Telepon yang Tidak Pernah Terangkat
Pukul setengah sepuluh malam, Rudi baru saja selesai rapat dengan klien dari Singapura. Ia meregangkan lehernya yang terasa kaku sambil berjalan menuju mobil di parkiran bawah tanah gedung perkantoran. Jakarta malam itu macet seperti biasa, dan ia sudah pasrah akan menghabiskan setidaknya satu jam di dalam mobil sebelum sampai di rumah.
Di tengah perjalanan, ponselnya bergetar. Layar menampilkan nama "Ibu."
Rudi menghela napas panjang. Ia tahu isi telepon itu. Ibunya pasti akan bertanya kapan ia pulang ke kampung. Sudah hampir delapan bulan sejak Lebaran tahun lalu. Setiap kali ibunya menelepon, pertanyaannya selalu sama.
"Ndung, kapan kowe mulih?"
Rudi menekan tombol merah. Telepon ibunya masuk ke pesan suara.
"Ma, aku lagi nyetir. Nanti kutelepon balik, ya."
Tapi ia tidak pernah menelepon balik.
Rudi adalah anak tunggal. Bapaknya meninggal dunia saat Rudi masih duduk di bangku SMA. Sejak saat itu, ibunyalah yang menjadi tulang punggung keluarga. Ibu Rudi, Mbah Sumiyati, adalah seorang penjual gudeg di pinggir jalan kampungnya di sebuah desa kecil di lereng Gunung Merapi, Jawa Tengah.
Setiap pagi pukul empat, ibunya sudah bangun. Merebus daun jati, memasak nasi, dan menggodok gudeg selama berjam-jam hingga keluar aroma manis yang khas. Rudi kecil sering terbangun karena aroma itu. Ia akan duduk di dapur kayu sambil mengantuk, menemani ibunya yang sudah sibuk sejak subuh.
"Mbah, aku bantu, ya?" tanya Rudi kecil dulu.
"Ndak usah, Le. Kamu belajar wae. Mbah pengen kamu sukses, ndak usah kaya Mbah, jualan gudeg panas-panas."
Rudi tumbuh besar dengan melihat punggung ibunya yang tak pernah lelah. Ia bersumpah dalam hati, suatu saat nanti ia akan membuat ibunya bangga. Ia akan sukses, kaya raya, dan membawa ibunya ke Jakarta. Hidup mewah, tidak perlu lagi bangun jam empat pagi untuk jualan gudeg.
Dan Rudi berhasil.
Setelah lulus dari Universitas Gadjah Mada dengan cum laude, Rudi langsung diterima di sebuah perusahaan konsultan ternama di Jakarta. Dalam waktu sepuluh tahun, ia sudah menjadi direktur. Gajinya puluhan juta per bulan. Ia membeli rumah mewah di daerah Pondok Indah, mobil Eropa, dan segala macam barang branded yang dulu hanya bisa ia lihat di majalah.
Tapi harga dari kesuksesan itu adalah waktu.
"Ma, aku minggu depan ada presentasi sama klien Jepang. Pulangnya bulan depan, ya."
Bulan depan berganti bulan depan lagi.
"Ma, aku lagi sibuk banget nih, ada audit tahunan. Nanti aku kabari."
Kabari tidak pernah datang.
Rudi memang selalu sibuk. Ada rapat, ada meeting, ada dinner client, ada perjalanan dinas ke luar negeri. Hidupnya berputar di antara angka-angka, target-target, dan deal-deal bisnis. Ia lupa bahwa di kampung halamannya, ada seorang ibu yang setiap malam memandangi foto anak satu-satunya sambil tersenyum getir.
Ibu Rudi tidak pernah marah. Ketika Rudi bilang tidak bisa pulang, ibunya hanya bilang, "Ya sudah, Le. Mbah ngerti. Jaga kesehatan, ojo lali mangan."
Tidak pernah ada nada kecewa dalam suara ibunya. Dan mungkin karena itulah Rudi merasa nyaman untuk terus menunda.
Suatu malam di bulan November, saat Rudi sedang menyiapkan presentasi untuk klien pertambangan di Kalimantan, ponselnya berdering. Lagi-lagi nama "Ibu" muncul di layar.
Rudi hampir tidak mengangkatnya, tapi sesuatu membuatnya menjawab.
"Ma, bentar ya, ini lagi sibuk—"
"Ndung..." suara ibunya terdengar berbeda. Lemah.
"Ma? Ada apa?"
"Awakku... rasane ora enak, Ndung. Mbah wis sepuh..."
Rudi mengerutkan kening. Ibunya memang sudah berusia enam puluh delapan tahun, tapi ibunya selalu terlihat sehat dan kuat. Tidak pernah sakit serius. Bahkan ketika Rudi kecil, ibunya tidak pernah pergi ke dokter. Cukup minum jamu buatan sendiri, semua penyakit sembuh.
"Ma sakit? Sudah periksa ke Puskesmas?"
"Wes, Ndung. Tapi..."
Rudi mendengar ibunya batuk-batuk. Batuk yang dalam dan berat, bukan batuk biasa.
"Dokter bilang Mbah kudu opname, Ndung."
Kalimat itu seperti menyambar jantung Rudi.
"Opname? Sakit apa? Jantung? Paru-paru?"
"Ora ngerti, Ndung. Mbah ya manut wae karo dokter."
Rudi menekan tombol speaker dan mulai mencari tiket pesawat di ponselnya. Tapi kepalanya tiba-tiba dipenuhi jadwal. Besok ada meeting dengan klien, lusa ada signing kontrak penting, tiga hari lagi ada presentasi di Balikpapan.
"Ma, sabar ya. Aku selesaikan kerjaan dulu dua hari ini. Nanti aku langsung ke sana."
"Iya, Ndung. Mbah ngenteni."
Ibunya menunggu.
Tiga hari berganti menjadi lima hari. Rudi terus menunda. Setiap kali ia berniat membeli tiket pesawat, selalu ada urusan yang lebih penting. Manajernya bilang, "Bos, klien ini waiting. Kita harus closing deal-nya minggu ini." Kliennya bilang, "Pak Rudi, kita harus dinner bareng tim. Ada beberapa poin yang perlu kita diskusikan langsung."
Hingga pada malam kelima, ponsel Rudi kembali berdering. Kali ini bukan nama ibunya yang muncul, tetapi "Pak RT — Kampung."
Rudi langsung menjawab, dadanya berdebar.
"Mas Rudi, ibu Anda dibawa ke rumah sakit umum. Kondisinya menurun drastis. Dokter bilang... sebaiknya Anda segera datang."
Rudi tidak ingat bagaimana ia sampai di bandara malam itu. Ia tidak ingat bagaimana ia bisa mendapatkan tiket pesawat jam sebelas malam. Yang ia ingat hanyalah perjalanan dari bandara ke rumah sakit di kota kabupaten, yang memakan waktu dua jam karena jalanan gelap dan hujan deras mengguyur.
Saat ia sampai di rumah sakit, ibunya sudah dipindahkan ke ICU.
Rudi berdiri di depan pintu kaca ICU, melihat tubuh ibunya yang kurus kering terbaring lemah. Ibunya dipasangi selang oksigen dan infus di kedua tangan. Wajahnya pucat, tidak seperti Mbah Sumiyati yang selalu tersenyum cerah saat bercerita di dapur dulu.
Seorang dokter keluar dan memanggil Rudi.
"Pak Rudi, ibunda Anda mengalami gagal ginjal akut yang disertai komplikasi paru-paru. Kami sudah melakukan penanganan maksimal, tapi karena faktor usia..."
"Apa maksud Bapak?" suara Rudi bergetar.
"Kami sarankan Anda mempersiapkan diri, Pak. Waktunya tidak lama lagi."
Dunia Rudi seperti runtuh di tempat.
"Ibu saya selama ini sehat, Dok! Beliau jualan gudeg setiap hari, kuat bangun jam empat pagi! Masa tiba-tiba..."
Dokter itu menatap Rudi dengan pandangan penuh pengertian.
"Pak Rudi, penyakit ini tidak datang tiba-tiba. Sudah lama sebenarnya. Hanya saja..." Dokter itu berhenti sejenak. "Beliau tidak pernah mengeluh, katanya. Tidak mau merepotkan anaknya yang sibuk di Jakarta."
Rudi merasa kepalanya seperti ditinju dari dalam.
Tidak mau merepotkan.
Ibunya menderita sakit sendirian. Berhari-hari, mungkin berbulan-bulan. Sementara ia, Rudi, anak satu-satunya yang dibanggakan ibunya, sibuk mengejar target dan closing deal.
Rudi diizinkan masuk ke ICU selama sepuluh menit. Ia duduk di samping tempat tidur ibunya, memegang tangan keriput yang dulu setiap pagi sibuk membungkus gudeg daun jati.
"Mbah... Rudi sini, Mbah..."
Ibunya membuka mata perlahan. Samar-samar, tapi senyum tipis terbit di bibirnya yang kering.
"Ndu... kowe teka..."
"Iya, Ma. Rudi minta maaf. Rudi telat."
Mbah Sumiyati menggeleng lemah.
"Ora papa, Le. Mbah ngerti. Kowe sibuk. Mbah seneng ndelok kowe sukses."
"Tapi Mbah sakit..."
"Wis, Ndung. Wong tuwi kuwi wis kewajibane ngenteni anak e. Mbah seneng... sak durunge Mbah lungo, Mbah isih iso ndelok kowe."
Air mata Rudi jatuh tanpa bisa ditahan. Tangannya menggenggam erat tangan ibunya, seolah menahan kepergian yang sudah di depan mata.
"Mbah janji siji, Ndung."
"Apa, Ma?"
"Kowe kudu nikah. Mbah pengen ndelok putu... sakdurunge Mbah lungo."
Rudi tersedu-sedu. Ibunya masih memikirkan dirinya. Bahkan di detik-detik terakhir hidupnya, yang dipikirkan ibunya bukan dirinya sendiri, bukan sakitnya, bukan sesaknya — tetapi masa depan Rudi.
"Aku janji, Ma. Rudi janji."
Mbah Sumiyati tersenyum, lalu memejamkan mata. Tangannya yang digenggam Rudi, melemah.
"Ma... jangan tinggalin Rudi, Ma..."
Tapi ibunya sudah tenang. Wajahnya damai, seperti orang yang sudah ikhlas dan siap pulang ke rumah yang abadi.
Mbah Sumiyati meninggal pukul dua pagi, di rumah sakit kabupaten, ditemani anak satu-satunya yang datang di saat-saat terakhir. Terlambat, ya, tetapi setidaknya tidak sepulangnya.
Pemakaman berlangsung sederhana. Rudi tidak punya saudara kandung. Yang hadir hanya tetangga-tetangga kampung dan beberapa kerabat jauh. Di samping makam ibu Rudi, ada makam bapaknya yang sudah lebih dulu pergi.
Setelah semua orang pulang, Rudi masih berdiri di sana. Ia memandangi nisan yang bertuliskan nama ibunya. Sumiyati. Seorang penjual gudeg yang setiap pagi bangun jam empat, yang tidak pernah mengeluh, dan yang selalu memaafkan anaknya yang lupa pulang.
"Ma, maafin Rudi. Maaf Rudi nggak pernah nelpon balik. Maaf Rudi selalu sibuk. Maaf Rudi nggak pernah pulang."
Tapi jawaban hanya angin dingin yang berhembus dari lereng Merapi.
Tiga hari setelah pemakaman, Rudi membereskan rumah ibunya. Rumah kayu sederhana di pinggir sawah, yang dulu ia tinggalkan dua puluh tahun lalu. Semuanya masih sama. Foto-foto Rudi dari SD hingga wisuda masih terpajang di dinding. Tempat tidur ibunya masih sama. Selimut yang Rudi belikan lima tahun lalu masih tersimpan rapi, masih terbungkus plastik, belum pernah dipakai.
"Bu, ini selimut kenapa nggak dipakai?" tanya Rudi pada tetangganya, Mbah Karsih.
Mbah Karsih menghela napas.
"Sumiyati bilang, selimut iku larang. Ditabung ae, ben iso dienggo kowe nek kowe mulih. Mengko tak umpetne ben ora ilang."
Rudi tersentak. Ibunya menabung selimut hadiah darinya, karena takut selimut itu rusak atau hilang. Padahal selimut itu dibelikan agar ibunya hangat di malam hari.
Di sebuah lemari kayu tua, Rudi menemukan kotak kaleng bekas biskuit. Ia membukanya. Isinya foto-foto lama, akta kelahiran, ijazah SD milik Rudi, dan... sebuah buku catatan kecil bersampul coklat.
Buku itu adalah buku harian ibunya.
Rudi membuka halaman pertama. Tulisannya tidak rapi, karena ibunya hanya lulusan SD. Tapi perlahan Rudi membaca.
"20 Januari 2018 Rudi telpon, ngomong ra bisa mulih Lebaran. Sibuk, kate. Mbah ngerti. Mbah ya mung njawab: ora papa. Tapi Mbah kangen, Le. Mbah kangen banget. Mbah nangis wengi iki."
Halaman berikutnya.
"12 Maret 2019 Rudi kirim duti Rp 5.000.000. Mbah bingung areg dienggo opo. Mbah wis sepuh, ora butuh duti akeh. Mbah pengen Rudi mulih. Ndelok Rudi mangan gudeg gawean Mbah. Nanging Mbah mesem ae, Le, ben kowe ora kuwatir."
Dan halaman-halaman selanjutnya, semuanya tentang Rudi. Doa-doa ibunya yang ditulis dengan tangan gemetar. Rasa rindu yang dipendam. Air mata yang tidak pernah terlihat.
"15 Oktober 2019 Kulo mireng Rudi diangkat dadi direktur. Kulo nangis bungah. Anak kulo sukses. Tapi kulo ora kenal karo kanca-kancane Rudi. Kulo ora tau mlebu omah gedhene Rudi. Mbah mung ndelok foto Rudi neng majalah."
Halaman terakhir, dengan tulisan yang lebih sulit terbaca karena sudah goyah:
"20 November 2024 Rungoku neng rumah sakit. Kiro-kiro Mbah wis arep lungo. Mbah mung ndonga ben Gusti maringi wektu setitik, iso ndelok Rudi sepisan maneh. Mbah arep ndelok Rudi, ngomong yen Mbah bangga karo Rudi. Sakjane Mbah wis ngerti awake iki wis ora kuat, Ndung. Mbah mung kuatir... sapa sing ngopeni Rudi nek Mbah wis ora ana?"
Rudi memeluk buku itu erat-erat. Tangisnya pecah, sekeras-kerasnya. Ia menangis seperti anak kecil yang kehilangan segalanya. Karena memang ia kehilangan segalanya.
Hari ini, lima tahun setelah kepergian ibunya, Rudi sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan berusia tiga tahun yang diberi nama Sumi, diambil dari nama ibunya. Mereka tinggal di Jakarta, tetapi setiap akhir pekan, Rudi selalu membawa istri dan anaknya ke kampung.
Ke makam ibunya.
"Ma, Rudi bawa istri dan putumu, Ma. Sumi, cucumu. Rudi tepati janji Rudi dulu."
Rudi duduk di samping makam ibunya, seperti biasa. Dan seperti biasa, ia selalu membawa satu porsi gudeg buatannya sendiri. Resep warisan ibunya yang selama bertahun-tahun ia lupakan, dan baru ia pelajari setelah ibunya tiada.
"Ibu, Rudi sudah bisa masak gudeg. Tapi rasanya... belum seenak buatan Ibu. Ndak ada yang bisa ngalahin gudeg Ibu."
Sumi, anaknya, berlari-lari kecil di antara makam sambil tertawa. Rudi tersenyum getir melihatnya. Ia berjanji dalam hati, tidak akan menjadi ayah yang seperti dulu ia perlakukan pada ibunya.
"Ibu, maafin Rudi yang dulu. Rudi yang sekarang sudah berbeda. Rudi belajar dari semua ini, Bu."
Ia memandangi langit lereng Merapi yang biru.
"Telepon Ibu... selalu Rudi angkat sekarang, Bu. Meskipun Ibu sudah tidak bisa menelepon lagi."
Angin berhembus lembut, seperti jawaban dari seorang ibu yang selalu memaafkan.
Pesan dari cerita ini:
Jangan pernah menunggu sampai semuanya terlambat. Ibumu mungkin tidak akan pernah mengeluh, tidak akan pernah marah, tidak akan pernah berkata "aku kesepian". Tapi di balik telepon yang tidak terangkat, ada hati seorang ibu yang menangis diam-diam.
Telepon ibumu sekarang. Sebelum telepon itu tidak pernah bisa terangkat lagi.
🌾 Tamat 🌾