Setiap subuh pukul setengah lima, Pak Danu (65 tahun) sudah duduk di teras rumahnya. Di hadapannya, dua gelas kopi hitam mengepul — satu untuk dirinya, satu untuk kursi kosong di sebelahnya. Beginilah hari-hari Pak Danu selama 10 tahun terakhir, sejak anak satu-satunya, Arman, pergi untuk selamanya.
Arman meninggal 10 tahun lalu. Bukan karena sakit. Bukan karena kecelakaan di jalan. Arman adalah seorang teknisi listrik yang tewas saat memperbaiki kabel tegangan tinggi di sebuah pabrik di Jakarta. Ia jatuh dari tiang setinggi 15 meter saat mencoba menyelamatkan rekannya yang hampir tersengat listrik. Arman berhasil mendorong rekannya, tapi ia sendiri tidak selamat.
Pak Danu menerima kabar itu seorang diri di teras ini. Sembari minum kopi yang baru ia buat untuk Arman — yang sedianya akan pulang akhir pekan itu.
Sejak hari itu, setiap pagi Pak Danu membuat dua gelas kopi. Satu untuk dirinya. Satu untuk Arman. Kopi tubruk hitam pekat, tanpa gula, persis seperti kesukaan Arman. Ia akan meletakkan gelas itu di kursi kosong di sebelahnya, lalu berbicara pada gelas itu seolah Arman masih ada di sana.
"Kopi masih panas, Le. Ayo diminum," katanya setiap pagi.
Ia akan duduk di samping kursi kosong itu, menyesap kopinya pelan-pelan, sambil menatap jalan setapak di depan rumah — jalan yang dulu dilalui Arman setiap hari saat berangkat kerja. Matanya sayu. Keriput di wajahnya semakin dalam. Tapi ia tidak pernah menangis. Setidaknya, tidak di depan orang lain.
—
Para tetangga sudah maklum. Mereka menganggap Pak Danu pikun. Atau mungkin stres berat karena kehilangan anak satu-satunya. Beberapa dari mereka pernah mencoba menasihati.
"Pak, sudah sepuluh tahun. Sudahi saja ritual itu. Nanti Bapak tambah sedih," kata Bu RT suatu pagi, duduk di samping Pak Danu dengan perasaan iba.
Pak Danu tersenyum. Senyum yang aneh — setengah bahagia, setengah pilu. "Bu RT, Bapak tidak sedih. Bapak hanya... merindukan. Dan rindu itu Bapak tuangkan ke dalam gelas kopi ini."
Bu RT menggeleng-geleng. Ia tidak mengerti. Tapi ia juga tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Setiap minggu, Pak Danu membeli kopi bubuk di warung Mbok Minah. Satu kilogram cukup untuk dua minggu. Mbok Minah, yang sudah berusia 70 tahun, selalu bertanya, "Kopi masih untuk dua orang, Pak?"
"Masih, Mbok. Arman masih suka kopi," jawab Pak Danu dengan nada datar.
Mbok Minah menghela napas. Tapi ia tidak pernah berkata negatif. Ia hanya melayani, membungkus kopi, dan menerima uang dengan perasaan trenyuh.
—
Namun, di balik ritual yang tampak seperti delusi orang tua ini, ada sebuah rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Rahasia yang hanya disimpan Pak Danu di lubuk hatinya yang paling dalam.
Sepuluh tahun lalu, sehari sebelum Arman meninggal, ia menelepon Pak Danu.
"Pak, hari Minggu ini aku pulang. Kangen kopi buatan Bapak."
Pak Danu tersenyum di ujung telepon. "Iya, Le. Nanti Bapak siapkan. Kopi tubruk kesukaanmu."
"Pak... Bapak janji sama aku. Bikin kopi terus setiap pagi, ya. Sampai aku pulang."
Pak Danu tertawa. "Iya, Le. Bapak janji. Nanti kalau kamu pulang, kopinya masih panas."
Itu percakapan terakhir mereka. Arman meninggal keesokan harinya. Dan Pak Danu — seorang ayah yang berjanji — terus membuat kopi setiap pagi. Karena ia berjanji. Karena ia percaya bahwa suatu hari nanti, Arman akan pulang. Mungkin bukan dalam bentuk fisik. Tapi dalam bentuk yang lain.
—
Setiap malam, Pak Danu duduk di kamar Arman. Kamar itu tidak pernah berubah. Sprei masih motif kotak-kotak biru yang dibeli Arman sebelum berangkat ke Jakarta. Buku-buku komik bekas masih berserakan di sudut. Piala SD dan SMP masih berdebu di rak. Di dinding, foto Arman saat wisuda SMA tersenyum lebar — senyum yang sama yang selalu membuat Pak Danu tersenyum balik.
Pak Danu membuka lemari Arman. Di dalamnya, masih tergantung seragam kerja PT. Arin Jaya Teknik — perusahaan tempat Arman bekerja. Seragam yang sudah 10 tahun tidak pernah tersentuh, tapi tetap bersih karena setiap minggu Pak Danu mencucinya.
"Le, Bapak sudah cuci baju kerjamu. Nanti kalau kamu pulang, udah bersih," bisiknya sambil mengelus seragam itu dengan tangan keriputnya.
—
Hingga suatu pagi di bulan November, seorang pemuda datang ke desa. Ia berhenti di depan rumah Pak Danu, menatap lelaki tua yang sedang duduk di teras dengan dua gelas kopi di hadapannya.
"Permisi, Pak. Apa ini rumah Bapak Danu?" tanya pemuda itu sopan. Usianya sekitar 25 tahun, berpakaian rapi, membawa tas ransel.
Pak Danu menegakkan punggungnya. Ia jarang dikunjungi orang asing. "Iya, saya Danu. Ada perlu apa, Nak?"
Pemuda itu duduk di kursi yang selama ini kosong. Kursi yang selalu ditempati gelas kopi untuk Arman. Pak Danu hampir melarangnya, tapi sesuatu di mata pemuda itu membuatnya diam.
"Pak, nama saya Rizky. Saya... saya anak dari rekan kerja almarhum Mas Arman."
Pak Danu terdiam. Namanya bergetar.
Rizky melanjutkan dengan suara bergetar. "Bapak saya, Pak Heru, adalah orang yang diselamatkan Mas Arman waktu kecelakaan itu. Saya baru tahu cerita lengkapnya minggu lalu. Bapak saya sudah bertahun-tahun mencari alamat Bapak, ingin mengucapkan terima kasih. Tapi beliau baru berani setelah... setelah beliau divonis sakit parah."
Pak Danu tidak berkata apa-apa. Tangannya menggenggam gelas kopi erat-erat.
Rizky mengeluarkan amplop dari tasnya. Amplop itu tebal. "Ini, Pak. Bapak saya titip. Beliau sudah lama menabung untuk ini. Kata beliau, ini bukan ganti rugi — karena nyawa tidak bisa diganti uang. Tapi ini bentuk terima kasih karena Mas Arman telah menyelamatkan beliau. Bapak saya bilang, kalau bukan karena Mas Arman, saya tidak akan pernah ada di dunia ini."
Pak Danu menggeleng. "Bapak tidak butuh uang, Nak. Bapak hanya ingin Arman kembali. Tapi itu sudah tidak mungkin."
Rizky menunduk. Matanya berkaca-kaca. "Pak, kalau boleh saya tahu... kenapa Bapak masih membuat dua gelas kopi setiap pagi?"
Pak Danu menatap jauh ke jalan setapak. Matanya mulai basah. Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun, air mata itu jatuh.
"Karena Bapak berjanji. Dan suatu hari nanti... mungkin di alam yang berbeda... Arman akan pulang dan minum kopi ini. Bapak tidak ingin mengingkari janji."
Rizky tidak bisa menahan tangisnya. Ia memeluk Pak Danu erat-erat. "Pak, mulai hari ini, saya yang akan minum kopi itu. Kalau Bapak mengizinkan, saya ingin jadi anak Bapak di sini. Saya akan temani Bapak setiap pagi."
Pak Danu tersentak. Ia menatap Rizky lama. Wajah pemuda itu — entah kenapa — mengingatkannya pada Arman. Mungkin senyumnya. Mungkin sorot matanya.
"Kamu serius, Nak?"
"Saya serius, Pak. Bapak saya sudah tidak punya waktu lama. Tapi sebelum beliau pergi, beliau berpesan: 'Cari Pak Danu. Jadilah anak untuknya. Karena dia sudah kehilangan anaknya untuk menyelamatkan Bapakmu.'"
Pak Danu tidak bisa berkata-kata. Ia memeluk Rizky, untuk pertama kalinya dalam 10 tahun, ia merasakan kehangatan seorang anak. Bukan Arman. Tapi seseorang yang dikirim oleh Arman — melalui takdir yang rumit dan indah.
—
Keesokan paginya, Pak Danu kembali duduk di teras dengan dua gelas kopi. Tapi kali ini, ia tidak sendirian. Rizky duduk di kursi yang dulu kosong, memegang gelas kopi yang selalu ditujukan untuk Arman.
Rizky menyesap kopi itu. Pahit. Pekat. Tapi hangat.
"Pak, kopinya enak," katanya sambil tersenyum.
Pak Danu tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun, senyumnya tulus. "Itu resep kesukaan Arman. Bapak senang kamu suka."
Mereka duduk bersama, menikmati pagi yang dingin, ditemani suara ayam jantan dan desiran angin sawah. Di langit, matahari mulai terbit, menerangi kabut tipis di atas hamparan padi yang mulai menguning.
Pak Danu menatap langit. Dalam hatinya, ia berbisik, "Le... Bapak tidak sendiri lagi. Kopi ini masih hangat. Dan Bapak... Bapak sudah bahagia."
—
Di dalam kamar, foto Arman tersenyum dari pigura kayu. Mungkin ia tersenyum karena tahu — bahwa cinta seorang ayah, meskipun telah kehilangan, tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu waktu untuk menemukan gelas kopi yang baru. Gelas kopi yang tak pernah habis — karena cinta sejati memang tidak pernah habis.
🌾 Tamat 🌾