Ibuku Sang Penjual Mimpi

Namanya Siti, tapi semua orang memanggilnya Mbah Ti. Usianya sudah 63 tahun, namun setiap subuh pukul empat, ia tetap bangun lebih dulu dari ayam jantan. Di dapur kecilnya yang hanya diterangi lampu minyak, ia mulai meracik adonan gorengan. Tepung terigu, daun bawang, wortel, dan sedikit garam — bahan sederhana yang sudah menjadi teman setianya selama 25 tahun terakhir.

Dulu, saat aku masih kecil, aku sering malu pada ibuku. Ibu adalah penjual gorengan keliling. Setiap pagi, ia akan berangkat dengan keranjang besar di kepala, berjalan kaki menyusuri kampung ke kampung lain, sampai ke kecamatan tetangga yang jaraknya hampir 20 kilometer. Teman-teman sekelasku sering mengejekku, "Hei, anak penjual gorengan!" Aku hanya bisa menunduk dan menahan air mata.

Aku tidak pernah mengerti kenapa ibu tidak pernah membeli sepeda atau setidaknya gerobak. Ia selalu bilang, "Jalan kaki lebih sehat, Nak." Dan aku selalu membatin, "Ibu hanya mencari alasan karena kita miskin."

Setiap sore, ibu pulang dengan kaki bengkak. Kadang ada lepuh di telapak kakinya. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Ia akan duduk di beranda, merendam kakinya di air hangat, lalu menghitung uang receh satu per satu. Setelah itu, ia akan tersenyum dan berkata, "Besok bisa beli buku baru untuk kamu."

Aku tumbuh besar dengan rasa malu yang semakin menggunung. Saat SMA, aku bahkan sengaja pulang telat agar tidak ada yang melihat ibuku menjajakan gorengan di depan sekolah. Aku juga pernah berkata kasar padanya, "Bu, kenapa sih ibu mesti jualan di depan sekolah? Aku malu!" Ibu hanya diam, lalu keesokan harinya ia pindah berjualan ke pasar yang lebih jauh.

Tidak ada satu pun malam di mana aku melihat ibu tidur nyenyak. Kadang aku terbangun dan melihatnya masih duduk di ruang tamu, menjahit baju seragamku yang robek, atau membungkus gorengan untuk besok dengan jari-jarinya yang sudah keriput dan kapalan.

Saat aku lulus SMA dan diterima di universitas negeri ternama, ibu menangis sepanjang malam. Bukan karena bangga, tapi karena ia tidak punya biaya untuk uang pendaftaran. Tiga hari kemudian, ibu datang ke kamarku dengan wajah cerah. Ia menunjukkan sebuah amplop coklat tua yang tebal. "Ini untuk kuliah kamu, Nak," katanya pelan.

Aku terkejut. Dari mana ibu mendapatkan uang sebanyak itu? Belakangan aku tahu dari tetangga bahwa ibu telah menjual satu-satunya tanah warisan dari orang tuanya, tanah yang selama ini ia simpan untuk masa tuanya. Ibu juga meminjam uang dari rentenir dengan bunga tinggi.

Selama empat tahun kuliah, aku jarang pulang. Ibu selalu mengirim uang setiap bulan tanpa pernah telat. Aku tidak pernah tahu bagaimana ia mendapatkannya. Aku terlalu sibuk dengan dunia baruku, dengan teman-teman baru, dengan pacar, dengan segala hal yang membuatku lupa dari mana aku berasal.

Sampai suatu hari, saat semester akhir, aku pulang kampung secara mendadak. Ibu tidak lagi menjual gorengan. Ia sekarang bekerja sebagai pemulung. Setiap pagi, dengan karung besar di punggungnya yang makin membungkuk, ia memunguti botol-botol plastik dan kardus bekas di tempat pembuangan sampah. Kulitnya hitam terbakar matahari. Tangannya penuh luka dan pecah-pecah.

Aku berteriak, "IBU! Kenapa jadi pemulung? Jualan gorengan kan lebih baik?"

Ibu tersenyum dengan gigi yang tinggal beberapa, "Nak, tepung dan minyak sekarang mahal. Kalau jualan gorengan, untungnya sedikit. Ibu tidak bisa kirim uang yang cukup buat kamu. Tapi botol dan kardus, lumayan, Nak. Banyak orang buang barang bagus."

Aku jatuh berlutut di depannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menangis seperti anak kecil. Semua rasa malu, semua gengsi, semua kebodohanku selama ini terasa seperti tamparan yang menyakitkan.

Setelah aku lulus dan bekerja, hal pertama yang kulakukan adalah melarang ibu bekerja. Aku kirim uang setiap bulan. Tapi ibu tetap saja tidak mau diam. Ia mulai membuat gorengan lagi, bukan untuk dijual, tapi untuk dibagikan ke tetangga dan anak-anak yatim di kampung.

Satu tahun yang lalu, ibu jatuh sakit. Dokter bilang ada tumor di kakinya, akibat bertahun-tahun berjalan terlalu jauh. Kakinya harus diamputasi. Di ruang operasi, ibu masih sempat bercanda, "Sekarang Ibu benar-benar tidak bisa jalan jauh, Nak."

Saat ibu terbaring di rumah sakit, aku membereskan lemari lamanya. Di antara baju-baju lusuh, aku menemukan sebuah kotak sepatu yang sudah usang. Di dalamnya, ada setumpuk rapor dan ijazahku dari SD sampai kuliah. Semua tersusun rapi, dilapisi plastik agar tidak rusak.

Di bawah tumpukan itu, ada sebuah buku catatan kecil yang sudah menguning. Aku membukanya. Setiap halaman hanya berisi gambar-gambar sederhana. Lingkaran-lingkaran kecil, garis-garis, dan coretan tak berbentuk. Tidak ada satu pun kata yang bisa dibaca karena ibu buta huruf.

Tapi di halaman terakhir, aku menemukan sesuatu yang membuatku hancur. Selembar foto usang — foto wisuda SD-ku. Di bawah foto itu, ibu telah mencoret-coret dengan pensil. Coretan tak berbentuk, tapi aku bisa merasakannya: ibu mencoba menulis namaku, berulang kali, meskipun ia tidak bisa.

Di balik foto itu, ada tulisan yang dibuat oleh orang lain: "Untuk anakku satu-satunya. Maafkan Ibu yang buta huruf. Ibu tidak bisa membacakan dongeng untukmu. Tapi Ibu berjanji, setiap langkah kaki Ibu adalah doa untukmu."

Kini, setiap kali aku pulang kampung, aku duduk di samping kursi rodanya. Aku membacakan buku untuknya. Ibu selalu tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

Suatu malam, aku bertanya, "Bu, ibu mau aku bacakan apa?"

Ibu menjawab dengan suara bergetar, "Bacakan saja apa pun, Nak. Ibu hanya ingin mendengar suaramu. Ini yang selalu Ibu rindukan selama 25 tahun — bisa duduk bersama anak Ibu, dan mendengarnya bicara."

Sejak itu, aku tidak pernah lagi malu pada ibuku. Aku bangga. Ibuku bukan sekadar penjual gorengan atau pemulung. Ia adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang setiap langkahnya adalah doa, setiap keringatnya adalah cinta, dan setiap lukanya adalah pengorbanan.

Ibuku tidak bisa membaca. Tapi ia telah menuliskan kisah cinta paling indah yang pernah ada — menggunakan telapak kakinya yang luka, tangannya yang kapalan, dan hatinya yang tak pernah berhenti berdoa untukku.

We use cookies to improve your experience. By continuing to visit this site you agree to our use of cookies.

× Full Preview