Anjing Setia di Atas Bukit

Image source : AI Generated

Sejak hari pertama pindah ke desa kecil di lereng Gunung Sindoro, Bona (12 tahun) selalu melihat seekor anjing hitam besar duduk sendirian di atas bukit dekat pemakaman desa.

Dari jendela kamar kosnya yang sempit, Bona bisa melihat bukit itu jelas. Setiap sore, saat matahari mulai condong ke barat, anjing itu akan muncul. Ia duduk di samping sebuah makam, tidak bergerak, hanya memandangi langit yang perlahan berubah jingga. Kadang ia tidur di sana. Kadang ia hanya diam, seperti patung yang setia menjaga.

Bona adalah anak baru di desa ini. Ibunya — Bu Rina (35 tahun) — baru saja dipindahtugaskan sebagai guru Matematika di SMP desa. Mereka meninggalkan Semarang setelah orang tua Bona bercerai setahun lalu. Bona memilih ikut ibu, meskipun ia tahu hidup di desa akan sangat berbeda. Tidak ada mal, tidak ada bioskop, tidak ada teman-teman yang bisa diajak bermain game online. Hanya sawah, gunung, dan seekor anjing hitam di atas bukit.

Minggu pertama di desa terasa berat. Bona belum punya teman. Murid-murid di SMP desa ramah, tapi Bona terlalu pemalu untuk memulai percakapan. Setiap pulang sekolah, ia langsung masuk ke kamar, membuka jendela, dan memandangi bukit itu. Anjing hitam itu selalu ada. Setia pada tempatnya.

"Bu, kenapa anjing itu selalu di makam?" tanya Bona suatu malam saat makan malam — nasi, tahu goreng, dan sambal terasi buatan Ibu.

Bu Rina menghela napas. "Ibu juga tidak tahu, Nak. Besok tanya saja sama tetangga."

Tapi Bona tidak perlu menunggu besok. Malam itu juga, ia memberanikan diri keluar rumah. Tanpa sepengetahuan ibunya, ia berjalan ke bukit di bawah sinar bulan purnama yang terang. Ia membawa sepotong roti sisa makan malam — untuk anjing itu.

Jalan setapak menuju bukit gelap dan licin. Bona hampir jatuh beberapa kali. Tapi rasa penasarannya lebih kuat dari rasa takutnya. Ketika ia sampai di puncak bukit, anjing hitam itu sudah melihatnya. Anjing itu tidak menggonggong. Ia hanya menatap Bona dengan mata yang — entah kenapa — terlihat sangat sedih.

"Hei... aku Bona," sapa Bona pelan, sambil mengulurkan roti di tangannya. "Kamu pasti lapar, ya."

Anjing itu tidak bergerak. Ia terus menatap Bona dengan waspada. Tapi ketika Bona meletakkan roti di tanah dan mundur beberapa langkah, anjing itu perlahan mendekati roti, menciumnya, lalu memakannya dengan lahap.

Sejak malam itu, Bona diam-diam pergi ke bukit setiap malam. Membawakan makanan — roti, nasi, kadang tulang ayam sisa makan malam. Perlahan, anjing itu mulai percaya padanya. Ia tidak lagi menjaga jarak. Ia membiarkan Bona duduk di sampingnya, mengelus bulunya yang kasar dan kotor.

"Kamu pasti kangen sama majikanmu, ya," bisik Bona suatu malam, sambil membelai kepala anjing itu. Anjing itu mendengkur pelan, seperti menjawab.


"Namanya Si Hitam," kata Mbah Karto (65 tahun), tetangga Bona yang baik hati. Beliau adalah pensiunan petani yang tahu segala hal tentang desa ini. "Dulu milik Pak Wiryo — seorang petani tua yang tinggal sendirian di ujung desa. Mereka berdua tidak terpisahkan. Ke mana pun Pak Wiryo pergi, Si Hitam selalu mengikutinya. Ke sawah, ke pasar, ke warung kopi."

Mbah Karto menyesap kopi hitamnya. Matanya menerawang jauh. "Dua tahun lalu, Pak Wiryo meninggal. Usia, faktor alam. Beliau pergi dengan tenang, di rumahnya, ditemani Si Hitam yang setia menjilati tangannya sampai napas terakhir."

"Apa yang terjadi pada Si Hitam setelah itu?" tanya Bona.

"Mbah pikir ia akan pergi, mencari majikan baru. Tapi tidak. Sejak pemakaman Pak Wiryo, Si Hitam tidak pernah meninggalkan makam itu. Ia tidur di sana. Makan di sana. Setiap hari, apa pun cuacanya — panas, hujan, angin kencang — ia tetap di sana. Beberapa warga sudah mencoba membawanya pulang. Tapi setiap malam, ia akan kembali ke makam itu. Ia lebih memilih tidur di tanah keras di samping batu nisan daripada di kandang hangat."

Bona menunduk. Matanya panas. Ia membayangkan Si Hitam, sendirian di atas bukit, tidur di samping satu-satunya manusia yang pernah mencintainya. Setiap malam, saat hujan deras mengguyur, Si Hitam tetap di sana. Saat angin gunung berhembus kencang, ia tetap di sana. Kesetiaan yang tidak bisa dijelaskan oleh logika manusia.


Sejak hari itu, Bona mengubah rutinitasnya. Setiap pulang sekolah, ia tidak langsung ke kamar. Ia pergi ke warung Bu Tari, membeli nasi bungkus seharga lima ribu rupiah dari uang jajannya. Lalu ia berjalan ke atas bukit — bukan untuk membuang makanan, tapi untuk makan bersama Si Hitam.

"Makan, Hitam. Ini nasi, ini tahu goreng. Yang ini buat aku," kata Bona sambil membagi nasi bungkus menjadi dua bagian. Si Hitam duduk di sampingnya, menunggu dengan sabar sampai Bona selesai membagi, baru ia mulai makan.

Bona tidak pernah merasa sendirian lagi. Di atas bukit itu, ditemani angin sore dan seekor anjing setia, ia menemukan teman yang tidak pernah mengejek, tidak pernah menghakimi, dan tidak pernah pergi. Si Hitam mungkin tidak bisa bicara. Tapi matanya bicara. Setiap kali Bona bercerita tentang sekolah, tentang ibunya, tentang rasa sakit karena orang tuanya bercerai — Si Hitam akan menatapnya dengan mata penuh pengertian, lalu menjilati tangannya, seperti berkata, "Aku di sini. Kamu tidak sendiri."

Bu Rina mulai curiga dengan kebiasaan baru anaknya. Suatu sore, ia diam-diam mengikuti Bona ke bukit. Ia melihat anaknya duduk di samping seekor anjing hitam besar, berbicara dengan lembut, dan tertawa saat si anjing menjilati wajahnya. Bu Rina menangis — bukan karena sedih, tapi karena lega. Anaknya yang pendiam dan pemurung, akhirnya tersenyum.

Malamnya, Bu Rina berkata pada Bona, "Nak, Ibu senang kamu punya teman. Tapi Si Hitam tidak bisa terus-terusan di bukit. Musim hujan akan segera tiba. Ia bisa sakit."

"Aku tahu, Bu. Tapi ia tidak mau pergi dari makam Pak Wiryo," jawab Bona sedih.

"Kalau begitu, kita bawa makam itu ke dalam hati kita. Dan kita bawa Si Hitam pulang."


Keesokan harinya, Bona dan ibunya pergi ke makam Pak Wiryo. Bona berlutut di samping nisan sederhana itu, menangis, dan berbisik, "Pak Wiryo... Bona pinjam Si Hitam, ya. Bona janji akan menjaganya sebaik Bapak menjaganya dulu. Bona akan memberinya makan, memberinya tempat tidur yang hangat, dan tidak akan pernah meninggalkannya. Bona janji."

Si Hitam yang duduk di samping Bona, tiba-tiba menjilati air mata Bona. Lalu ia berdiri, berjalan mengelilingi makam Pak Wiryo tiga kali, dan kembali ke sisi Bona. Ia menjilati tangan Bona, lalu menatap makam itu untuk terakhir kalinya, sebelum berjalan turun dari bukit bersama Bona.

Mbah Karto yang menyaksikan adegan itu dari kejauhan, tersenyum. "Pak Wiryo... tenanglah. Anak ini akan menjaga Si Hitam untuk Bapak."

Sejak malam itu, Si Hitam tinggal di rumah Bona. Ia tidur di teras depan, di atas tikar bekas yang disiapkan Bu Rina. Setiap pagi, ia mengantar Bona ke gerbang sekolah. Setiap sore, ia menjemput Bona di pinggir jalan. Dan setiap malam, sebelum tidur, Bona dan Si Hitam duduk di teras, memandangi bukit di kejauhan.

Tapi seminggu sekali, setiap hari Minggu pagi, Bona dan Si Hitam berjalan ke atas bukit. Mereka duduk di samping makam Pak Wiryo, membawa nasi bungkus, dan makan bersama. Seperti biasa. Karena Bona tahu — kesetiaan Si Hitam pada majikannya tidak akan pernah pudar. Dan Bona tidak akan pernah memisahkan mereka. Ia hanya ingin menjadi bagian dari kesetiaan itu.


Bona kini duduk di kelas 2 SMP. Ia sudah punya banyak teman. Tapi sahabat terbaiknya tetaplah Si Hitam. Setiap pulang sekolah, mereka berkumpul di teras. Bona mengerjakan PR, Si Hitam tidur di kakinya. Kadang Bona membaca buku dengan suara keras, dan Si Hitam mendengarkan dengan setia, seolah mengerti setiap kata.

Suatu sore, Mbah Karto datang dengan sebuah bingkisan. Sebuah kalung anyaman bambu untuk Si Hitam. "Ini buat Si Hitam, dari warga desa. Kami semua kagum pada kesetiaannya. Dan kami berterima kasih padamu, Bona — karena kamu telah mengajarkan kami arti cinta tanpa syarat."

Bona memeluk Si Hitam. Anjing itu menjilati pipinya, seperti biasa. Di atas bukit, angin berhembus pelan, membawa bisikan dari Pak Wiryo yang tersenyum dari alam yang berbeda — bangga pada anjing setianya yang akhirnya menemukan keluarga baru.

Kadang, yang kita butuhkan untuk sembuh dari luka bukanlah terapi mahal atau nasihat panjang. Tapi seekor anjing setia yang duduk di samping kita, yang tidak pernah bertanya apa-apa, dan yang selalu ada — apa pun yang terjadi. Karena cinta yang paling tulus sering datang dari makhluk yang tidak bisa bicara. Tapi hatinya — hatinya bicara lebih jelas dari seribu kata.

🌾 Tamat 🌾

We use cookies to improve your experience. By continuing to visit this site you agree to our use of cookies.

× Full Preview