Kaus Kaki di Dalam Koper

Image source : AI Generated

Hari pertama di Jogja, Putri duduk sendirian di kamar kosnya yang sempit. Di luar, hujan deras mengguyur kota pelajar ini. Ia baru saja selesai mendaftar ulang di kampus negeri favoritnya. Seharusnya ia merasa senang. Tapi yang ia rasakan hanya sesak.

Ini pertama kalinya ia jauh dari Ibu.

Ibu Surti — panggilannya — mengantarnya di terminal kemarin pagi. Mereka naik bus ekonomi selama 8 jam dari kota kecil di pesisir utara Jawa. Ibu membawakannya bekal: nasi bungkus, telur rebus, dan sebotol air putih. Sepanjang perjalanan, Ibu tidak banyak bicara. Ia hanya sesekali memegang tangan Putri dan tersenyum.

“Bu, Ibu di rumah jangan lupa makan.”

“Iya, Nak. Kamu jaga diri.”

“Itu saja jawaban Ibu?”

“Ibu sudah bilang semuanya semalam. Ibu hanya ingin kamu bahagia.”

Putri menghela napas. Ibu memang bukan tipe orang tua yang romantis atau melow. Ibu adalah perempuan desa yang tangguh. Sejak Bapak meninggal saat Putri kelas 2 SMP, Ibu menghidupi mereka berdua dari mesin jahit Singer tua di sudut ruang tamu.

Ibu menjahit baju tetangga, membuat taplak meja, dan menerima pesanan seragam sekolah. Kadang pesanan sepi, kadang laris. Tapi tidak pernah sekali pun Ibu mengeluh. Tidak pernah sekali pun Ibu bilang lelah.

“Ibu bisa, Nak. Yang penting kamu sekolah tinggi.”

Putri dulu ingin berkuliah di universitas ternama. Tapi biayanya mahal. Ia sempat putus asa. Ibu bilang, “Jangan khawatir. Ibu punya tabungan.” Putri percaya. Ia tidak pernah memeriksa dari mana uang itu berasal. Ia hanya menerima, bersyukur, dan melanjutkan hidup.

Tapi malam ini, di kos yang dingin, dengan hujan yang menderas di luar, Putri merasa hampa. Ia membuka kopernya untuk mengambil handuk. Di sela-sela lipatan baju, ia menemukan sesuatu.

Sebuah plastik bening diikat karet. Di dalamnya, sepasang kaus kaki. Wol tebal, warna-warni — merah marun, hijau tua, dan oranye — tidak jelas motifnya. Jahitannya tidak rapi. Ada bagian yang terlalu longgar, ada yang terlalu rapat. Ukurannya tidak sama — satu sedikit lebih besar dari yang lain.

Putri mengernyit. Kaus kaki apa ini? Ia tidak ingat pernah membelinya. Lalu ia melihat secarik kertas kecil yang diselipkan di antara lipatan kaus kaki. Tulisan tangan Ibu yang khas — tidak terlalu rapi, karena Ibu hanya lulusan SD:

“Nak, Jogja dingin. Ibu bikin ini buat kamu. Maaf jelek. Ibu baru belajar.”

Putri memegang kertas itu. Ia menatap kaus kaki itu lagi. Baru belajar? Ibu sudah menjahit selama 20 tahun. Tapi kaus kaki... Ibu tidak pernah membuat kaus kaki. Karena kaus kaki tidak pernah dipesan orang. Ibu belajar dari awal. Hanya untuk membuatkan kaus kaki hangat untuknya.


Putri tersenyum. Tapi senyumnya berubah menjadi tawa kecil. Kaus kaki itu benar-benar jelek. Warna-warnanya tabrakan. Jahitannya berantakan. Ia tidak akan pernah memakainya di kampus. Teman-temannya pasti akan menertawakannya.

Ia meletakkan kaus kaki itu di sudut lemari, berencana untuk tidak pernah menyentuhnya lagi.

Tapi malam itu dingin sekali. Angin masuk melalui celah jendela kayu. Putri menggigil di bawah selimut tipisnya. Ia menatap lemari. Ia menatap langit-langit. Ia menahan dingin selama satu jam, lalu akhirnya menyerah.

Ia mengambil kaus kaki itu dan memakainya.

Hangat. Luar biasa hangat. Wol tebal itu langsung menyelimuti kakinya seperti pelukan. Putri memejamkan mata dan untuk pertama kalinya dalam seminggu, ia tidur nyenyak.


Keesokan harinya, Putri berangkat ke kampus dengan kaus kaki itu. Ia menyembunyikannya di balik sepatu ketsnya. Sepanjang jalan, ia sadar bahwa kakinya tidak kedinginan sama sekali.

Di kelas, seorang teman duduk di sebelahnya. Namanya Winda, gadis asli Jogja yang ramah. Saat waktu istirahat, Putri melepas sepatunya tanpa sadar. Kaus kaki warna-warni jelek itu terlihat.

Winda menatapnya. “Wah, kaus kaki kamu unik banget.”

Putri tersipu malu. “Iya, ini... buatan ibu saya. Jelek ya?”

Winda menggeleng. “Enggak. Keren. Ibu kamu pasti sayang banget sama kamu, ya. Nggak semua ibu rela belajar bikin kaus kaki dari nol.”

Putri terdiam. Ia belum pernah berpikir seperti itu.

“Ibu saya juga tukang jahit,” lanjut Winda. “Dulu waktu saya kuliah, beliau bikinkan saya dompet. Jahitannya miring-miring. Tapi sampai sekarang masih saya pakai.”

Putri menunduk. Untuk pertama kalinya, ia melihat kaus kaki itu dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai benda jelek yang memalukan. Tapi sebagai bukti cinta yang tidak sempurna namun tulus.


Minggu pertama kuliah berlalu. Setiap malam, Putri memakai kaus kaki itu. Kakinya hangat, dan ia merasa seperti dipeluk Ibu dari jarak 400 kilometer.

Suatu malam, ia menelepon Ibu. Ini pertama kalinya ia menelepon sejak tiba di Jogja.

“Bu...”

“Nak Putri? Kok suaranya bindeng? Sakit?”

“Enggak, Bu. Ini cuma dingin. Tapi kaki Putri hangat. Kaus kaki buatan Ibu enak banget.”

Hening di ujung telepon. Lalu suara Ibu bergetar.

“Be... beneran? Kamu pakai?”

“Iya, Bu. Setiap malam. Putri belum pernah sekedingin ini di kos. Tapi kaus kaki Ibu... hangat banget.”

“Ibu senang, Nak. Ibu takut kamu nggak suka. Soalnya jelek.”

“Enggak, Bu. Ini bagus. Yang penting hangat.”

Putri berbohong sedikit. Tapi kebohongan manis ini membuat ibunya bahagia. Dan itu sudah cukup.

“Bu, Ibu belajar dari mana bikin kaus kaki?”

“O, Ibu belajar dari YouTube. Tiga malam sebelum kamu berangkat. Awalnya susah, jarumnya putus-putus. Tapi Ibu coba terus. Sampai jadi.”

Tiga malam. Ibu begadang tiga malam hanya untuk belajar membuat kaus kaki. Padahal Ibu sudah bekerja dari pagi sampai sore menjahit baju orang.

“Bu... makasih, ya.”

“Makasih untuk apa, Nak?”

“Untuk semuanya. Untuk kaus kaki ini. Untuk Ibu.”

Ibu menangis di ujung telepon. Putri ikut menangis.


Liburan semester pertama tiba. Putri pulang ke kampung halaman. Ia membawa oleh-oleh untuk Ibu — sebuah mesin jahit listrik baru, hasil tabungan dari beasiswa yang ia dapatkan.

Tapi ada satu hal yang lebih berharga yang ia bawa pulang: kaus kaki jelek buatan Ibu, yang tetap hangat dipakai setiap malam di Jogja.

Sesampainya di rumah, Putri memeluk Ibu erat. Ia baru sadar bahwa selama ini ia terlalu sibuk dengan ambisinya sendiri. Ia lupa bahwa di balik setiap keberhasilannya, ada tangan Ibu yang tak pernah lelah bekerja. Dan kadang, cinta tidak datang dalam bentuk yang sempurna. Ia datang dalam bentuk kaus kaki warna-warni yang jahitannya miring-miring, tapi menghangatkan kaki di malam yang dingin.

Sore itu, Putri membuka lemari Ibu. Di dalamnya, ia menemukan keranjang anyaman berisi belasan kaus kaki gagal. Beberapa bolong di tengah, beberapa jahitannya terlepas, dan beberapa ukurannya sangat kecil. Semua adalah percobaan Ibu sebelum akhirnya berhasil membuat satu pasang yang layak.

Di setiap kaus kaki gagal, Ibu menempelkan kertas kecil bertuliskan: “Percobaan ke-1”, “ke-2”, “ke-7”, “ke-12”. Total: 17 percobaan. 17 kali gagal. Hanya untuk satu pasang kaus kaki yang berhasil.

Putri duduk di lantai, memeluk keranjang itu, dan menangis.


Malam harinya, Putri mengambil jarum dan benang. Ia minta diajari Ibu menjahit. Bukan untuk membuat baju atau taplak meja. Tapi untuk membuat sepasang kaus kaki. Untuk Ibu.

Hasilnya sama jeleknya dengan buatan Ibu. Tapi saat ia memberikan kaus kaki itu pada Ibu, pelukan Ibu terasa paling hangat sedunia.

Setiap malam di kampung, Ibu memakai kaus kaki buatan Putri saat tidur. Kata Ibu, kakinya hangat, seperti ada Putri yang menjaganya dari jauh.

Dinginnya Jogja dan hangatnya kaus kaki buatan Ibu — itulah yang membuat Putri sadar bahwa cinta sejati tidak perlu diukur dari seberapa sempurna wujudnya. Cukup dari seberapa besar usaha yang diberikan, dan seberapa hangat rasanya di hati.

Karena kadang, cinta tidak datang dalam balutan sutra. Ia datang dalam balutan wol murahan, dengan jahitan miring dan warna tabrakan. Tapi ketika dingin menggigit, hanya kaus kaki jelek buatan Ibu yang bisa menghangatkan kaki sekaligus hati.

🌾 Tamat 🌾

We use cookies to improve your experience. By continuing to visit this site you agree to our use of cookies.

× Full Preview