Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu. Amir duduk di emperan ruko, menunggu bus kota yang tak kunjung datang. Pakaiannya basah kuyup. Di tangannya, ia memegang amplop cokelat yang sudah lusuh — isinya ijazah SMA dan foto satu-satunya bersama ayahnya.
Amir baru saja diusir dari kontrakan karena tak bisa bayar uang sewa. Ia sudah tiga bulan menganggur setelah pabrik tempatnya bekerja tutup. Usianya baru 18 tahun, tapi hidup sudah terasa begitu berat.
Di kampung halamannya di Wonogiri, ayahnya menunggu dengan sabar. Pak Joko — seorang petani tua dengan kulit legam terbakar matahari — setiap bulan selalu menelepon dari wartel. Pertanyaannya selalu sama: "Kapan pulang, Le?"
Dan jawaban Amir selalu sama: "Belum, Pak. Belum punya uang."
—
Janji Seorang Anak
Amir adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakaknya yang pertama sudah menikah dan tinggal di Lampung. Kakak keduanya bekerja sebagai buruh di Surabaya. Hanya Amir yang menjadi harapan terakhir Pak Joko untuk bisa keluar dari kemiskinan.
"Kamu harus sekolah tinggi," pesan Pak Joko setiap kali melepas Amir ke terminal. "Bapak tidak ingin kamu jadi kuli seperti Bapak. Bapak mau kamu jadi orang."
Amir lulus SMA dengan nilai memuaskan. Ia sebenarnya diterima di Universitas Sebelas Maret jurusan Teknik. Tapi biaya pendaftaran saja sudah membuat Pak Joko menjual dua ekor kambingnya. Untuk biaya hidup dan kos selama kuliah, mereka tidak punya.
Maka dengan berat hati, Amir memutuskan merantau ke Jakarta. "Tiga tahun, Pak. Tiga tahun saya cari uang, lalu saya lanjut kuliah."
Pak Joko hanya tersenyum getir. Beliau tahu, janji seperti itu sering kali hanya menjadi penghibur hati. "Hati-hati di Jakarta, Le. Jangan lupa salat. Jangan lupa sama Bapak."
—
Lika-liku Jakarta
Jakarta ternyata tidak seindah yang dibayangkan Amir. Ia tinggal di kontrakan sempit di Cilincing bersama empat orang kawan sekampung. Luas kamar hanya 3x3 meter, beralaskan tikar butut, dan satu kipas angin yang sudah berkarat.
Pekerjaan pertama Amir adalah kernet angkot. Gajinya 30 ribu sehari. Belum cukup untuk makan tiga kali, apalagi menabung. Setiap bulan, ia tetap mengirimkan uang untuk Pak Joko — meski hanya 50 atau 100 ribu. Ia tak ingin ayahnya kecewa.
Tiga bulan pertama, ia bertahan. Lalu kecelakaan terjadi. Angkot yang dikemudikan temannya menabrak pembatas jalan di tol. Amir selamat, tapi kakinya cedera. Ia dipecat. Sejak itu, pekerjaan datang dan pergi seperti angin.
Ada kalanya ia bekerja sebagai kuli panggul di pasar. Ada kalanya ia menjadi tukang cuci piring di warung pecel lele. Tapi selalu ada alasan untuk berhenti: kontrak habis, tempat tutup, atau gaji tidak dibayar.
Hingga suatu malam, ia duduk di emperan toko dengan amplop cokelat di tangan, tidak tahu ke mana harus melangkah.
—
Telepon dari Kampung
Ponsel Amir berdering. Nomor wartel langganan Pak Joko. Ia mengangkat dengan tangan gemetar.
"Le... Bapak dengar kamu diusir?" suara Pak Joko terdengar parau. Tersekat-sekat.
Amir tidak menjawab. Ia hanya menangis seperti anak kecil yang kehilangan arah.
"Pulang, Le. Bapak tidak perlu uang. Bapak cuma perlu kamu."
"Tapi, Pak... saya malu. Saya tidak punya apa-apa."
"Dengar, Amir." Pak Joko menghela napas panjang. "Bapak ayahmu, bukan majikanmu. Bapak tidak pernah minta kamu kaya. Bapak cuma minta kamu pulang. Sehat. Utuh. Itu cukup."
"Tapi janji saya, Pak..."
"Janji bisa diubah. Yang penting kamu selamat. Ayo pulang."
—
Perjalanan Pulang
Amir pulang keesokan harinya. Naik bus ekonomi yang penuh sesak dengan penumpang. Ia duduk di kursi paling belakang, memeluk tas ransel bututnya yang berisi amplop dan baju kumal.
Perjalanan Jakarta-Wonogiri memakan waktu 14 jam. Sepanjang jalan, Amir terus berpikir: bagaimana reaksi ayahnya? Apakah beliau kecewa? Apakah beliau marah?
Bus tiba di terminal Giri Adipura pukul setengah lima pagi. Udara dingin pegunungan langsung menyergap tubuhnya. Amir menggigil. Langit masih gelap, hanya diterangi lampu temaram terminal.
Dan di sana, di pintu masuk terminal, duduk seorang lelaki tua di atas tikar plastik. Pakaiannya lusuh, sebelah kakinya terbungkus perban kotor. Wajahnya kusut, rambutnya putih semua.
"Pak...?" panggil Amir lirih, hampir tidak percaya.
Pak Joko menegakkan punggungnya dengan susah payah. Wajahnya berusaha tersenyum, tapi matanya sudah basah. Beliau merentangkan tangannya yang kurus dan berkeriput.
"Le... Bapak kangen."
Amir berlari dan memeluk ayahnya. Di tengah terminal yang sepi, di bawah lampu kuning temaram, seorang anak dan ayahnya berpelukan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Pak Joko menangis. Tangis tertahan yang keluar dari relung jiwa paling dalam. "Bapak kangen banget, Le. Setiap malam Bapak nunggu di sini. Takut kalau kamu datang, Bapak tidak ada untuk menjemput."
—
Pengakuan di Perjalanan
Saat naik ojek menuju rumah, Amir melihat kaki ayahnya yang terbungkus perban.
"Kaki Bapak kenapa?" tanyanya cemas.
Pak Joko tersenyum getir. "Sudah sebulan, Le. Waktu Bapak jatuh di sawah. Tulangnya retak."
"Kok tidak ke dokter? Kenapa tidak bilang saya?"
"Bapak tidak mau kamu khawatir. Kamu lagi susah di Jakarta. Bapak tambah beban."
Amir menunduk. Hatinya perih. Ayahnya yang sudah tua dan cedera, masih memikirkan dirinya.
Sampai di rumah, Amir tertegun. Rumahnya semakin reyot. Dinding anyaman bambu sudah bolong di sana-sini. Atap genteng banyak yang bergeser. Halaman penuh rumput liar.
"Kakak-kakak mana, Pak?"
Pak Joko menghela napas. "Mereka sibuk. Punya keluarga masing-masing. Cuma kamu yang Bapak tunggu."
—
Surat di Amplop Cokelat
Sore itu, Amir membereskan kamar ayahnya yang reyot. Ia menemukan tumpukan kertas di dalam kaleng bekas biskuit. Surat-surat. Semua adalah surat yang pernah ia kirimkan untuk Pak Joko sejak merantau. Setiap surat disimpan rapi, dilipat dengan hati-hati, beberapa sudah kuning termakan usia.
Di bawah tumpukan surat, ada sebuah amplop putih. Amplop itu sudah terbuka. Di dalamnya, Amir menemukan selembar surat yang membuat lututnya lemas.
"Kepada Yth. Bapak/Ibu Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Saya, Joko Supriyanto, ayah dari Amir Maulana, dengan ini menyatakan kesanggupan saya untuk membiayai pendidikan anak saya. Sebagai jaminan, saya bersedia menjual sawah satu petak seluas 500 meter persegi yang merupakan satu-satunya aset keluarga kami..."
Amir menatap amplop itu dengan mata berkaca-kaca. Surat itu bertanggal satu tahun yang lalu. Pak Joko sudah siap menjual sawah satu-satunya untuk membiayai kuliah Amir. Tapi Amir tidak pernah tahu karena beliau tidak pernah mengirim surat itu.
Beliau juga tidak pernah menjual sawahnya. Karena menjual sawah berarti kehilangan sumber penghidupan terakhir. Tapi beliau tetap menulis surat itu, sebagai bentuk kesiapan — seandainya anaknya suatu hari benar-benar ingin kuliah.
Amir menggenggam surat itu erat-erat. Ia baru sadar: ayahnya selalu siap berkorban apa pun, bahkan tanpa diminta.
—
Pertemuan dengan Waktu
Malam harinya, Amir dan Pak Joko duduk di teras. Lampu minyak temaram menerangi wajah mereka. Di kejauhan, suara jangkrik bersahutan.
"Pak, kenapa Bapak tidak pernah marah sama saya?" tanya Amir tiba-tiba. "Saya gagal di Jakarta. Saya tidak jadi kuliah. Saya tidak jadi sukses."
Pak Joko mengelus kepala anaknya, seperti dulu saat Amir masih kecil. "Kamu tidak gagal, Le. Kamu baru saja memulai hidup. Yang gagal itu yang berhenti berusaha. Kamu belum berhenti. Kamu hanya lelah."
"Tapi Bapak sudah tua. Saya takut tidak sempat membahagiakan Bapak."
Pak Joko tertawa kecil. Tawanya berubah menjadi batuk-batuk. "Kamu sudah membahagiakan Bapak. Dengan pulang. Dengan masih hidup. Itu cukup."
"Bapak tidak pernah memikirkan diri sendiri?"
"Bapak sudah tua. Bapak tidak butuh apa-apa lagi. Tapi kamu? Kamu masih punya masa depan. Bapak ingin lihat kamu sukses sebelum Bapak pergi."
—
Kejutan Tak Terduga
Seminggu setelah Amir pulang, sebuah mobil berhenti di depan rumah Pak Joko. Keluarlah seorang pria berpakaian rapi — tetua desa yang dulu merantau ke Jakarta dan kini menjadi pengusaha sukses.
"Pak Joko, saya dengar anak Bapak pulang?"
Pak Joko mengangguk. Beliau mempersilakan tamunya duduk di kursi bambu yang sudah reyot.
"Saya ingin menawarkan sesuatu. Perusahaan saya butuh anak muda seperti Amir. Saya sudah bicara dengan kepala desa. Kami siap membiayai kursus teknik mesin untuk Amir selama enam bulan. Setelah itu, ia bisa langsung kerja di bengkel resmi kami dengan gaji pokok 4 juta sebulan."
Amir dan Pak Joko sama-sama terpaku. Tidak percaya. Surga seolah turun ke bumi.
"Tapi... kenapa saya?" tanya Amir bingung.
Pria itu tersenyum. "Karena saya juga dulu anak miskin dari desa ini. Saya dulu hampir menyerah. Tapi ayah saya — almarhum — selalu bilang: 'Jangan pernah tinggalkan desa ini dengan kepala tertunduk. Pulanglah dengan kepala tegak.' Saya lihat kamu punya semangat yang sama."
Pak Joko yang mendengar itu, menunduk. Air mata mengalir membasahi pipi keriputnya. Beliau tidak sanggup berkata-kata.
—
Maaf yang Tertunda
Malam harinya, sebelum tidur, Amir memegang tangan ayahnya. Tangannya kasar, penuh kapalan. Tangan yang bertahun-tahun membanting tulang di sawah.
"Pak, saya minta maaf."
"Maaf untuk apa?"
"Saya sudah membuat Bapak kecewa. Sudah membuat Bapak menunggu sendirian. Saya anak yang durhaka."
Pak Joko menepuk pelan pipi anaknya. "Dengar, Le. Jadi orang tua itu tidak pernah kecewa sama anaknya. Yang ada hanya khawatir. Yang ada hanya rindu. Bapak tidak pernah kecewa. Bapak hanya khawatir kamu lupa jalan pulang."
"Saya tidak akan pernah lupa lagi, Pak. Saya janji."
"Bapak juga janji. Bapak akan jaga kesehatan. Bapak mau lihat kamu jadi orang sukses, punya istri, punya anak. Bapak mau jadi kakek yang bangga sama cucunya."
Mereka berpelukan lagi. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Pak Joko tidur nyenyak tanpa mimpi buruk. Anaknya sudah pulang. Semua baik-baik saja.
—
Dua Tahun Kemudian
Amir lulus kursus teknik mesin dengan predikat terbaik. Ia kini bekerja sebagai kepala teknisi di bengkel resmi. Gajinya sudah 7 juta sebulan. Ia rutin mengirim uang untuk ayahnya, tapi kali ini bukan untuk meringankan beban — melainkan untuk membahagiakan.
Rumah Pak Joko sudah direnovasi. Dinding bambu diganti bata. Atap genteng baru dipasang. Lantai sudah dikeramik. Tapi Pak Joko tetap bersikeras tidur di kamar lamanya. "Bapak sudah nyaman di sini. Ini kamar yang selalu ada kamu kecil di dalam ingatan Bapak."
Setiap akhir pekan, Amir pulang. Mereka duduk di teras, minum kopi hitam bersama. Pak Joko bercerita tentang padi yang mulai menguning. Amir bercerita tentang mesin-mesin yang ia perbaiki. Tidak ada topik istimewa, tapi kebersamaan itu terasa begitu berharga.
Suatu Minggu pagi, Amir pamit hendak kembali ke kota. Pak Joko mengantarnya sampai gerbang.
"Le..."
"Ya, Pak?"
"Bapak bangga sama kamu."
Amir tersenyum. Air mata menggenang di pelupuk matanya. "Saya juga bangga jadi anak Bapak, Pak."
Pak Joko tertawa kecil. Beliau melambaikan tangan sampai bus yang ditumpangi Amir lenyap di tikungan. Di dadanya, ada kehangatan yang tak tergantikan. Anaknya yang dulu pergi dengan kepala tertunduk, kini pulang dengan kepala tegak. Dan ia, seorang ayah tua dari desa, telah menjadi saksi bahwa setiap pengorbanan pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri.
Karena cinta seorang ayah tidak pernah meminta imbalan. Ia hanya berharap anak-anaknya pulang dengan selamat. Dan itu adalah hadiah paling indah yang pernah ada.
🌾 Tamat 🌾