Setiap Bulan Aku Mengirim Uang atas Nama Suamiku — Padahal Suamiku Sudah Lama Tak Bekerja

"Bu, kiriman bulan ini sudah masuk ya?"

Wulan tersenyum ke arah ponselnya, meski di ujung sana Bu Surti tidak bisa melihat senyum itu. Suara di seberang hanya menjawab dingin, "Iya, sudah. Bilang sama Dedi, jangan lupa kirim lagi bulan depan."

Wulan mengangguk, padahal di dalam dadanya ada sesuatu yang perih. Bulan depan, bulan depannya lagi, dan bulan-bulan setelah itu, uang itu tidak akan pernah berasal dari Dedi.

Tiga tahun lalu, Wulan menikah dengan Dedi, laki-laki yang dicintainya sejak SMA. Pernikahan mereka sederhana, hampir tidak ada restu dari pihak ibu Dedi. Bu Surti tidak pernah menyembunyikan ketidaksukaannya pada Wulan.

"Kamu hanya lulusan SMA, kerja di toko kelontong. Anakku sarjana teknik. Apa yang kamu bisa berikan untuk masa depannya?" kalimat itu masih terngiang hingga sekarang.

Wulan tidak pernah membalas. Ia hanya menunduk, menggenggam erat tangan Dedi yang menemaninya di pelaminan. Cukup suaminya yang mencintainya, pikirnya saat itu. Ia tidak perlu disukai oleh semua orang.

Setelah menikah, Dedi mendapat tawaran kerja di Kalimantan. Gaji besar, tapi harus jauh dari keluarga. Wulan merelakan. Baginya, kebahagiaan suami adalah segalanya. Dedi pulang setiap tiga bulan sekali, dan setiap bulan ia selalu mengirim uang untuk ibunya di kampung.

"Titip ya, Wil. Ini buat ibu. Kamu transfer aja atas namaku biar ibu senang."

Wulan selalu melakukannya dengan senang hati. Ia pergi ke ATM setiap tanggal 20, mentransfer sejumlah uang ke rekening Bu Surti, lalu mengirim pesan singkat: "Bu, ini Dedi. Kiriman bulan ini sudah masuk."

Bu Surti tidak pernah membalas. Tapi Wulan tidak peduli. Ia melakukan ini untuk Dedi, untuk suaminya, untuk orang yang dicintainya.

Sampai pada suatu malam di bulan ketujuh, Dedi menelepon dengan suara yang berbeda.

"Wil, maaf... aku kena PHK. Perusahaan tambangnya tutup."

Wulan terdiam. Ia bisa merasakan kepanikan di balik suara suaminya yang berusaha tenang.

"Gapapa, Mas. Istirahat dulu. Nanti cari kerja lagi," katanya selembut mungkin.

Tapi kenyataannya tidak semudah itu. Bulan berganti, Dedi belum juga mendapat pekerjaan baru. Tabungan mereka menipis. Wulan tahu, suaminya sudah mencoba melamar ke mana-mana, tapi persaingan di kota besar sangat ketat.

Dan setiap tanggal 20, Bu Surti selalu mengirim pesan singkat: "Dedi, kiriman bulan ini belum masuk."

Wulan memandang ponselnya. Tanggal 19. Besok adalah tanggal 20. Dan tabungan mereka tinggal cukup untuk makan dua minggu ke depan.

Malam itu, Wulan tidak bisa tidur. Ia memandangi langit-langit kamar kos mereka yang sempit. Di sampingnya, Dedi tidur gelisah. Bahkan dalam tidurnya pun, suaminya tampak lelah.

Dan di pagi harinya, Wulan mengambil keputusan.

"Mas, aku yang kirim uang ke ibu bulan ini. Atas nama Mas."

Dedi menggeleng. "Jangan, Wil. Itu uang belanja kamu."

"Aku bisa atur, Mas. Percaya sama aku."

Wulan menarik uang dari tabungan pribadinya — uang yang seharusnya ia gunakan untuk membeli baju baru, untuk jajan sesekali, untuk menyenangkan dirinya sendiri. Uang yang ia kumpulkan dari gaji kecilnya sebagai karyawan toko.

Ia pergi ke ATM, mentransfer uang itu ke rekening Bu Surti. Lalu mengirim pesan seperti biasa: "Bu, ini Dedi. Kiriman bulan ini sudah masuk."

Tidak ada siapa pun yang tahu.

Bulan berikutnya, Wulan mulai bekerja lembur. Ia meminta tambahan jam kerja di toko tempatnya bekerja. Pemilik toko, Bu Merry, heran karena Wulan biasanya selalu pulang tepat waktu.

"Kamu butuh uang tambahan, Nduk?" tanya Bu Merry suatu hari.

"Sedikit, Bu. Untuk keluarga," jawab Wulan dengan senyum tipis.

Bu Merry mengangguk pengertian. "Kalau begitu, kamu bantu aku juga jaga toko di hari Minggu. Insentifnya lumayan."

Wulan mengangguk bersyukur.

Hari Minggu yang seharusnya menjadi hari istirahat, kini menjadi hari kerja tambahan bagi Wulan. Ia juga mulai menerima jahitan dari tetangga — keterampilan yang ia pelajari dari ibunya semasa kecil. Setiap malam, setelah pulang kerja, ia duduk di mesin jahit kecilnya, membuat baju dan celana dengan upah seadanya.

Tubuhnya lelah. Matanya sering perih karena kurang tidur. Tapi setiap kali ia akan menyerah, ia teringat pada Dedi, pada suaminya yang sedang berjuang mencari kerja, dan pada Bu Surti yang tidak tahu apa-apa.

"Yang penting, Bu Surti tetap tenang. Tidak perlu tahu kalau anaknya sedang susah," gumam Wulan pada dirinya sendiri.

Ia tidak ingin ibu mertuanya khawatir. Ia tidak ingin menjadi alasan mengapa Bu Surti semakin tidak menyukainya. Meski di hatinya ada perih yang tak pernah ia akui, Wulan tetap ingin menjadi menantu yang baik.

Bulan-bulan berlalu. Dedi akhirnya mendapat pekerjaan baru, tapi gajinya belum cukup untuk mengirim uang ke ibunya seperti dulu. Wulan tetap melanjutkan kiriman atas nama Dedi, tanpa pernah memberitahu suaminya bahwa uang itu berasal dari keringatnya sendiri.

Sampai suatu hari, Bu Surti jatuh sakit. Demam tinggi yang tak kunjung reda. Wulan mendapat kabar dari tetangga kampung dan segera memutuskan untuk pulang.

"Aku yang jaga Bu Surti, Mas. Kamu tenang kerja," katanya pada Dedi.

Tiga hari tiga malam Wulan merawat Bu Surti di rumah sakit kecil di kecamatan. Ia mengganti handuk kompres, menyuapi, menemani buang air kecil, dan duduk di kursi kayu sempit semalaman.

Bu Surti demam tinggi, setengah sadar, dan kadang menggigau. Dalam tidurnya yang tidak nyenyak, ia memanggil-manggil nama Dedi. "Dedi... nak, kamu di mana..."

Wulan menggenggam tangan Bu Surti. "Saya di sini, Bu. Wulan."

Bu Surti membuka mata setengah sadar. Untuk pertama kalinya, ia memandang Wulan bukan dengan kebencian. "Kamu... kamu jaga ibu?"

"Iya, Bu. Istirahat saja."

Bu Surti menangis. Bukan tangis histeris, tapi tangis lirih yang keluar dari dalam dadanya yang sesak. Ia teringat selama ini ia selalu dingin pada Wulan, selalu menyindir, selalu membenci tanpa alasan yang jelas.

Keesokan harinya, saat demam Bu Surti mulai turun dan kesadarannya kembali penuh, Wulan sedang merapikan tas di pojok ruangan. Sebuah buku catatan kecil jatuh dari dalam tasnya.

Bu Surti memungutnya. Halaman pertama penuh angka dan catatan kecil.

"Bulan ke-1 - 500.000 (transfer)" "Bulan ke-2 - 500.000 (lembur + jahitan)" "Bulan ke-3 - 500.000 (jaga toko Minggu)" "Bulan ke-4 - 500.000..."

Bu Surti membaca terus. Sampai pada halaman paling belakang, ada catatan yang ditulis dengan huruf kecil-kecil:

"Semoga Bu Surti cepat sembuh. Aku ingin beliau tahu bahwa aku tidak pernah dendam. Aku hanya ingin menjadi bagian dari keluarganya."

"Nduk..." suara Bu Surti bergetar.

Wulan menoleh. Wajahnya pucat saat melihat buku catatan itu di tangan Bu Surti.

"Bu, itu... itu bukan..."

"Kamu selama ini yang kirim uang? Bukan Dedi?"

Wulan terdiam. Air matanya mengalir tanpa bisa dibendung. Ia tidak bisa berbohong lagi.

"Saya... saya hanya ingin Ibu tenang. Mas Dedi... beliau tidak mau Ibu khawatir."

Bu Surti terisak. Ia memeluk Wulan dengan erat, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan mereka.

"Maafkan Ibu, Nduk... Maafkan Ibu yang selama ini buta. Ibu tidak tahu bahwa menantu yang Ibu benci ternyata... ternyata lebih tulus dari siapa pun."

Wulan menangis di pelukan ibu mertuanya. Tangis yang tidak bisa lagi ia tahan. Tangis seorang perempuan yang selama ini berjuang sendirian, tanpa pujian, tanpa terima kasih, tanpa kasih sayang.

"Ibu minta maaf, Nduk."

"Tidak apa, Bu. Tidak apa-apa."

Sore itu, di rumah sakit kecil yang temboknya mulai mengelupas, terjadi rekonsiliasi yang tidak pernah direncanakan. Seorang ibu mertua yang selama ini keras, akhirnya menyerah di hadapan ketulusan seorang menantu yang tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan.

Dua minggu kemudian, Dedi pulang kampung untuk menjenguk ibunya. Ia terkejut melihat ibunya tersenyum hangat — sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya saat Wulan ada di dekatnya.

"Mas, ibu sudah tahu semuanya," bisik Wulan saat Dedi masuk ke dapur.

Dedi menatapnya lama. "Kamu kirim uang untuk ibu selama aku PHK?"

Wulan mengangguk malu.

Dedi memeluk istrinya. "Maaf, Wil. Aku suami yang tidak becus. Kamu berjuang sendiri."

"Kita berjuang bersama, Mas. Itu yang penting."

Sejak hari itu, Bu Surti berubah total. Ia tidak pernah lagi menyindir Wulan. Setiap minggu ia menelepon, menanyakan kabar, mengirim sayuran dan lauk pauk dari kampung. Hubungan ibu dan menantu yang dulu renggang, kini hangat seperti ibu dan anak kandung.

Bagi Wulan, semua kelelahan, semua air mata, semua malam-malam panjang yang ia lewati sendirian — semuanya terbayar lunas saat Bu Surti memanggilnya dengan panggilan yang selama ini ia rindukan.

"Nak, kapan kamu pulang? Ibu masak sayur asem kesukaanmu."

Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar selain diterima sepenuh hati oleh keluarga yang kita cintai. Dan Wulan tahu, perjuangannya selama ini tidak sia-sia. Cinta dan ketulusan, pada akhirnya, selalu menemukan jalannya.

We use cookies to improve your experience. By continuing to visit this site you agree to our use of cookies.

× Full Preview