Dalam enam bulan, ia bisa membaca kalimat pendek. Pada hari ulang tahunnya yang ke-71, ia membaca sendiri judul utama koran Merdeka untuk pertama kalinya. Suaranya terbata-bata, salah beberapa kata, tapi ia berhasil.
"GUBERNUR... RESMI... BUKA... JA... JALAN... BARU," bacanya perlahan, lalu ia menatap Dimas dengan mata berbinar. "Nak... Bapak bisa baca! BAPAK BISA BACA!"
Dimas memeluk Pak Broto. Keduanya menangis di lapak koran terminal, di antara tumpukan koran yang belum terjual. Para pelanggan setia yang melihat kejadian itu ikut menangis haru. Mpok Inem, penjual gorengan di sebelah lapak, mengusap air matanya dengan celemek. "Pak Broto... 40 tahun, baru sekarang Bapak tahu isi koran yang Bapak jual," katanya terisak.
Bulan-bulan berikutnya, Dimas semakin rajin datang. Ia tidak hanya membacakan koran, tapi juga buku-buku yang ia pinjam dari perpustakaan keliling. Novel-novel tipis, buku sejarah, dan cerita rakyat — semua ia bacakan untuk Pak Broto. Pak Broto menjadi pendengar yang paling setia. Kadang ia tertawa, kadang ia menangis, kadang ia berkomentar dengan kebijaksanaan yang membuat Dimas tercengang.
"Nak, dunia itu seperti koran. Ada berita baik, ada berita buruk. Tapi semuanya penting. Yang tidak penting adalah berhenti membaca," kata Pak Broto suatu hari.
Kata-kata itu menggema di kepala Dimas. Ia ingat bahwa selama delapan bulan, ia telah berhenti "membaca" hidupnya sendiri. Ia berhenti berusaha, berhenti berharap, berhenti percaya bahwa ia bisa menjadi sesuatu. Tapi lelaki tua di depannya — yang baru bisa membaca di usia 71 tahun — tidak pernah berhenti. Ia menjual koran selama 40 tahun tanpa bisa membaca isinya, tapi ia tidak pernah menyerah pada hidup.
Suatu pagi, Dimas membuka koran dan membaca sebuah iklan: "Lowongan Reporter — Harian Merdeka." Syaratnya: sarjana, bisa menulis, dan memiliki ketertarikan pada dunia jurnalistik. Dimas membaca iklan itu berulang kali. Tangannya gemetar.
"Nak, baca apa? Kok muka kamu berubah?" tanya Pak Broto.
Dimas menunjukkan iklan itu. Pak Broto membacanya perlahan — ia kini sudah bisa membaca dengan cukup lancar. Setelah selesai, ia menatap Dimas dengan mata berbinar. "Nak, ini jawabannya. Daftar."
"Tapi, Pak... saya sudah gagal 47 kali."
Pak Broto memegang bahu Dimas. Tangannya keriput, tapi genggamannya kuat. "Dengar, Nak. Dulu Bapak jualan koran 40 tahun tanpa bisa baca. Setiap hari Bapak berpikir: 'Gila, kapan orang ini tahu?' Tapi Bapak terus bertahan. Karena Bapak tahu — suatu hari, pasti akan ada yang berubah. Dan hari itu datang. Hari itu adalah kamu, Nak. Sekarang giliran kamu yang percaya bahwa suatu hari akan berubah. Daftar."
Dimas mendaftar. Ia lolos seleksi administrasi, lalu tes menulis, lalu wawancara. Dari 200 pelamar, ia masuk 10 besar. Lalu 5 besar. Lalu — pada minggu ketiga — sebuah amplop putih datang. Ia membukanya dengan tangan gemetar di lapak Pak Broto.
"Selamat, Saudara Dimas Pratama, diterima sebagai Reporter Muda Harian Merdeka. Mulai bekerja Senin, 1 Maret."
Dimas menjatuhkan diri di kursi kayu Pak Broto. Ia tidak bisa berkata-kata. Pak Broto meraih surat itu, membacanya dengan suara lantang — perlahan, terbata, tapi penuh kebanggaan. "SELAMAT... SAU... SAUDARA... DIMAS... PRA... PRATAMA... DITERIMA... SEBAGAI... REPORTER... MUDA... HARI... HARIAN... MERDEKA!"
Pak Broto selesai membaca. Ia meletakkan surat itu di atas meja kayu lapuknya. Lalu ia memeluk Dimas erat-erat. Bukan pelukan basa-basi, tapi pelukan yang penuh kebanggaan. Seperti seorang ayah yang melihat anaknya berhasil.
"Bapak bangga sama kamu, Nak. Bapak tahu kamu bisa."
Hari pertama kerja, Dimas bangun pukul setengah lima pagi. Ia memakai kemeja putih dan celana hitam — pakaian terbaik yang ia miliki. Sebelum berangkat ke kantor, ia mampir ke terminal. Pak Broto sudah duduk di kursinya, seperti biasa, dengan tumpukan koran di depannya.
"Selamat pagi, Pak. Koran Merdeka satu, ya," kata Dimas, meletakkan uang di atas meja.
Pak Broto tersenyum. Tapi kali ini, ia tidak mengambil koran untuk Dimas. Ia mengambil satu lembar koran dari tumpukan paling bawah — koran yang ia simpan khusus. "Ini, Nak. Untuk kamu. Edisi hari ini. Ada namamu di halaman 3."
Dimas membuka koran itu. Halaman 3. Kolom reporter muda. Namanya tercetak di bawah artikel pendek: "Oleh: Dimas Pratama".
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dimas melihat namanya di koran. Ia menatapnya lama. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Pak Broto berdiri — untuk pertama kalinya ia berdiri dari kursi lamanya — dan merentangkan tangannya.
"Selamat, Nak. Kamu sudah jadi penulis. Sekarang, giliran kamu yang menulis cerita untuk orang-orang yang tidak bisa membaca. Seperti Bapak dulu."
Dimas memeluk Pak Broto. Di terminal yang mulai ramai oleh penumpang pagi, dua orang lelaki — yang satu di awal karier, yang satu di ujung senja — berpelukan dengan erat. Seorang sopir angkot yang melihat kejadian itu bertanya, "Pak Broto, ini siapa? Anak Bapak?"
Pak Broto tersenyum. "Iya. Ini anak Bapak. Anak Bapak yang baru."
Sekarang, setiap hari Minggu pagi, Dimas kembali ke terminal. Bukan untuk melamar kerja, tapi untuk duduk di samping Pak Broto. Ia membawa koran edisi terbaru dan membacakan berita-berita untuk Pak Broto. Tapi kini, Pak Broto juga membaca sendiri — membaca artikel-artikel yang ditulis Dimas, perlahan tetapi penuh kebanggaan.
Kadang, saat terminal sedang sepi, mereka duduk berdua di kursi kayu lapuk itu. Pak Broto dengan segelas kopi hitam, Dimas dengan koran di tangannya. Mereka tidak banyak bicara. Tapi keduanya tersenyum. Karena mereka tahu — pertemuan di terminal ini telah mengubah hidup mereka berdua.
Seorang pemuda yang kehilangan arah, menemukan tujuannya dengan membacakan koran untuk seorang lelaki tua yang tidak bisa membaca. Seorang penjual koran yang selama 40 tahun menjual kata-kata tanpa bisa menikmatinya, akhirnya bisa membaca cerita-cerita yang ia jual. Dan di antara mereka, terjalin ikatan yang tidak membutuhkan ikatan darah — hanya dua hati yang saling membutuhkan, dan saling menemukan.
Kadang, yang kita butuhkan untuk bangkit bukanlah kesempatan besar. Tapi seseorang yang percaya pada kita — dan sebuah koran yang dibacakan dengan suara keras di terminal yang ramai.
🌾 Tamat 🌾
",<|DSML|parameter name="thumb_source" string="true">AI Generated