Hujan turun deras di Jakarta. Siska (32 tahun) berlari memasuki halte bis tua di kawasan Pasar Minggu, menggigil kedinginan. Jas hujan yang ia kenakan tidak cukup untuk melindungi tubuhnya dari derasnya air yang mengguyur. Ia mengutuk dirinya sendiri — kenapa ia tidak membawa payung? Kenapa ia tidak pulang lebih cepat? Kenapa hidupnya akhir-akhir ini terasa begitu kacau?
Siska adalah seorang manajer di sebuah perusahaan konsultan multinasional. Gajinya besar, tapi ia tidak punya waktu untuk menikmatinya. Setiap hari ia begadang, setiap akhir pekan ia lembur, dan setiap malam ia tidur dengan perasaan bahwa ia kehilangan sesuatu — tapi ia tidak tahu apa.
Pacarnya baru saja putus minggu lalu. “Kamu sibuk terus, Sis. Aku capek,” kata Dito sebelum pergi. Siska tidak punya tenaga untuk menangis. Ia hanya diam, lalu kembali bekerja. Karena bekerja adalah satu-satunya hal yang ia kuasai. Satu-satunya hal yang membuatnya merasa berharga.
Di halte bis yang hampir kosong, ia duduk di bangku kayu yang basah. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka pesan dari ibunya yang sudah seminggu tidak ia balas. “Nak, Ibu kangen. Kok enggak telepon-telepon?” Siska membaca pesan itu, lalu menyimpan ponselnya tanpa membalas. Rasa bersalah mencengkeram dadanya. Tapi ia terlalu lelah untuk menghadapinya.
—
Seorang perempuan tua duduk di ujung bangku yang sama. Siska tidak menyadari kapan ia datang. Mungkin dari tadi. Mungkin baru saja. Perempuan itu berusia sekitar 70 tahun, dengan rambut putih yang disanggul rapi meskipun basah oleh hujan. Ia memakai kebaya lusuh dan selendang batik yang sudah pudar. Di pangkuannya, sebuah tas anyaman rotan kecil — tas yang sudah usang, tali pengikatnya diikat dengan karet gelang.
Perempuan itu menatap ke arah jalan yang basah, matanya sayu. Tidak ada ekspresi khusus. Hanya kesabaran yang dalam. Seperti seseorang yang sudah terbiasa menunggu.
Siska awalnya tidak peduli. Ia terlalu sibuk dengan ponselnya. Tapi hujan belum reda setelah 30 menit. Dan di halte yang sepi, keheningan mulai terasa canggung. Siska melirik perempuan tua itu. Ia melihat tangannya yang berkeriput — tangan yang pasti telah bekerja keras sepanjang hidup. Ia melihat senyum tipis yang tidak pernah lepas dari bibirnya.
“Bu, Ibu mau ke mana?” tanya Siska, memecah keheningan.
Perempuan itu menoleh. Senyumnya melebar. “Ibu menunggu anak Ibu, Nak. Namanya Dani. Ia janji pulang hari ini. Sudah 20 tahun ia merantau di Jepang. Baru kali ini ia pulang.”
Siska tersenyum getir. “Pasti Ibu senang sekali, ya.”
“Iya, Nak. Senang. Tapi juga deg-degan. 20 tahun lama, ya. Ibu khawatir ia tidak mengenali Ibu lagi. Ibu sudah tua. Rambut Ibu sudah putih. Wajah Ibu sudah keriput.”
Perempuan itu tertawa kecil. Tawanya hangat, seperti tawa seorang nenek yang sedang bercerita pada cucunya. “Tapi kata Dani di telepon, ia akan turun di halte ini jam setengah tiga. Ini sudah jam setengah lima. Mungkin macet, ya. Atau mungkin pesawatnya delay.”
“Pasti, Bu. Mungkin macet,” kata Siska, mencoba menghibur.
—
Hujan mulai reda. Siska melihat jam. Pukul setengah lima. Ia harus segera pulang. Ada rapat penting besok pagi. Tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa pergi. Mungkin tatapan sayu perempuan itu. Mungkin kehangatan di balik senyumnya. Mungkin — Siska tidak tahu — mungkin ia merindukan sesuatu yang tidak ia sadari selama ini.
Pukul setengah enam, bus yang ditunggu belum datang. Perempuan itu mulai gelisah. Tangannya meremas tas rotan. Matanya mulai berkaca-kaca. “Barangkali Dani lupa, Nak. Barangkali ia sibuk. Atau barangkali... ia tidak jadi pulang.”
Suaranya bergetar. Siska merasakan ada yang mengganjal di hatinya. “Bu, apa Ibu punya nomor Dani? Coba Ibu telepon.”
Perempuan itu menggeleng. “Dani yang telepon Ibu. Ibu tidak punya ponsel. Tidak bisa. Ibu buta huruf, Nak. Ibu cuma bisa menunggu.”
Kalimat itu menusuk jantung Siska. Seorang ibu yang buta huruf, menunggu di halte bis selama 2 jam, untuk anaknya yang mungkin tidak akan datang. Setiap bus yang lewat, ia berharap. Setiap orang yang turun, ia berharap. Dan setiap kali harapannya pupus, ia tetap tersenyum.
Siska memegang tangan perempuan itu. Tangannya kasar, penuh kapalan. Tapi hangat. “Bu, saya temani Ibu sampai Dani datang. Saya tidak pergi.”
—
Pukul setengah tujuh malam. Hujan sudah benar-benar reda. Lampu jalan mulai menyala. Dan di halte bis yang nyaris sepi, duduk dua orang — yang satu sibuk dengan ponselnya, yang satu sibuk berharap.
Sebuah taksi berhenti di depan halte. Seorang pria berusia 40 tahun turun. Ia memakai jas hitam dan dasi. Di tangannya, sebuah koper besar. Matanya mencari-cari, lalu tertumbuk pada perempuan tua di bangku halte. Ia tersenyum. “Bu... Ibu Marni? Ibu menunggu saya?”
Perempuan itu — Marni — menatap pria itu. Matanya berkedip. Lalu ia tersenyum — senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. “Dani? Kamu Dani?”
Pria itu mengangguk. Tapi lalu ia menggeleng. “Maaf, Bu. Saya bukan Dani. Saya... saya hanya seseorang yang kebetulan lewat. Tapi saya melihat Ibu dari dalam taksi. Saya melihat Ibu menunggu. Dan saya... saya teringat ibu saya di kampung. Saya ingin berhenti dan bilang: Ibu, jangan menunggu Dani lagi. Saya Dani-nya orang lain. Tapi saya bisa menjadi Dani untuk Ibu malam ini.”
Marni menatap pria itu. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak mengerti sepenuhnya. Tapi ia merasakan kehangatan. “Kamu baik, Nak. Sangat baik. Ibu... Ibu senang bertemu denganmu.”
—
Siska menyaksikan adegan itu dengan mulut ternganga. Pria itu — yang tidak dikenal — menawarkan diri untuk mengantar Marni pulang. Marni menolak, tapi pria itu bersikeras. “Ibu, malam sudah gelap. Saya antar Ibu. Saya janji tidak akan mencelakai Ibu. Saya hanya... ingin melakukan sesuatu yang baik malam ini.”
Marni menatap Siska. Siska mengangguk. “Ibu, percaya saja sama dia. Saya ikut mengantar, kalau Ibu tidak nyaman.”
Marni akhirnya setuju. Pria itu — namanya Adi, seorang pengusaha kecil yang kebetulan lewat — mengantar Marni pulang dengan taksi. Siska ikut. Di dalam taksi, Marni bercerita tentang Dani. Tentang bagaimana Dani pergi 20 tahun lalu setelah lulus SMA, berjanji akan sukses dan kembali. Dani bekerja di pabrik elektronik di Osaka. Ia menelepon setiap bulan, selalu bilang “Tahun depan pulang, Bu.” Tapi tahun depan tidak pernah tiba.
“Ibu tidak marah?” tanya Siska.
Marni menggeleng. “Ibu hanya rindu. Tapi Ibu tidak marah. Dani pasti punya alasan. Yang penting, ia masih hidup. Ia masih menelepon. Itu sudah cukup.”
—
Sesampainya di rumah Marni — sebuah kontrakan kecil di gang sempit — Adi membantu Marni turun dari taksi. Ia menyerahkan selembar uang — mungkin 500 ribu — pada Marni. “Bu, ini untuk Ibu. Beli apa yang Ibu suka. Maaf saya tidak bisa menjadi Dani untuk Ibu. Tapi saya berjanji: suatu hari nanti, saya akan pulang ke kampung dan memeluk ibu saya. Terima kasih sudah mengingatkan saya.”
Marni menangis. Ia memeluk Adi. “Terima kasih, Nak. Ibu akan mendoakanmu. Semoga kamu selalu diberkahi.”
Adi pergi. Marni dan Siska duduk di teras kontrakan. Marni kemudian bercerita tentang hidupnya — tentang suaminya yang sudah meninggal 30 tahun lalu, tentang bagaimana ia membesarkan Dani sendirian dengan berjualan nasi pecel, dan tentang satu-satunya foto Dani yang ia simpan di dalam dompet rotan yang sudah usang. “Ini, Nak. Ini foto Dani pas SMA. Wajahnya masih bersih, belum ada jenggot. Ibu selalu simpan foto ini, supaya Ibu tidak lupa wajahnya.”
Siska memegang foto itu. Seorang pemuda kurus dengan senyum lebar, berseragam putih abu-abu. Ia bisa membayangkan betapa bangganya Marni saat foto itu diambil. “Bu, Dani pasti sayang Ibu. Ia pasti akan pulang suatu hari nanti.”
Marni tersenyum. “Ibu tahu, Nak. Ibu akan terus menunggu. Karena itulah yang dilakukan seorang ibu — menunggu, apa pun yang terjadi.”
—
Malam itu, Siska pulang dengan perasaan yang berbeda. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia tidak memikirkan pekerjaan. Ia memikirkan Marni. Ia memikirkan Adi. Ia memikirkan ibunya di kampung — yang sudah 3 tahun tidak ia kunjungi.
Sesampainya di apartemen, Siska mengambil ponselnya. Ia menekan nomor ibunya. Meskipun sudah jam 11 malam, ibunya mengangkat setelah nada pertama.
“Bu... ini Siska. Maaf baru nelpon... Ibu, Siska kangen.”
Di ujung telepon, ibunya menangis. Siska ikut menangis. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa pulang — bukan ke apartemennya, tapi ke hati ibunya.
—
Setahun kemudian.
Siska kini sudah memiliki kebiasaan baru. Setiap pulang kerja, ia mampir ke kontrakan Marni. Mereka minum teh bersama, dan Siska membantu Marni membaca surat dari Dani — yang kini mulai lebih sering menulis, karena Siska membantu Marni membalasnya dengan diketik di ponsel.
Suatu sore, saat mereka sedang minum teh, sebuah mobil berhenti di depan kontrakan. Seorang pria berusia 42 tahun turun. Wajahnya persis seperti foto di dompet Marni — hanya lebih tua, lebih berisi, dengan uban di pelipis. Di tangannya, sebuah koper dan sebuah kotak kado besar.
Marni menatap pria itu. Tangannya gemetar. Cangkir teh di tangannya hampir jatuh. “Da... Dani?”
Pria itu berlari dan berlutut di depan Marni. Ia memeluk ibunya erat-erat. “Ma... maafin Dani. Maaf Dani baru pulang. Maaf Dani lama. Dani sudah janji akan pulang tahun ini, dan Dani tepati. Dani sayang Ibu, Ma. Dani sayang banget.”
Marni menangis di pelukan anaknya. Tangis seorang ibu yang telah menunggu 20 tahun. Tangis yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Siska menyaksikan dari samping. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Ia tidak mengenal Dani. Tapi ia merasa ikut menjadi bagian dari cerita ini. Ia berjalan mendekat, lalu berbisik pada Marni, “Selamat, Bu. Dani sudah pulang.”
—
Malam itu, Siska pulang dengan hati yang penuh. Ia tidak lagi menunda-nunda untuk pulang kampung. Ia sudah membeli tiket kereta untuk akhir pekan ini. Ia akan memeluk ibunya, persis seperti Dani memeluk Marni. Karena ia sudah belajar dari Marni — bahwa menunggu itu menyakitkan, tapi tidak menunggu sama sekali adalah kesalahan yang tidak bisa dimaafkan.
Di apartemennya, Siska membuka laptop. Ia mengetik sepucuk surat untuk ibunya — bukan pesan singkat, tapi surat panjang yang ditulis dengan hati. Ia menulis tentang Marni, tentang Dani, dan tentang pelajaran yang ia dapatkan di halte bis tua itu. “Bu, Siska sayang Ibu. Siska akan pulang. Dan Siska tidak akan pernah membiarkan Ibu menunggu terlalu lama lagi.”
—
Kadang, pertemuan yang paling berarti bukanlah pertemuan yang direncanakan. Ia datang di saat kita paling tidak menduga — di halte bis yang basah, di tengah hujan yang deras, di antara dua insan yang sama-sama kehilangan arah. Marni mengira ia sedang menunggu anaknya. Tapi tanpa sadar, ia sedang menunggu untuk mengingatkan Siska tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup: bukan promosi jabatan, bukan gaji besar, tapi cinta yang tidak pernah menuntut, tidak pernah marah, dan tidak pernah berhenti menunggu.
Seperti cinta seorang ibu. Yang selalu ada — bahkan ketika kita lupa untuk pulang.
🌾 Tamat 🌾